Senin, 15 Oktober 2012
Kamis, 11 Oktober 2012
Rabu, 10 Oktober 2012
Musicology Graduation [minus Arum]
Dinda dan mas Hans, guru drum
Mbak Bhumi, additional player...
Dinda dan mas Diko, guru piano
paling kanan itu mas Fian, guru gitar...
Musicology Graduation @Royal Plaza Surabaya, 9 Sept 2012
Sabtu, 06 Oktober 2012
Kumpulan Foto...
Nonton konser musik klasik di SMA Ciputra.
Lunch dalam berbagai kesempatan. Lihat, Dinda makannya dua porsi. Papa minumnya tiga gelas. Arum seleranya tetep dari dulu; Hokkian Cuisine. Mama yang paling ancur; nasgor ikan asin..wkwkwk...
Mama dan teman-teman di YLPI Al Hikmah
Dinda, pulang sekolah...
Mama dalam berbagai kesempatan...
...
Jumat, 05 Oktober 2012
Sebuah 'Sentilan' Kecil
...
Suatu ketika ada seseorang yang mengatakan padaku, betapa aku adalah orang yang sangat angin-anginan. Kalau anginnya sepoi-sepoi, aku bisa sangat enak #lha mosok aku makanan...dibilang enak!
Tapi kalau anginnya sedang ribut, aku bisa marah-marah. DHUEENG !!! #kepalaku langsung terasa nyut-nyut...
...
To be honest, hal tersulit dalam hidup adalah menyadari keburukan dan kekurangan diri sendiri. Kadang, kalau sedang jernih, aku merasa juga kok kalau aku ini banyaaak sekali kekurangannya. Ada yang nyata, tapi ada juga yang samar-samar.
Soal yang satu itu...hehehe...soal marah-marah maksudnya, sepertinya aku perlu mengklarifikasi. Apa yang menurut pandangan orang adalah marah, buat aku sebenarnya lebih pada tegas dan tanpa kompromi. Kalau aku tidak setuju lalu diam, orang mengartikan aku marah. Padahal itu lebih baik daripada aku mengutarakan alasan ketidak setujuanku lengkap dengan argumennya, dan mungkin itu justru akan memperpanjang konflik. Dalam situasi seperti ini; diam lebih baik daripada perang mulut.
Adakalanya juga aku terpaksa harus melayani debat kusir, hanya demi memperoleh secuil kesepakatan. Aku bilang terpaksa, karena ini sama sekali bukan kemauanku. Misalnya tentang hal-hal prinsip dalam pekerjaan, aku sering beradu argumen dengan MD, dan ini memang harus kami lakukan agar kaki-kaki kami dapat melangkah seiring sejalan. Kadang-kadang pembicaraan berlangsung santai, pada awalnya. Tapi pada titik tertentu bisa sangat sengit dan alot, penuh emosi, karena masing-masing pihak merasa pendapatnya paling benar.
Pfffuuuhh...lalu salahnya dimana ??
Apa aku harus menerima saja apapun yang terjadi ? Apa aku harus setuju saja apapun pendapat orang ? Apa protes itu tabu meskipun aku tahu sesuatu itu salah ? Apa menunjukkan emosi itu dosa ? Apa aku harus pura-pura setuju untuk menyenangkan orang lain ?...
Lho..lho..sebentar ta, aku bukan marah ini. Aku cuma bertanya, dan itu tidak kutujukan pada siapa-siapa tapi lebih kepada diriku sendiri.
Aku dibilang high tempert, ok..itu menjadi semacam kritik, dan aku berterima kasih untuk siapapun yang sudah menyampaikan ini padaku #haloo..kritiknya diterima sayang..
Kedepan, aku berharap bisa memperbaiki diri menjadi lebih baik, lebih baik, dan lebih baik lagi. InsyaAllah...
---
Suatu ketika ada seseorang yang mengatakan padaku, betapa aku adalah orang yang sangat angin-anginan. Kalau anginnya sepoi-sepoi, aku bisa sangat enak #lha mosok aku makanan...dibilang enak!
Tapi kalau anginnya sedang ribut, aku bisa marah-marah. DHUEENG !!! #kepalaku langsung terasa nyut-nyut...
...
To be honest, hal tersulit dalam hidup adalah menyadari keburukan dan kekurangan diri sendiri. Kadang, kalau sedang jernih, aku merasa juga kok kalau aku ini banyaaak sekali kekurangannya. Ada yang nyata, tapi ada juga yang samar-samar.
Soal yang satu itu...hehehe...soal marah-marah maksudnya, sepertinya aku perlu mengklarifikasi. Apa yang menurut pandangan orang adalah marah, buat aku sebenarnya lebih pada tegas dan tanpa kompromi. Kalau aku tidak setuju lalu diam, orang mengartikan aku marah. Padahal itu lebih baik daripada aku mengutarakan alasan ketidak setujuanku lengkap dengan argumennya, dan mungkin itu justru akan memperpanjang konflik. Dalam situasi seperti ini; diam lebih baik daripada perang mulut.
Adakalanya juga aku terpaksa harus melayani debat kusir, hanya demi memperoleh secuil kesepakatan. Aku bilang terpaksa, karena ini sama sekali bukan kemauanku. Misalnya tentang hal-hal prinsip dalam pekerjaan, aku sering beradu argumen dengan MD, dan ini memang harus kami lakukan agar kaki-kaki kami dapat melangkah seiring sejalan. Kadang-kadang pembicaraan berlangsung santai, pada awalnya. Tapi pada titik tertentu bisa sangat sengit dan alot, penuh emosi, karena masing-masing pihak merasa pendapatnya paling benar.
Pfffuuuhh...lalu salahnya dimana ??
Apa aku harus menerima saja apapun yang terjadi ? Apa aku harus setuju saja apapun pendapat orang ? Apa protes itu tabu meskipun aku tahu sesuatu itu salah ? Apa menunjukkan emosi itu dosa ? Apa aku harus pura-pura setuju untuk menyenangkan orang lain ?...
Lho..lho..sebentar ta, aku bukan marah ini. Aku cuma bertanya, dan itu tidak kutujukan pada siapa-siapa tapi lebih kepada diriku sendiri.
Aku dibilang high tempert, ok..itu menjadi semacam kritik, dan aku berterima kasih untuk siapapun yang sudah menyampaikan ini padaku #haloo..kritiknya diterima sayang..
Kedepan, aku berharap bisa memperbaiki diri menjadi lebih baik, lebih baik, dan lebih baik lagi. InsyaAllah...
---
Jumat, 28 September 2012
Diobok-obok Airnya Diobok-obok...
Itu adalah penggalan syair lagu anak-anak kesukaan Arum, dulu waktu masih balita. Joshua, penyanyinya yang arek Suroboyo, mendendangkannya dengan sangat fasih dan medhok, khas logat Jawa Timuran.
Secara tidak sengaja aku menemukan foto ini barusan, dan teringat saat kami sekeluarga hang out di Galaxy Mall, berjumpa dengan Joshua dan gerombolannya yang sedang melakukan aktifitas serupa.
---
...diobok-obok airnya diobok-obok
ada ikannya kecil-kecil pada mabok...
Mmm...mau dengar cerita nggak ?...--dengarkan curhatku..--
Di halaman belakang rumahku ada sebuah kolam koi yang tidak terlalu besar. Ukurannya hanya 2 x 1.5 meter saja, dengan kedalaman 1 meter lebih sedikit. Kolam ini dibuat lima tahun yang lalu oleh Mas Arif, sepupu jauh dari pihak bapak. Sampai sekarang kolam ini masih terawat, dan menampung koi-koi lokal koleksi MD yang dipelihara sejak kecil sampai berukuran sekitar 20 senti.
Ngomong-ngomong soal kolam, aku sering bete karena MD sudah menghabiskan banyak waktu dan tenaga untuk kolam yang menurutku tidak bagus-bagus amat ini. Tahu sendiri kan, filterasi untuk kolam koi tidak bisa sembarangan. Airnya harus betul-betul jernih dan aerasinya bagus. Pokoknya njelimet deh..
Karena diatas dan disekitar kolam itu adalah zona anggrekku, maka mau tidak mau aku juga sering nongkrong disitu. Hehehe...mungkin MD merasa asyik kalau bisa melototi koi-koinya ya...sama seperti aku yang merasa sangat damai kalau berada diantara anggrek-anggrekku.
Kadang, aku tergoda juga untuk ikut melongok ke dalam kolam, sekedar ingin melihat dimana keasyikan memelihara koi. Tapi yang terjadi adalah --seperti biasa-- khayalanku melayang kemana-mana.
---
Kolam ikan dan segala yang ada di dalamnya, persis seperti kehidupan kita. Apa yang terjadi pada ikan-ikan jika airnya diobok-obok, persis sama dengan yang terjadi pada kita, saat kita diguncang masalah dan cobaan.
Saat airnya keruh, bayangkan betapa sesak nafas kita karena tidak ada oksigen dan kita tidak dapat melihat sekeliling. Kita jadi sulit mencari langkah terbaik untuk keluar dari masalah.
Tapi tunggulah beberapa saat. Ketika airnya sudah tenang, semua kotoran mengendap dan air jernih kembali, lihatlah bagaimana ikan-ikan itu kembali berenang dengan lincah dan leluasa.
Persis seperti kita, kan ?!
Saat menghadapi masalah biasanya aku gedubrakan, uring-uringan, dan maunya menelan orang aja. Padahal sebenarnya aku sadar, dalam kondisi begini aku justru sulit berpikir dan berfokus. Masalahpun biasanya tidak menemukan jalan keluar.
Sampai seseorang mengingatkan, bahwa ini bukan cara yang betul, dan aku harus memperbaiki diri. Tenang, tenang, dan tenang. Lalu jalan keluar untuk masalahku tiba-tiba muncul di depan mata. Persis sama dengan air kolam yang kembali jernih, dan kita bisa melihat isi di dalamnya sampai ke dasarnya.
---
Terima kasih untuk yang sudah sering mengingatkan aku...
Secara tidak sengaja aku menemukan foto ini barusan, dan teringat saat kami sekeluarga hang out di Galaxy Mall, berjumpa dengan Joshua dan gerombolannya yang sedang melakukan aktifitas serupa.
---
...diobok-obok airnya diobok-obok
ada ikannya kecil-kecil pada mabok...
Mmm...mau dengar cerita nggak ?...--dengarkan curhatku..--
Di halaman belakang rumahku ada sebuah kolam koi yang tidak terlalu besar. Ukurannya hanya 2 x 1.5 meter saja, dengan kedalaman 1 meter lebih sedikit. Kolam ini dibuat lima tahun yang lalu oleh Mas Arif, sepupu jauh dari pihak bapak. Sampai sekarang kolam ini masih terawat, dan menampung koi-koi lokal koleksi MD yang dipelihara sejak kecil sampai berukuran sekitar 20 senti.
Ngomong-ngomong soal kolam, aku sering bete karena MD sudah menghabiskan banyak waktu dan tenaga untuk kolam yang menurutku tidak bagus-bagus amat ini. Tahu sendiri kan, filterasi untuk kolam koi tidak bisa sembarangan. Airnya harus betul-betul jernih dan aerasinya bagus. Pokoknya njelimet deh..
Karena diatas dan disekitar kolam itu adalah zona anggrekku, maka mau tidak mau aku juga sering nongkrong disitu. Hehehe...mungkin MD merasa asyik kalau bisa melototi koi-koinya ya...sama seperti aku yang merasa sangat damai kalau berada diantara anggrek-anggrekku.
Kadang, aku tergoda juga untuk ikut melongok ke dalam kolam, sekedar ingin melihat dimana keasyikan memelihara koi. Tapi yang terjadi adalah --seperti biasa-- khayalanku melayang kemana-mana.
---
Kolam ikan dan segala yang ada di dalamnya, persis seperti kehidupan kita. Apa yang terjadi pada ikan-ikan jika airnya diobok-obok, persis sama dengan yang terjadi pada kita, saat kita diguncang masalah dan cobaan.
Saat airnya keruh, bayangkan betapa sesak nafas kita karena tidak ada oksigen dan kita tidak dapat melihat sekeliling. Kita jadi sulit mencari langkah terbaik untuk keluar dari masalah.
Tapi tunggulah beberapa saat. Ketika airnya sudah tenang, semua kotoran mengendap dan air jernih kembali, lihatlah bagaimana ikan-ikan itu kembali berenang dengan lincah dan leluasa.
Persis seperti kita, kan ?!
Saat menghadapi masalah biasanya aku gedubrakan, uring-uringan, dan maunya menelan orang aja. Padahal sebenarnya aku sadar, dalam kondisi begini aku justru sulit berpikir dan berfokus. Masalahpun biasanya tidak menemukan jalan keluar.
Sampai seseorang mengingatkan, bahwa ini bukan cara yang betul, dan aku harus memperbaiki diri. Tenang, tenang, dan tenang. Lalu jalan keluar untuk masalahku tiba-tiba muncul di depan mata. Persis sama dengan air kolam yang kembali jernih, dan kita bisa melihat isi di dalamnya sampai ke dasarnya.
---
Terima kasih untuk yang sudah sering mengingatkan aku...
Langganan:
Postingan (Atom)