Jumat, 11 November 2011

Hujan...Hujan...

....
datanglah kekasih biarpun hari hujan
cinta kan mengiringimu 
dengan kehangatan
bawa saja seluruh kerinduanmu
kita satukan di dalam dekapan

langkahkan kakimu sepenuh irama
biarkan jejakmu 
membekas di jalan
buka saja mantelmu basahkan tubuhmu
hujan pun tahu kita bertemu...
....


Barisan frase diatas adalah lirik lagu yang dinyanyikan 'Franky and Jane' dan sempat ngetop banget di era 80an. Aku tidak tahu judulnya, tetapi nuansanya sangat terasa. Waktu lagu ini sering diputar di radio-radio, aku masih SD. Meski begitu kalau mendengar lagu ini aku langsung membayangkan kejadian-kejadian romantis dan indah :))

Saat ini pun, aku masih suka terbayang beberapa kejadian yang berhubungan dengan hujan. Waktu masih SMP dan bapak belum mengijinkan aku naik motor, aku pergi kemana-mana naik sepeda angin. Termasuk pergi les Bahasa Inggris pada seorang profesor bahasa di kampus IKIP Ketintang. Keluarga Pak Wayan ini semuanya berprofesi sebagai pengajar Bahasa Inggris. Aku sendiri dibimbing langsung oleh Bu Wayan, seorang lektor senior di fakultas bahasa, secara private. Kalau musim hujan dan pas harinya aku les rasanya malas sekali berangkat. Bukan karena hujannya, tapi lebih ke tempat lesnya yang semi terbuka di tengah taman bunga di halaman depan rumah Bu Wayan. Kalau lagi deras-derasnya, air bisa menghambur masuk dan membasahi semua buku-buku les kami. O ya, aku selalu bersamaan hari dengan dua teman lain. Kalau sudah begini buyar deh lesnya. Kami cuma ngobrol-ngobrol sambil memandang hujan...he..he..he..( jadi ingat Ratih dan Ramadian :) ) Pulangnya aku masih harus mengayuh sepeda menembus hujan dan menempuh jarak yang lumayan jauh. Sungguh pengalaman yang sangat berkesan...

Saat aku kelas 1 SMA, kenangan tentang hujan yang paling membekas adalah ketika aku ikut festival teater antar pelajar. Dari rumah salah seorang senior, aku dan rombongan berangkat ke tempat lomba dalam kondisi 'full make up'. Karena jaraknya tidak terlalu jauh kami memutuskan berangkat ramai-ramai berboncengan motor. Tanpa diduga mendadak turun hujan sangat deras, seperti ditumpahkan dari langit. Akibatnya kostum panggung kami basah kuyup, dan muka belepotan karena make up yang tebal luntur tersapu air hujan. Ck..ck..ck.. Kenangan manisnya adalah kami jadi juara 1 untuk kategori cerita rakyat ( kategori ini hanya diikuti satu grup, yaitu grup teater SMAN 6...yo mesti ae menang :)))

Yang paling heboh, ini nih; terjebak badai hujan bersamaan waktunya dengan terjadinya tsunami. Pagi itu aku, Mas Dony, dan dua putri kami sedang dalam perjalanan menuju kolam renang. Rupanya Arum kecil lupa membawa baju renang ( lha tasnya isi apa lo, sayang ? ). Akhirnya kami putar-putar mencari baby shop yang buka paling pagi untuk membeli baju renang. Di tengah jalan mendadak hujan turun dengan sangat deras. Cuaca yang tadinya cerah seketika berubah gelap.
Aku ingat, mobil kami terayun-ayun dihempas angin. Saking derasnya curah hujan, jarak pandang hanya sekitar dua meter saja. Mas Dony mencondongkan badannya menempel setir untuk mempertajam penglihatan. Situasi ini sempat membuat nyaliku ciut. Bagaimana tidak, kami memakai sedan yang di dalamnya ada dua putri kecil kami. Aku tidak berani membayangkan apa yang terjadi seandainya saat itu angin kencang berubah menjadi twister, seperti yang sering aku lihat di film-film. Keesokan harinya di koran muncul berita tentang tsunami di Aceh yang begitu dahsyat. Jam dan tanggal kejadiannya sama persis ketika  aku mengalami badai hujan di Surabaya. Aku merinding, sambil tak henti mengucap syukur dalam hati.

Sekarang, musim hujan adalah saat yang paling kutunggu-tunggu. Udara di luar jadi dingin dan basah. Terlebih lagi, dan ini yang paling penting, koleksi anggrek di halaman dan yang menempel di pohon jadi segar, hijau dan gemuk. Indah sekali.

Note: ada kejadian hujan 'salah musim' yang berkesan. Terjadi pada musim kemarau, malam hari, ketika paginya aku menjalani prosesi akad nikah. Apakah ini pertanda bahwa kehidupan pernikahan kami selalu berlimpah berkah, seperti hujan yang membawa berkah bagi makhluk bumi ? Semoga...
Satu lagi; turun hujan lebat di pagi hari persis saat malamnya bapak berpulang. Berminggu sebelum dan sesudahnya hujan tidak lagi turun. Sungguh aneh...







Sabtu, 05 November 2011

Sampai Maut Memisahkan ( the end )

Melanjutkan renungan kemarin tentang cinta sebatas usia, cinta yang hanya sampai maut memisahkan, aku ingin berandai-andai seumpama kita mempunyai dua cinta pada saat yang bersamaan. Yup...ini tentang para laki-laki perkasa yang mengarungi bahtera rumah tangga dengan dua atau lebih pendamping. Poligami, bagi sebagian orang adalah sesuatu yang mengerikan, termasuk bagi aku sendiri.
Lalu apa hubungannya ? Pikiran ngawurku mengatakan bahwa pelaku poligami tidak ingin terjebak dalam situasi kehilangan pendamping yang berakibat roda kehidupan berjalan tersendat. Karena itu mereka merasa perlu punya 'ban serep' kalau-kalau suatu saat ditinggal berpulang oleh pasangan.
That's good idea ! Kalau mau adil seharusnya perempuan boleh juga dong berjaga-jaga. Daripada suatu saat kelimpungan bertahan hidup karena suami mendadak pergi, lebih baik kan menyiapkan 'baterei cadangan'.
Naudzubillah...:))

Jumat, 04 November 2011

Sampai Maut Memisahkan ( part 2 )

Kisah cinta model 'sampai  maut memisahkan' ini ternyata banyak makan korban. Ketika hidup masih indah karena pasangan masih ada di sisi, semua baik-baik saja. Sampai suatu ketika salah satu pasangan dipanggil menghadapNya. Saat itulah cinta diuji. Kesetiaan berubah wujud ke dalam dimensi yang berbeda-beda, tergantung posisi dan kondisi.

Kalau yang ditinggal adalah suami, terlebih masih dalam usia produktif, maka inilah yang terjadi: ia akan segera mencari pendamping baru. Dengan alasan bahwa laki-laki selalu butuh seorang perempuan untuk mendukungnya  menjalani kerasnya kehidupan. Sebagai kepala rumah tangga, laki-laki harus tetap 'hidup' dan berjuang, membesarkan anak-anak dan meraih impiannya sendiri. Cinta kepada mendiang istri menjadi kenangan yang tersimpan dalam memori, entah di bagian yang mana. Sampai kapan memori itu bertahan, tidak seorangpun tahu bahkan si suami sendiri. Kalau sudah begini, bicara kesetiaan ? rasanya terlalu muluk.

Sekarang kalau yang ditinggal adalah istri, dalam usia produktif, ada dua kemungkinan: ia akan mencari suami baru, atau dengan gagah berani melanjutkan hidup bersama anak-anak, meski dalam kondisi terseok-seok. Kendala finansial lebih sering menjadi alasan utama seorang perempuan menikah lagi sepeninggal suaminya. Dalam banyak kejadian, dan aku menyaksikannya sendiri, banyak perempuan yang tetap gigih dalam kesendiriannya tanpa suami. Tidak terpikir untuk menikah lagi meski usia masih memungkinkan untuk itu. Tidak sedikitpun terlintas mencari sosok laki-laki sebagai pengganti suaminya.

Tanpa bermaksud mengecilkan arti kesetiaan laki-laki, fakta membuktikan lebih banyak perempuan yang berhasil menjaga kesetiaannya dibandingkan laki-laki. Para perempuan hebat ini lebih memilih untuk mengenang mendiang suaminya saat sepi menggigit. Menjadikan kewajiban menghidupi dan membesarkan anak-anak sebagai tugas yang diwariskan almarhum suaminya, tanpa sedikitpun berniat membagi tugas itu dengan laki-laki lain.

Sampai maut memisahkan...sungguh ungkapan cinta yang membuat aku miris. Karena menurutku cinta itu tidak dapat dipisahkan oleh apapun, bahkan oleh maut. Karena cinta adalah anugerah terindah dariNya  yang kehadirannya tidak dapat diminta atau ditolak. Cinta hanya bisa dipisahkan oleh pemiliknya sendiri. Ketika tidak ada cinta lagi di hati, segala bentuk perpisahan menjadi sangat mudah.
Maka, dalam hati kecilku aku berjanji; aku akan mencintai suami seperti aku mencintai diri sendiri. Aku tidak ingin disakiti, maka aku tidak akan menyakitinya. Aku tidak ingin diduakan, maka aku bersumpah tidak akan menduakannya. Aku ingin ditempatkan pada posisi paling istimewa di hatinya, maka diapun mendapat tempat paling indah di hatiku.
Hanya itu. Sesederhana itu. Biar dipisahkan oleh mautpun, selama aku masih menyayangi diri sendiri, aku akan tetap menyayangi suami.

Sampai Maut Memisahkan ( part 1 )

       Beberapa hari lalu Mas Dony cerita; seorang kerabat yang baru 100 hari ditinggal istrinya berpulang, berniat untuk menikah lagi. Si bapak yang sudah tidak muda lagi ini usianya 70 tahun lebih. Semua putra putrinya sudah mentas, sudah berkeluarga dan hidup mapan. Mereka tinggal tersebar di kota lain.
       Bapak S, sebut saja begitu, mengaku betapa beliau merasa sangat kesepian setelah kepergian istrinya. Terutama karena harus tinggal sendiri di rumah keluarga yang lumayan besar. Meskipun disamping rumah tinggal putri bungsu dan keluarganya, tapi si anak sudah sibuk dengan urusannya sendiri.Bapak S ingin punya teman sekedar untuk ngobrol, berbagi cerita, dan mendapat perhatian yang selama ini didapatkan dari almarhum istrinya.
       Mendengar cerita ini tiba-tiba aku merasa sedih. Otakku langsung membayangkan seandainya aku ada di posisi si istri yang berpulang lebih dulu. Tidak terbayang betapa remuk perasaanku ketika tahu bahwa begitu mudah aku dilupakan, dianggap sudah tidak ada -meski memang begitu kenyataannya- dan posisiku digantikan oleh orang lain.
       Aku hanya bertanya-tanya; apakah tidak ada artinya kehidupan berrumah tangga selama puluhan tahun. Berbagi tawa dan air mata selama lebih dari 2/3 usia. Semudah itukah kenangan indah selama ini, terhapus hanya karena salah satu sudah tidak berada di sisi ? Semudah itukah ??
       Hidup memang tidak selalu indah dan sempurna. Ada fase-fase yang mesti dilalui dan dijalani dengan keikhlasan dan kelapangan hati. Saat awal-awal pernikahan adalah masa penyesuaian, penyatuan dua hati dan bahkan mungkin 'pertarungan' untuk menemukan irama paling tepat untuk melangkah bersama. Seiring berjalannya waktu, antara suami dan istri semakin menemukan  banyak hal yang membuat mereka selalu ingin bersama. Yang satu menjadi nafas bagi yang lain, dan inilah mungkin yang dinamakan belahan jiwa.
       Ketika tiba masanya salah satu harus berpulang menghadapNya, alangkah bijaksana jika ini dimaknai sebagai salah satu fase yang juga harus dilalui dengan ikhlas. Bahwa hidup sudah tidak sesempurna dan seindah dulu, bahwa rasa sepi terasa begitu menggigit, adalah bukti betapa dulu kita pernah punya seseorang yang membuat segalanya menjadi indah. Ada seseorang yang membuat malam malam menjadi terasa damai. Ada 'belahan jiwa' yang selalu menyediakan diri dan hatinya untuk kita.
       Dengan dalih apapun, menurutku, sangat tidak bisa diterima menggantikan posisi suami atau istri dengan orang lain. Terlebih di usia sesenja Bapak S yang menurut hematku sudah tidak perlu lagi berjibaku memperjuangkan hidup, karena toh tugas membesarkan anak-anak sudah selesai. Bapak S sudah tinggal menikmati masa tua, menyaksikan cucu-cucu tumbuh besar dan 'menunggu waktu' untuk kembali bertemu dengan istri tercinta.
       Mencari pendamping, meski hanya sebagai teman mengisi hari tua, mengisyaratkan bahwa Bapak S enggan menerima kenyataan bahwa hidup memang sudah tidak sama seperti dulu lagi. Tidak adanya istri di sisi yang membuat hidup terasa hampa dan sepi, seharusnya lebih mengukuhkan rasa cinta pada almarhumah dan terkenang akan pengabdiannya pada suami selama ini. Bukan malah mencari orang lain sebagai ganti agar tetap ada yang melayani, tetap ada yang mengisi kesepian, tetap ada yang mengurus.
Ah, si bapak berwajah teduh...keinginanmu mencari pendamping lagi, membuat rasa simpatiku seketika anjlok. Sayang sekali...:( 


Sabtu, 29 Oktober 2011

All About Love...( sebuah cuplikan )

Sajak Kecil Tentang Cinta

mencintai angin harus menjadi siuuut...
mencintai air harus menjadi ricik
mencintai gunung harus menjadi terjal
mencintai api harus menjadi jilat
mencintai cakrawala harus menebas jarak
mencintaimu harus menjadi aku
........


Aku Ingin

aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

aku ingin mencintaimu dengan sederhana 
dengan isyarat yang tak  sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
.......



Sabtu, 22 Oktober 2011

Ortu or Friend ?

Sudah lama aku merasa kurang sreg dengan konsep 'orang tua sebagai teman'. Bukan karena salah atau jelek atau merugikan dan berbagai hal negatif lainnya, tapi lebih pada 'kurang pas' saja, menurutku. Orang tua ya tetap orang tua dengan segala hak dan kewajibannya, sementara teman ya tetap teman dengan hak dan kewajibannya juga.
Apalagi setelah aku merasakan sendiri menjadi orang tua bagi dua putri yang beranjak remaja. Pengalamanku sebagai anak yang baik dan berbakti  *kata bapakku dan ibukku lo* membuatku 'tidak tega' menganggap ortuku sebagai teman.
 Bagaimana tidak, teman-temanku yang sebagian besar teman sekolah -bukan tetangga, maksudnya- sering aku perlakukan sesuka hatiku. Kalau pas ulangan mereka minta contekan, aku pelototin. Kalau jajan di kantin mereka kabur tanpa bayar dan aku yang tertangkap ibu kantin, sudah pasti aku membayar dengan gerutu dan sumpah serapah. Belum lagi kalau ada yang iseng merantai sepedaku di tiang tempat parkiran, dan aku harus pulang menumpang siapa saja, sudah pasti pelakunya aku hapus dari daftar teman selama berminggu-minggu. Yaa...yang begitu-begitu sih. 
Soal curhat dan kedekatan, rasanya aku tidak punya teman atau sahabat khusus yang tahu segala rahasia hidupku sampai ke relung paling gelap :) Untuk itu semua, rasanya paling enak dan klop kalau aku mengadu ke bapak atau ibuk, kedua orang tuaku. Benar-benar sebagai orang tua, bukan sebagai teman. Kalau aku salah, ibuk langsung ngomel panjang kali lebar *sama dengan luas..hi..hi..hi*. Kalau aku bertindak benar, bapak akan langsung mengacungkan jempolnya yang besar dan hitam sambil tersenyum ; "hebat anak bapak". Sampai sekarangpun, setelah bapak berpulang dan aku bukan anak-anak atau remaja lagi, perlakuan ibuk terhadapku masih sama. Mengomeli aku untuk kesalahanku ini itu, mengatur aku harusnya begini atau begitu, dan segala remeh temeh yang aku yakin tidak akan dilakukan oleh seorang teman.
 Aku sangat bersyukur punya ortu yang benar-benar berfungsi sebagai  orang tua. Mengingatkan kalau aku salah, mengkritik kalau aku lupa diri, menegur keras kalau aku mulai takabur, mendoakan sepenuh hati kalau aku kehilangan harapan, dan yang paling penting; menerima aku dengan sepenuh cinta  walau apapun kondisiku. Cinta yang tanpa pamrih dan tanpa syarat.
 Untuk kedua putriku, aku juga sangat ingin menjadi seperti bapak dan ibuk. Menjadi orang tua yang benar-benar berfungsi sebagai orang tua. Tempat mengadu, berkeluh kesah, menumpahkan uneg-uneg, berdiskusi, curhat, memohon doa, memohon ridho...minta uang saku, minta dibelikan ini-itu, minta apapun....Aku ingin hanya kepada aku dan Mas Dony, Arum dan Dinda memusatkan segala yang terjadi dalam hidupnya saat ini. Agar kami bisa bersama-sama berpegangan tangan dan saling menguatkan menjalani segala yang sudah disuratkan olehNya.
Apapun yang mereka hadapi, aku berharap, hanya kepadaNya Arum-Dinda bersujud mohon ketenangan dan keluasan hati. Dan selanjutnya, hanya kepada kami -orang tuanya- mereka berbagi rasa...bukan kepada teman. 
 ( Tulisan ini murni untuk aku dan anak-anakku, tanpa bermaksud meremehkan atau menyalahkan pendapat siapapun tentang 'ortu vs teman'. Karena menurutku; apa yang baik dan benar untuk orang lain belum tentu baik dan benar untuk aku.)

Akhirnya Selesai Juga...

Masjid Menara Kudus. Kunjungan ke Kudus pada awal Oktober 2011 ini adalah bagian dari perjalanan bisnis Mas Dony, sekaligus menutup rangkaian touring kami berdua mengunjungi makam-makam wali songo . Tidak terasa , seluruh 'destinasi wajib' yang biasanya dikunjungi dalam wisata religi sudah kami tuntaskan dalam waktu 2 tahun. Lama sekali ? Tentu saja, karena semuanya kami lakukan di sela-sela perjalanan bisnis, mencuri-curi waktu, dan mengatur jadwal dengan tidak mudah.
 Dalam perjalanan kali ini kami mengunjungi makam Sunan Kudus di kota Kudus dan Sunan Muria di Pati Jawa Tengah. Yang menarik adalah makam Sunan Muria. Terletak di atas bukit, yang menurutku sudah tidak terlihat lagi kesakralannya saking totalnya direnovasi. Kesannya biasa saja, seperti mengunjungi makam-makam pada umumnya. Lalu di mana letak menariknya ? 
Dari arah makam, beberapa kilo ke arah timur, terdapat situs sumber air tiga rasa. Konon tempat ini dulunya adalah tempat semedi atau menyepi Kanjeng Sunan. Untuk sampai ke lokasi ini tidak mudah. Jalannya meliuk-liuk dan curam sepanjang beberapa kilometer. Aku dan Mas Dony naik ojek, itupun makan waktu lebih 20 menit. Sesampai di sana aku merasa terlempar ke 'alam lain'. 
Tinggi di atas bukit, sunyi senyap, gelap karena rimbun pepohonan dan sangat asing. Sumber airnya ternyata adalah tiga ceruk kecil di sebuah tebing batu tidak terlalu besar. Dari bawahnya mengalir air dari perut bumi yang terlihat sangat jernih. Dengan telapak tangan aku coba mencicipi rasa airnya. Benarkah berbeda ? Lagi-lagi aku kecewa ( maaf..). Ternyata rasanya tidak beda-beda amat. Hanya berbeda keasaman, menurutku, yang semakin pekat dari ceruk satu ke ceruk dua dan ceruk tiga.
 Tadinya aku kira ketiganya berbeda rasa yang ekstrem. Misalnya ceruk satu rasa stroberi, ceruk dua rasa jeruk, dan ceruk tiga rasa anggur, gitu...:))) Saking ngerinya dengan suasana sekitar yang seram, aku tidak berani mengungkapkan  ini secara langsung, takut kesambet.. he..he..he.. Permintaan Mas Dony untuk membawa sample air dari masing-masing ceruk itu juga kutolak...Tapi yang paling disesalkan adalah; kami tidak terpikir untuk berfoto, padahal aku merasa tidak bakalan ke tempat ini lagi karena letaknya yang jauh plus medan yang sulit.