Seorang teman mengirim SMS dengan berita yang menggetarkan hati. Mohon didoakan agar mendapat kekuatan menghadapi serangan teror SMS dari mantan pujaan hatinya di masa lalu. Sepagi ini, otakku sudah diajak 'jogging', membayangkan apa sebenarnya yang pernah terjadi diantara mereka, menimbang-nimbang perlu tidaknya aku mendoakan dia -karena siapa tahu sebenarnya dia yang paling banyak andil salah-, dan berusaha menahan diri untuk tidak berkomentar terlalu banyak pada masalah pribadinya.
Sepanjang yang aku tahu, temanku ini orang yang sangat teguh memegang komitmen. Menyayangi dan menghargai pasangan, cinta pada keluarga, dan mendedikasikan hidup sepenuhnya untuk masa depan anak-anaknya. Kalau sekarang ia dihadapkan pada kenyataan bahwa ada seseorang dari masa lalu yang berniat 'menggugat' dan ingin merebut kembali memori yang pernah mereka jalin, menurutku itu hanya ujian untuk semua ketegaran dan keikhlasan yang ia jalani.
Masa lalu itu milik semua orang, yang -sayangnya- tidak bisa seenaknya kita hapus atau kita ubah jalan ceritanya. Menyesali masa lalu juga bukan tindakan bijaksana, karena bisa jadi kedewasaan kita hari ini adalah buah dari pengalaman pahit kita di masa lalu. Semua yang pernah terjadi di masa lalu, mungkin hanya bisa kita lipat rapih dalam ingatan, dan menyimpannya di sudut hati. Jangan pernah di buka lagi. Jangan pernah ingin di tengok-tengok lagi. Karena kita tidak pernah tahu seberapa kuat kita berhadapan dengan masa lalu.
Bagaimana dengan SMS yang bertubi-tubi ? Aku hanya bisa bilang; tidak usah dibalas, toh sudah sama-sama tahu bahwa sekarang situasinya berbeda. Sampaikan permintaan maaf untuk semua kesalahan yang mungkin terjadi di antara kalian. Setelah itu, STOP ! Kalau perlu menghilang saja dari kehidupan dia, ganti nomer hape, blokir akun fb, atau apa sajalah...yang penting semua jalur kontak diputus ! Itu kalau memang benar-benar ingin melepas masa lalu, dan fokus meraih masa depan.
Masalahnya temanku ini terlalu baik, mau saja meladeni hal-hal tidak penting meskipun itu sangat merugikan dirinya. Ujung-ujungnya kebingungan sendiri. Tidak sepenuhnya salah memang, karena siapa tahu 'perasaan lain' masih tetap ada meskipun semu. Bagaimanapun, tersambung lagi dengan mantan -mungkin- terasa mendebarkan hati. Tapi sebenarnya ini adalah awal dari bencana *maaf, sok tahu nih..* Sekarang tinggal bagaimana pintar-pintarnya kita menghindar agar bencana itu tidak terjadi. Nah, di titik ini aku memutuskan untuk mendoakan dia; semoga dia diberi kekuatan untuk tetap melangkah ke depan, terus kedepan, dan tidak tergoda untuk menoleh lagi kebelakang.
4 komentar:
terkadang memang sangat sulit bermain dengan perasaan.....ingin rasanya untuk menghilang tapi apakah itu jalan yang terbaik....karena mungkin saja dengan "menghilang" masalah bisa selesai di satu sisi tapi apakah disisi lain dapat selesai...mungkin kesabaran,ketegaran,komitmen dan ke ikhlasan serta do'a kepada Sang Khalik akan menjadikan jalan yang terbaik.....
Thanks for comment.
Tidak ada satupun hal yang sempurna di dunia ini. Tidak ada satu tindakan pun yang bisa benar-benar menyelesaikan masalah. Semua keputusan ada di tangan kita, termasuk masalah mana yang kita inginkan untuk selesai. Jangan mau enaknya sendiri. Tetap ingin menikmati 'sensasi' tapi tidak mau menanggung akibatnya. Emang cuma 'anonim' saja yang punya perasaan ? gimana perasaan pasangan ? gimana perasaan anak-anak ?....
saya sangat setuju dengan ibu Nandang bahwa di dunia ini tidak ada yang sempurna karena Kesempurnaan itu hanya milik Allah SWT dan kita memang diciptakan tidak sempurna supaya menjadi sempurna...ibu Nandang yang saya hormati dan kagumi bila kita merasa menjadi manusia seharusnya berani berbuat harus berani bertanggung jawab bila tidak jangan jadi manusia karena semua yang kita lakukan di dunia ini pasti ada pro dan kontra apalagi sesuatu yang ada hubungannya dengan perasaan karena perasaan adalah hal yang abstrak yang tidak dapat didefinisikan...kalo menurut saya pribadi bila sudah bermain dengan perasaan lebih baik kita berinstropeksi diri sebelum mengambil sebuah keputusan karena ketika kita mengambil sebuah keputusan maka keputusan itu adalah keputusan dari perasaan kita....
Ini ke mana sih arahnya ?...
Tapi terima kasih banyak lho koreksinya. Ini membuka wawasan baru, karena selama ini aku selalu mengambil keputusan dengan logika bukan dengan perasaan. Gampangnya gini deh; logika dan perasaan itu ibarat sendok dan garpu. Digunakan dua-duanya jauh lebih sempurna dibandingkan digunakan salah satu. Bukan begitu 'anonim' ?...:))
Posting Komentar