Sebenarnya sudah lama aku menyadari bahwa aku punya penyakit akut dan kronis. Meskipun tidak mematikan dan sama sekali tidak menular, tidak urung penyakit ini merepotkan aku, dan mungkin orang-orang disekelilingku juga. Penyakit yang tidak jelas penyebab dan gejalanya ini sudah berusaha aku hilangkan. Tentu saja dengan bantuan dan support terus-menerus dari MD dan anak-anak.
'Penyakit tanpa nama' ini terakhir kambuh waktu aku berdua MD belanja keperluan parcel lebaran. Aku sangat tidak teliti soal angka dan abai pada hal-hal detil. Ceritanya waktu itu kami memilih barang-barang yang didiskon, dan mengisi penuh troli sambil menghitung berapa kira-kira harga yang harus kami bayar di kasir. Nah disinilah penyakitku kambuh; aku sok teliti melihat struk belanja dan membandingkannya dengan harga yang tertera di rak ( hal yang tidak pernah kulakukan sebelumnya ). Lho kok beda ? Sirup, biskuit kaleng, sampai sarung semuanya beda...lebih mahal dari yang tertera di rak dan di brosur.
Karena penasaran aku bertanya pada supervisor yang kebetulan ada di sekitar kasir. Eh, dia tidak bisa jawab. Lalu dia minta bantuan supervisor lain, dan ternyata inipun tidak menyelesaikan masalah. Tambah naik pitamlah aku. Dengan geram aku cabuti semua label harga di rak untuk semua item barang yang kubeli. Terakhir yang turun sang manager on duty. Dengan dia aku sempat beradu argumen cukup sengit. Dia tidak bisa menjawab karena semua barang yang kubeli identik dengan barcode label harga yang kucabut dari rak, dan kutunjukkan padanya sebagai bukti. Ternyata aku sudah membayar dengan harga yang lebih mahal.
Masalah belum selesai...sang manager pamit kebelakang untuk menanyakan hal ini entah pada siapa. Pada saat genting seperti ini barulah MD iseng-iseng menghitung dengan hape. Dan.....dhueng !!! Aku baru sadar kalau semua barang yang kubayar sudah didiskon, dan bahkan murah banget jatuhnya. Perutku langsung mules. Dengan gerakan cepat kulambaikan tangan pada kamera CCTV dan segera kabur dari situ. MD mengikuti dibelakangku sambil tidak henti terbahak..
Kata MD, aku kena sindrom 'out of focus' alias tidak teliti dan cenderung ceroboh. Unfortunately, kalau lagi kambuh aku sering jadi bahan tertawaan anak-anakku. Belum lagi kejadian-kejadian dudul yang lain, yang bahkan mengingatnya aku sendiri pun jadi tertawa.
Tentang ini kadang-kadang aku prihatin pada diriku sendiri. Sampai kapan ya penyakit ini kerasan menempel kemanapun aku pergi ?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar