Kisah cinta model 'sampai maut memisahkan' ini ternyata banyak makan korban. Ketika hidup masih indah karena pasangan masih ada di sisi, semua baik-baik saja. Sampai suatu ketika salah satu pasangan dipanggil menghadapNya. Saat itulah cinta diuji. Kesetiaan berubah wujud ke dalam dimensi yang berbeda-beda, tergantung posisi dan kondisi.
Kalau yang ditinggal adalah suami, terlebih masih dalam usia produktif, maka inilah yang terjadi: ia akan segera mencari pendamping baru. Dengan alasan bahwa laki-laki selalu butuh seorang perempuan untuk mendukungnya menjalani kerasnya kehidupan. Sebagai kepala rumah tangga, laki-laki harus tetap 'hidup' dan berjuang, membesarkan anak-anak dan meraih impiannya sendiri. Cinta kepada mendiang istri menjadi kenangan yang tersimpan dalam memori, entah di bagian yang mana. Sampai kapan memori itu bertahan, tidak seorangpun tahu bahkan si suami sendiri. Kalau sudah begini, bicara kesetiaan ? rasanya terlalu muluk.
Sekarang kalau yang ditinggal adalah istri, dalam usia produktif, ada dua kemungkinan: ia akan mencari suami baru, atau dengan gagah berani melanjutkan hidup bersama anak-anak, meski dalam kondisi terseok-seok. Kendala finansial lebih sering menjadi alasan utama seorang perempuan menikah lagi sepeninggal suaminya. Dalam banyak kejadian, dan aku menyaksikannya sendiri, banyak perempuan yang tetap gigih dalam kesendiriannya tanpa suami. Tidak terpikir untuk menikah lagi meski usia masih memungkinkan untuk itu. Tidak sedikitpun terlintas mencari sosok laki-laki sebagai pengganti suaminya.
Tanpa bermaksud mengecilkan arti kesetiaan laki-laki, fakta membuktikan lebih banyak perempuan yang berhasil menjaga kesetiaannya dibandingkan laki-laki. Para perempuan hebat ini lebih memilih untuk mengenang mendiang suaminya saat sepi menggigit. Menjadikan kewajiban menghidupi dan membesarkan anak-anak sebagai tugas yang diwariskan almarhum suaminya, tanpa sedikitpun berniat membagi tugas itu dengan laki-laki lain.
Sampai maut memisahkan...sungguh ungkapan cinta yang membuat aku miris. Karena menurutku cinta itu tidak dapat dipisahkan oleh apapun, bahkan oleh maut. Karena cinta adalah anugerah terindah dariNya yang kehadirannya tidak dapat diminta atau ditolak. Cinta hanya bisa dipisahkan oleh pemiliknya sendiri. Ketika tidak ada cinta lagi di hati, segala bentuk perpisahan menjadi sangat mudah.
Maka, dalam hati kecilku aku berjanji; aku akan mencintai suami seperti aku mencintai diri sendiri. Aku tidak ingin disakiti, maka aku tidak akan menyakitinya. Aku tidak ingin diduakan, maka aku bersumpah tidak akan menduakannya. Aku ingin ditempatkan pada posisi paling istimewa di hatinya, maka diapun mendapat tempat paling indah di hatiku.
Hanya itu. Sesederhana itu. Biar dipisahkan oleh mautpun, selama aku masih menyayangi diri sendiri, aku akan tetap menyayangi suami.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar