Senin, 14 November 2011

Chado Pagi Di Rumahku

 Chado adalah upacara minum teh gaya Jepang. Awalnya acara minum teh berkembang di China. Lalu pada akhir abad ke 15 upacara ini diadopsi oleh Bhiksu Zen di Jepang. Karena itu Chado mengandung prinsip dasar Zen yaitu 'wa' artinya keserasian antara sesama manusia dan antara manusia dengan alam, 'kei' artinya rasa hormat, 'sei' artinya kemurahan atau jiwa yang bersih, dan 'jaku' artinya ketenangan pikiran.

Singkatnya; dengan membuat dan menikmati teh kita bisa menyatu dengan alam dan menikmati ketenangan. Benarkah begitu ? Mari kita lihat yang terjadi di meja makan di rumahku setiap pagi.

Seperti biasa, para asisten rumah tanggaku selalu menyiapkan sepoci besar teh melati yang diseduh dengan sedikit gula.Derajat kemanisannya mungkin hanya 5 atau 6 briks, atau orang Jawa bilang mondo-mondo.
Karena kalau terlalu manis sedikit saja Mas Dony langsung protes. Bikin dia tambah gendut lah, bikin dia kena diabetes lah...pokoknya banyak pesan yang diultimatumkan ke ART agar besoknya tidak mengulang kesalahan fatal lagi. Minuman ini harus sudah terhidang di meja makan paling lambat pukul 04.15 pagi, tidak peduli jam berapapun subuhnya.

Kalau aku perhatikan 3 orang penikmat teh ini ( MD, Arum, Dinda )  punya selera berbeda-beda. Mas Dony selalu menambahkan air jeruk nipis dalam cangkirnya. Ambil jeruk sendiri di kulkas, belah jadi dua, dan langsung diperas ke dalam cangkir. Dinda penggemar berat milk tea. Tapi melihat kesibukan papanya dengan si jeruk nipis, dia jadi ikut-ikutan. Arum, si soliter, adalah penikmat teh melati yang fanatik. Tanpa tambahan apapun, kecuali setangkup roti tawar plus meises coklat kegemarannya.

Chado di pantry belakang ini harus dilakukan seawal dan secepat mungkin, karena kami mengejar waktu sholat subuh. Biasanya aku yang paling lama, karena aku bukan menikmati teh melati, tapi asyik menyeruput white coffe favoritku. Tambahannya adalah sandwich crackers rasa keju yang yummy banget. 

Moment chado ini penting , karena biasanya kami berempat saling menceritakan kejadian kemarin dan rencana kegiatan hari ini, ya waktu minum teh ini. Bukan seperti kebiasaan banyak keluarga lain yang menjadikan waktu dinner sebagai moment berkumpul. Arum dan Dinda sekolah full day. Setiap hari pulang ke rumah jam 17.00 dan satu setengah jam kemudian sudah harus siap menunggu kedatangan guru lesnya masing-masing. Jadi kesempatan berlama-lama ngobrol denganku dan papanya ya pas chado, lanjut ke waktu sarapan sebelum berangkat sekolah.


Tidak ada komentar: