....
datanglah kekasih biarpun hari hujan
cinta kan mengiringimu
dengan kehangatan
bawa saja seluruh kerinduanmu
kita satukan di dalam dekapan
langkahkan kakimu sepenuh irama
biarkan jejakmu
membekas di jalan
buka saja mantelmu basahkan tubuhmu
hujan pun tahu kita bertemu...
....
Barisan frase diatas adalah lirik lagu yang dinyanyikan 'Franky and Jane' dan sempat ngetop banget di era 80an. Aku tidak tahu judulnya, tetapi nuansanya sangat terasa. Waktu lagu ini sering diputar di radio-radio, aku masih SD. Meski begitu kalau mendengar lagu ini aku langsung membayangkan kejadian-kejadian romantis dan indah :))
Saat ini pun, aku masih suka terbayang beberapa kejadian yang berhubungan dengan hujan. Waktu masih SMP dan bapak belum mengijinkan aku naik motor, aku pergi kemana-mana naik sepeda angin. Termasuk pergi les Bahasa Inggris pada seorang profesor bahasa di kampus IKIP Ketintang. Keluarga Pak Wayan ini semuanya berprofesi sebagai pengajar Bahasa Inggris. Aku sendiri dibimbing langsung oleh Bu Wayan, seorang lektor senior di fakultas bahasa, secara private. Kalau musim hujan dan pas harinya aku les rasanya malas sekali berangkat. Bukan karena hujannya, tapi lebih ke tempat lesnya yang semi terbuka di tengah taman bunga di halaman depan rumah Bu Wayan. Kalau lagi deras-derasnya, air bisa menghambur masuk dan membasahi semua buku-buku les kami. O ya, aku selalu bersamaan hari dengan dua teman lain. Kalau sudah begini buyar deh lesnya. Kami cuma ngobrol-ngobrol sambil memandang hujan...he..he..he..( jadi ingat Ratih dan Ramadian :) ) Pulangnya aku masih harus mengayuh sepeda menembus hujan dan menempuh jarak yang lumayan jauh. Sungguh pengalaman yang sangat berkesan...
Saat aku kelas 1 SMA, kenangan tentang hujan yang paling membekas adalah ketika aku ikut festival teater antar pelajar. Dari rumah salah seorang senior, aku dan rombongan berangkat ke tempat lomba dalam kondisi 'full make up'. Karena jaraknya tidak terlalu jauh kami memutuskan berangkat ramai-ramai berboncengan motor. Tanpa diduga mendadak turun hujan sangat deras, seperti ditumpahkan dari langit. Akibatnya kostum panggung kami basah kuyup, dan muka belepotan karena make up yang tebal luntur tersapu air hujan. Ck..ck..ck.. Kenangan manisnya adalah kami jadi juara 1 untuk kategori cerita rakyat ( kategori ini hanya diikuti satu grup, yaitu grup teater SMAN 6...yo mesti ae menang :)))
Yang paling heboh, ini nih; terjebak badai hujan bersamaan waktunya dengan terjadinya tsunami. Pagi itu aku, Mas Dony, dan dua putri kami sedang dalam perjalanan menuju kolam renang. Rupanya Arum kecil lupa membawa baju renang ( lha tasnya isi apa lo, sayang ? ). Akhirnya kami putar-putar mencari baby shop yang buka paling pagi untuk membeli baju renang. Di tengah jalan mendadak hujan turun dengan sangat deras. Cuaca yang tadinya cerah seketika berubah gelap.
Aku ingat, mobil kami terayun-ayun dihempas angin. Saking derasnya curah hujan, jarak pandang hanya sekitar dua meter saja. Mas Dony mencondongkan badannya menempel setir untuk mempertajam penglihatan. Situasi ini sempat membuat nyaliku ciut. Bagaimana tidak, kami memakai sedan yang di dalamnya ada dua putri kecil kami. Aku tidak berani membayangkan apa yang terjadi seandainya saat itu angin kencang berubah menjadi twister, seperti yang sering aku lihat di film-film. Keesokan harinya di koran muncul berita tentang tsunami di Aceh yang begitu dahsyat. Jam dan tanggal kejadiannya sama persis ketika aku mengalami badai hujan di Surabaya. Aku merinding, sambil tak henti mengucap syukur dalam hati.
Sekarang, musim hujan adalah saat yang paling kutunggu-tunggu. Udara di luar jadi dingin dan basah. Terlebih lagi, dan ini yang paling penting, koleksi anggrek di halaman dan yang menempel di pohon jadi segar, hijau dan gemuk. Indah sekali.
Note: ada kejadian hujan 'salah musim' yang berkesan. Terjadi pada musim kemarau, malam hari, ketika paginya aku menjalani prosesi akad nikah. Apakah ini pertanda bahwa kehidupan pernikahan kami selalu berlimpah berkah, seperti hujan yang membawa berkah bagi makhluk bumi ? Semoga...
Satu lagi; turun hujan lebat di pagi hari persis saat malamnya bapak berpulang. Berminggu sebelum dan sesudahnya hujan tidak lagi turun. Sungguh aneh...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar