Bapak S, sebut saja begitu, mengaku betapa beliau merasa sangat kesepian setelah kepergian istrinya. Terutama karena harus tinggal sendiri di rumah keluarga yang lumayan besar. Meskipun disamping rumah tinggal putri bungsu dan keluarganya, tapi si anak sudah sibuk dengan urusannya sendiri.Bapak S ingin punya teman sekedar untuk ngobrol, berbagi cerita, dan mendapat perhatian yang selama ini didapatkan dari almarhum istrinya.
Mendengar cerita ini tiba-tiba aku merasa sedih. Otakku langsung membayangkan seandainya aku ada di posisi si istri yang berpulang lebih dulu. Tidak terbayang betapa remuk perasaanku ketika tahu bahwa begitu mudah aku dilupakan, dianggap sudah tidak ada -meski memang begitu kenyataannya- dan posisiku digantikan oleh orang lain.
Aku hanya bertanya-tanya; apakah tidak ada artinya kehidupan berrumah tangga selama puluhan tahun. Berbagi tawa dan air mata selama lebih dari 2/3 usia. Semudah itukah kenangan indah selama ini, terhapus hanya karena salah satu sudah tidak berada di sisi ? Semudah itukah ??
Hidup memang tidak selalu indah dan sempurna. Ada fase-fase yang mesti dilalui dan dijalani dengan keikhlasan dan kelapangan hati. Saat awal-awal pernikahan adalah masa penyesuaian, penyatuan dua hati dan bahkan mungkin 'pertarungan' untuk menemukan irama paling tepat untuk melangkah bersama. Seiring berjalannya waktu, antara suami dan istri semakin menemukan banyak hal yang membuat mereka selalu ingin bersama. Yang satu menjadi nafas bagi yang lain, dan inilah mungkin yang dinamakan belahan jiwa.
Ketika tiba masanya salah satu harus berpulang menghadapNya, alangkah bijaksana jika ini dimaknai sebagai salah satu fase yang juga harus dilalui dengan ikhlas. Bahwa hidup sudah tidak sesempurna dan seindah dulu, bahwa rasa sepi terasa begitu menggigit, adalah bukti betapa dulu kita pernah punya seseorang yang membuat segalanya menjadi indah. Ada seseorang yang membuat malam malam menjadi terasa damai. Ada 'belahan jiwa' yang selalu menyediakan diri dan hatinya untuk kita.
Dengan dalih apapun, menurutku, sangat tidak bisa diterima menggantikan posisi suami atau istri dengan orang lain. Terlebih di usia sesenja Bapak S yang menurut hematku sudah tidak perlu lagi berjibaku memperjuangkan hidup, karena toh tugas membesarkan anak-anak sudah selesai. Bapak S sudah tinggal menikmati masa tua, menyaksikan cucu-cucu tumbuh besar dan 'menunggu waktu' untuk kembali bertemu dengan istri tercinta.
Mencari pendamping, meski hanya sebagai teman mengisi hari tua, mengisyaratkan bahwa Bapak S enggan menerima kenyataan bahwa hidup memang sudah tidak sama seperti dulu lagi. Tidak adanya istri di sisi yang membuat hidup terasa hampa dan sepi, seharusnya lebih mengukuhkan rasa cinta pada almarhumah dan terkenang akan pengabdiannya pada suami selama ini. Bukan malah mencari orang lain sebagai ganti agar tetap ada yang melayani, tetap ada yang mengisi kesepian, tetap ada yang mengurus.
Ah, si bapak berwajah teduh...keinginanmu mencari pendamping lagi, membuat rasa simpatiku seketika anjlok. Sayang sekali...:(
Ah, si bapak berwajah teduh...keinginanmu mencari pendamping lagi, membuat rasa simpatiku seketika anjlok. Sayang sekali...:(
Tidak ada komentar:
Posting Komentar