Sabtu, 12 November 2011

Fakta Yang Memiriskan Hati

Pada 1994 lalu, saat aku mulai menulis rancangan skripsi, aku sempat menyelesaikan hampir 2 Bab tulisan tentang perceraian. Rencananya tulisan ini akan aku ajukan pada dosen pembimbing untuk disetujui sebagai materi skripsi yang akan kukerjakan. Waktu itu aku melihat banyak sekali kasus perceraian yang diajukan oleh pihak istri. Istilahnya 'cerai gugat'. 

Yang membuat aku tergelitik untuk tahu lebih banyak adalah motifasi yang melatarbelakangi pengajuan cerai gugat ini. Setelah aku berburu data ke PA Surabaya, yang kebetulan dekat sekali dengan rumahku, terbukti pengamatanku tidak salah. Hampir setengah dari kasus yang masuk ke pengadilan adalah cerai gugat. Trendnya semakin meningkat dari tahun ke tahun.

Maka, ketika di Majalah Intisari terbaru topik ini menjadi bahasan, aku teringat kembali pada 'penemuanku' puluhan tahun lalu itu. Data nasional Pengadilan Agama terbukti menunjukkan fakta bahwa dua pertiga perkara perceraian diajukan oleh pihak istri. Dan hanya sepertiga yang diajukan oleh pihak suami ( istilahnya 'cerai talak' ). 

Penjelasan dari fenomena ini mungkin bisa bermacam-macam. Salah satunya; kini perempuan makin mandiri, makin setara terhadap laki-laki, makin berani membuat keputusan, dan makin sadar akan haknya. Kemandirian perempuan hanya salah satu penjelasan, bukan satu-satunya. Penjelasan lain adalah pergeseran nilai yang dianut perempuan jaman sekarang, yang relatif lebih labil menghadapi tekanan hidup berumah tangga. Berbeda dengan perempuan jaman dulu yang menganggap pernikahan adalah kontrak sekali seumur hidup. Kalaupun mereka berkonflik dengan suami, mereka menganggap itu bagian dari hidup yang harus dijalani tanpa sedikitpun terbersit untuk bercerai.

Ketika aku mengajukan rancangan ini, dosen pembimbing langsung merevisi total :(. Menurut beliau, untuk topik semenarik ini sayang sekali kalau hanya dipakai pendekatan kuantitatif. Artinya hanya bermain diseputar angka, data statistik, dan tabel-tabel. Akan jauh lebih 'hidup' jika skripsiku disajikan dalam bentuk kualitatif penuh. Itu berarti aku harus menulis laporan bak novel, yang menyajikan kutipan-kutipan hasil wawancara mendalam terhadap obyek penelitianku. Entah bagaimana ceritanya, akhirnya topik itu harus aku lepaskan dengan sukarela, dan segera membuat rancangan baru dengan topik yang sama sekali berbeda. 

Pffuuuffhh....
Lelah juga dari beberapa hari lalu selalu dihadapkan pada berbagai hal beraroma negatif. Tema tulisan ini aku maksudkan sebagai pengingat, bahwa perceraian it's a big no no !buatku. Aku ingin menghayati jati diriku sebagai perempuan Jawa tulen yang berprinsip ; urip pisan, kawin pisan...

2 komentar:

Anonim mengatakan...

terkadang banyak di pemikiran orang bahwa sebab terjadinya perceraian itu disebabkan oleh pihak suami padahal perceraian juga bisa disebabkan oleh pihak isteri...saya adalah salah satu korban perceraian...memang tidak banyak hasil yang bagus dari perceraian tetapi saya pribadi mendapatkan banyak hikmah dari perceraian orang tua....perceraian terjadi dikarenakan masing-masing pasangan sama sama mengedepankan egoisme....padahal bila ada salah satu yang mengalah kemungkinan besar tidak terjadi perceraian itu....

dwinandangpangestuti mengatakan...

Saya bersimpati pada anda, dan berharap pengalaman ini menjadi pelajaran berharga untuk tidak memberikan pengalaman yang sama pada anak-anak.
Semoga kita selalu diberi kekuatan untuk menjaga dan mempertahankan milik kita yang paling berharga, yaitu keluarga.