[ sedang bersemangat posting 'sesuatu' karena pengaruh buku motivasi :) ]
---
Ada sebuah suku dari bangsa Indian yang mempunyai cara unik untuk mendewasakan anak laki-laki dari suku mereka. Jika seorang anak laki-laki dianggap sudah cukup umur untuk didewasakan, ia akan dibawa oleh seorang pria dewasa ke dalam hutan belantara yang gelap gulita.
Anak laki-laki itu ditutup matanya dan dibawa masuk jauh ke dalam hutan. Ketika hari sudah gelap, tutup matanya dibuka dan ia ditinggalkan sendirian. Ia akan dinyatakan lulus dan diterima sebagai pria dewasa jika ia tidak berteriak atau menangis hingga malam berlalu.
Malam begitu pekat, bahkan si anak tidak dapat melihat telapak tangannya sendiri. Ia begitu ketakutan karena hutan mengeluarkan suara-suara menyeramkan. Auman serigala, suara burung hantu, desis ular, dan gemerisik dahan pohon memaksa ia bertahan untuk tidak berteriak atau menangis.
Ia harus berusaha agar lulus dalam ujian. Satu detik bagaikan berjam-jam. Satu jam bagaikan bertahun-tahun. Ia tidak dapat memejamkan matanya sedetikpun, sementara keringat dingin ketakutan mengucur deras dari tubuhnya.
Saat cahaya pagi mulai menyingsing, ia begitu gembira dan melihat ke sekeliling. Anak laki-laki itu begitu kaget ketika tahu bahwa ternyata ayahnya berdiri tidak jauh dibelakangnya, dengan posisi siap melepaskan anak panah, dan golok yang tajam mengkilat terselip di pinggang.
Ayahnya menjaga dia sepanjang malam. Kalau ada binatang buas mengancam keselamatan anaknya, ia akan segera melepaskan anak panah, sambil terus berdoa agar anaknya tidak berteriak atau menangis.
---
:)
Jadi gitu deh cara orang tua (kita) mengetahui sejauh mana kita bisa dilepas untuk bertanggung jawab pada kehidupan. Seolah-olah mereka memberi kebebasan penuh pada kita untuk menentukan sesuatu atau mengambil keputusan sendiri. Tapi sebenarnya kita masih tetap berada dalam pantauan mereka, sampai orang tua kita yakin bahwa kita benar-benar bisa bertanggung jawab dan dapat dipercaya.
Ih... ini sih judulnya curhat. Tapi gak opo-opo wis, wong aku juga bersikap begitu ke anak-anakku. Bukan karena selalu ingin mengintervensi, tapi karena tidak ingin melihat mereka salah langkah dan gagal.
...
Everyone has inside them a piece of good news.
The good news is you don't know how great you can be,
how much you can love,
what you can accomplish,
and what your potential is !
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar