Jumat, 25 Mei 2012

Galau RSBI

Hai...kangen menulis lagi nih :)
Beberapa minggu ini luar biasa sibuk, urusan anak-anak, urusan suami, ini-itu, sampai tidak sempat sekedar relaks mengeluarkan isi kepala. Kalaupun sempat mengisi blog biasanya nyuri-nyuri waktu di sela menemani Dinda tidur. O iya, sekarang lagi kering ide, karena yang biasanya suka memberi ide tulisan sudah tidak ketahuan lagi di mana rimbanya. Mungkin sudah move on ke planet lain...hehehe

Mmmm...aku mau curhat tentang RSBI *apaansih,nggakjelasjuntrungannya...

Sebentar lagi kan Arum mau lulus dari SMP RSBI, nah aku tuh semakin hari semakin gerah dengan berbagai polemik pro dan kontra tentang keberadaan  sistem pendidikan ini. Ada yang bilang biayanya selangit lah, diskriminasi lah, useless lah, dan sebagainya.

Jujur saja, dulu Arum masuk ke jalur ini karena tidak sengaja. Jadi gini, waktu jadwalnya mengambil formulir pendaftaran SMP kebetulan aku dan suami sedang berada di luar kota. Dengan panduan detil melalui telepon, MD meminta tolong orang kepercayaannya untuk datang ke sekolah membeli formulir untuk Arum.

Karena masih di bawah satu yayasan, tanpa babibu lagi petugas pendaftaran memberikan map warna kuning, yang artinya jalur RSBI. Beberapa minggu sebelumnya aku memang diminta mengumpulkan copy raport Arum mulai kelas 1 sampai kelas 6 untuk diverifikasi. Tapi waktu itu aku tidak menyangka kalau itu seleksi siswa unggulan. Dan endingnya adalah Arum diterima di jalur ini setelah melalui serangkaian tes dan seleksi yang lumayan ketat.

Yang jadi masalah adalah Arum tidak berminat jadi siswa kelas unggulan, dan merengek padaku untuk mengurus kepindahannya ke kelas reguler. Pihak sekolah keberatan dengan alasan Arum punya potensi yang bagus, sayang kalau tidak diasah dan dioptimalkan.

Kembali ke polemik RSBI ya...menurutku sah sah saja pemerintah membuka 'jalur alternatif' ini. Namanya juga usaha, siapa tahu dengan niat yang baik hasilnya juga bisa baik. Kualitas lulusannya meningkat, daya saingnya terangkat, lebih bisa bersaing secara global...iya kan. Absurd sih, tapi nggak apa-apa dari pada tidak ada usaha.

Soal anak-anak berprestasi yang tidak bisa terserap jalur RSBI karena kendala biaya, sebenarnya bisa diatasi dengan mudah. Negara kita yang mayoritas muslim ini kan luar biasa kaya penduduknya. Lihat saja mobil-mobil merk terkenal jumlahnya banyak sekali di jalanan. Lihat saja  mall-mall elite di belahan dunia lain, di sana tidak sulit mencari wajah-wajah 'endonesa', dan jangan lupa banyak dari mereka yang muslim. Mau bukti lagi ? banyak sekali lho pengusaha pribumi yang sukses mulai skala pra konglomerat, konglomerat, sampai super konglomerat.

Artinya apa ? dari mereka-mereka ini bisa digalang kepedulian untuk menyisihkan sedikiiit saja bagian dari harta mereka yang tidak habis dimakan tujuh turunan itu, untuk membiayai siswa kurang mampu yang otaknya briliant. Bukan hal yang sulit kalau memang ada kemauan dan kesadaran... *jaditeringatkasusrekeninggendutpolri :)

Ada pakar pendidikan yang bilang gini, "Kalau mau unggul tidak harus belajar dengan menggunakan Bahasa Inggris. Itu bukan satu-satunya cara. Yang lebih penting adalah kesungguhan dalam belajar, penanaman nilai, pembentukan etos belajar, dan kemauan untuk maju".

Dengan prihatin aku ingin bilang begini pada Bapak Pakar Pendidikan yang terhormat itu, "Iya sih pak, pake Bahasa Inggris bukan yang utama, tapi juga tidak bisa dianggap tidak perlu. Bukan untuk sok-sokan lho pak...ini kan bahasa universal dan netral. Masa sih mau pake Bahasa Jawa, atau Bahasa Sunda, atau Bahasa Osing, atau Bahasa Madura, atau Bahasa Melayu...Soal biayanya yang selangit dan menyerap APBD, itu kan bisa dibicarakan. Wong orang kita itu paling pinter bikin pansus ini-pansus itu, jadi kenapa tidak dirumuskan saja formula yang bisa diterima semua kalangan. Yang penting tujuan 'memajukan pendidikan bangsa' tercapai. Satu lagi pak; perjuangan itu selalu berat dan pahit. Jadi kalau soal RSBI saja kita masih saling adu mulut, terus kapan majunya ? Daripada hanya mengkritik lebih baik memberi solusi gimana baiknya, iya kan pak ? Kalau RSBI nggak cocok, tolong dong pak dibuatkan rumusan yang jelas dan gamblang sistem pendidikan yang baik, benar, dan cocok itu yang seperti apa. Lalu serahkan proposalnya ke Mendikbud deh. Gitu lho pak..."
*terpaksaberhentibicarakarenadiinterupsimoderator :)

---

Yaaa...prihatin aja dengar suara-suara sumbang diluaran. Daripada ribut terus, kalau aku mending fokus mengasah dan menggali potensi anakku, sambil berupaya melejitkan prestasinya di semua bidang yang ia minati. Mau RSBI atau enggak, gak penting !

***

-Lha, fotonya kok gak match ?...*nars-- !



Tidak ada komentar: