Sudah beberapa waktu kami sekeluarga tinggal bersama Yangkung Rasyid dan Yangti Sri, bapak dan ibu mertuaku. Sepanjang pengamatanku, mereka berdua tampak kerasan dan bahagia. Suasana rumah yang tenang sepanjang hari mungkin ikut mendukung. Begitu juga pelayanan tulus dari para asistenku yang sangat terlatih. Alhamdulillah...
Sampai di titik ini aku tidak henti-henti bersyukur, karena aku bisa selalu berdekatan dengan ibu kandungku yang tinggal tidak jauh dari rumahku, sekaligus merawat mertua yang sudah semakin uzur. Bagaimanapun, mertua dan orang tua sama-sama harus mendapat perhatian dan kasih sayang yang sama besar.
Tadi pagi, diantara tumpukan buku-buku lama, aku menemukan sebuah buku motivasi yang sudah usang. Salah satu cerita di dalamnya sangat menyentuh dan menggugah kesadaranku. Dalam hati, sekali lagi aku mengucap syukur atas apa yang sudah kami lakukan selama ini. Merawat dan memperlakukan orang tua dengan sebaik-baiknya adalah tabungan pahala yang tidak ternilai harganya.
***
... Suatu ketika ada seorang kakek tua yang harus tinggal dengan anaknya, menantu, dan cucunya yang berusia 6 tahun. Tangan kakek begitu rapuh dan sering bergerak tak menentu. Penglihatannya buram dan cara berjalannya pun ringkih.
Keluarga itu biasa makan bersama di meja makan. Namun kakek yang pikun ini sering mengacaukan segalanya. Tangan yang selalu gemetar dan mata yang rabun, membuatnya susah untuk menyantap makanan. Sendok dan garpu kerap jatuh, gelas pecah, susu tumpah membasahi taplak meja.
Anak dan menantunya menjadi gusar dan terganggu. Mereka merasa direpotkan oleh semua kelakuan sang kakek. "Kita harus melakukan sesuatu", kata si suami. "Aku bosan harus membereskan semuanya untuk pak tua ini".
Sering saat keluarga itu sibuk makan malam, terdengar isak sedih dari sudut ruangan. Air mata kakek mengalir diatas gurat keriput wajahnya. Tangannya semakin gemetar dan tubuhnya semakin tampak ringkih.
Namun kata-kata yang keluar dari suami istri itu selalu omelan agar ia tak menjatuhkan makanan lagi.
Anak mereka yang berusia 6 tahun melihat semua kejadian ini dalam diam.
Suatu malam, si ayah memperhatikan anaknya sedang membuat mainan kayu. Dengan lembut ditanyalah anak itu, "Apa yang sedang kau buat, nak?".
Anaknya menjawab, "Aku sedang membuat meja kayu untuk ayah dan ibu nanti kalau sudah tua. Akan kuletakkan di sudut itu dekat tempat kakek biasa makan ". Anak itu tersenyum dan melanjutkan pekerjaannya.
Jawaban itu membuat suami istri itu begitu sedih dan terpukul. Air mata bergulir di pipi mereka. Walau tak ada kata-kata yang terucap, kedua orang tua ini sadar bahwa ada sesuatu yang harus diperbaiki.
Keesokan harinya, mereka menuntun tangan kakek untuk kembali makan bersama di meja makan. Tak ada lagi omelan saat ada piring yang jatuh, makanan yang tumpah, atau taplak yang kotor ternoda. Kini mereka makan bersama di meja makan dengan bahagia.
***
Anak-anak adalah persepsi diri kita. Mata mereka mengamati, telinga mereka mendengar, dan pikiran mereka merekam. Jika mereka melihat kita memperlakukan orang lain dengan sopan, hal itu pula yang akan mereka lakukan. Begitu juga sebaliknya.
Kakek dan nenek adalah masa depan kita. Jika anak-anak melihat kita memperlakukan orang tua dengan penuh hormat dan kasih sayang, Insyaallah begitu juga perlakuan anak-anak pada kita kelak.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar