Minggu, 20 Mei 2012
Cinta, Pengorbanan, dan Kesetiaan
Aku punya versi sendiri tentang cinta.
Cinta itu seperti biji tanaman yang jatuh di atas tanah gembur.
Sinar matahari, air, dan cuaca yang bersahabat membuat cinta tumbuh subur.
Jika sinar matahari terlalu banyak atau terlalu sedikit,
jika air terlalu banyak atau terlalu sedikit,
dan cuaca terlalu panas atau terlalu dingin, cinta tidak akan tumbuh.
Dimanakah ada cinta yang membutuhkan sinar matahari, air, dan cuaca
dalam takaran yang pas agar dapat tumbuh subur ?
(dasar bodoh, dimana-mana cinta ya seperti itu...)
Aku punya versi sendiri tentang pengorbanan.
Seperti yang terjadi antara biji tanaman, sinar matahari, air, dan cuaca.
Apakah biji tanaman bisa memilih dimana ia akan jatuh ?
Apakah sinar matahari bisa memilih ia harus bersinar atau boleh padam ?
Apakah air bisa memilih ke tempat rendah manakah ia akan mengalir ?
Apakah cuaca bisa menentukan sendiri ia akan menghembuskan angin kering
atau mengalirkan hawa sejuk ?
Jika jawabannya adalah 'tidak' maka itulah yang disebut pengorbanan.
Apakah pengorbanan membuat cinta tumbuh subur dan indah ?
(dasar bodoh, dimana-mana pengorbanan membuat cinta yang biasa-biasa saja
menjadi indah...)
Aku punya versi sendiri tentang kesetiaan.
Saat biji tanaman sudah tumbuh subur dan indah,
masihkah ia membutuhkan hangatnya sinar matahari ?
Masihkah ia merindukan segarnya guyuran air ?
Masihkah ia mendambakan semilir angin yang sejuk ?
Jika jawabannya adalah 'ya' maka itulah yang disebut kesetiaan.
Dimanakah ada cinta yang membutuhkan begitu banyak kesetiaan ?
(dasar bodoh, dimana-mana kesetiaan menentukan apakah cinta akan mati atau bertahan selamanya...)
---
Kalau sedang jatuh cinta, aku merasa begitu bodoh...:(
***
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar