Tiga puluh sembilan tahun yang lalu aku dilahirkan di kota ini. Dan sampai sekarang pun aku masih tinggal disini, bahkan mungkin sampai usiaku berakhir.
Bukan tidak ingin hijrah ke kota lain, bukan juga karena tidak bernyali meninggalkan 'tanah leluhur'. Tetapi semuanya lebih pada garis nasib saja, yang membuat aku dan sebagian besar keluarga masih bertahan disini.
Aku ingin sedikit berbagi kesan tentang kotaku tercinta ini. Tentang keindahannya, kerapiannya, kekompakan dan guyup rukun warganya, tentang gemerlapnya, dan yang paling menonjol adalah tentang kebonekannya...hue..he..he..
Selama beberapa tahun terakhir aku banyak melakukan perjalanan ke berbagai kota. Setiap kali, dalam perjalanan itu yang pertama kudatangi adalah tempat-tempat makan yang asyik -MD seorang petualang kuliner-, lalu pasar tradisional -aku gemar berburu barang antik-, dan yang terakhir taman kota alias alun-alun untuk memuaskan kesukaanku nongkrong sambil 'mengamati' kiri kanan.
Dari banyak perjalanan itu, aku selalu tidak bisa tidak untuk membandingkannya dengan kotaku tercinta. Seperti yang kemarin terjadi waktu aku menghabiskan beberapa hari di kota Paris Van Java. Tahu dong, reputasi kota ini sebagai 'kota kembang'. Tapi apa kenyataan yang kulihat disana ?
Untuk memuaskan rasa penasaran, aku sengaja meminta pemandu kami untuk menjalankan mobil pelan-pelan dan melintas di jalan-jalan utama. Harapanku aku akan melihat sebuah kota yang benar-benar 'mandi kembang'...he..he..maksudnya bunga bunga bermekaran di sana sini memanjakan mata.
Dalam cuaca yang sejuk, aku harus menelan kekecewaan karena taman-taman kotanya tidak secantik Surabaya yang luar biasa panas dan gerah. Bahkan di kawasan premium -depan Gedung Sate, maksudku- median jalannya sama sekali tidak tampak indah.
Taman kota gundul, median jalan merana dan tidak terurus, sungai di bawah jembatan layang dipenuhi sampah yang -asli- membuat aku langsung memalingkan muka.
Maaf lho ya...sekali lagi maaf... Tapi memang kondisinya jauh sekali dibandingkan Surabaya. Tidak percaya ? silahkan datang ke kota kami, dan lihatlah bagaimana kota metropolis ini begitu nyaman untuk ditinggali.
Kita sisir dari ujung selatan. Bundaran Waru dengan gedung pencakar langitnya yang megah -City of Tomorrow- adalah pintu gerbang Surabaya dari sisi selatan. Dari sini saja mata kita sudah dibuat sejuk oleh berbagai tanaman dan pohon peneduh, sebelum kita bertemu dengan Taman Pelangi yang indah.
Lalu, melintas di sepanjang Raya A. Yani terus melaju di Raya Darmo, median jalannya sangat hijau, segar, rapi, dan bersih ! Padahal kalau kita cermati, tanaman pengisi median jalan itu dari jenis yang murah meriah dan gampang tumbuh. Maklum, cuaca kota Surabaya sering tidak bersahabat, panas, gerah, dan yang pasti polusi.
Bahkan tanah kosong di bawah jembatan layang pun tidak benar-benar kosong. Semuanya penuh oleh rumpun bunga bakung, dracaena, lili paris, dan tanaman perdu yang 'tidak populer'. Pilar-pilar betonnya ditempeli pot dinding dengan tanaman sulur, yang semakin menambah cantik.
Secara keseluruhan, ada berpuluh taman cantik di seantero Surabaya, yang semuanya mempunyai nama dan tema berbeda -hebat, kan?-. Kondisi serupa juga terjadi di perkampungan padat penduduk hampir merata di seluruh wilayah. Semuanya bersih dan hijau. Apalagi di area perumahan elite...wuih jangan ditanya, serasa bukan di Surabaya saking cantiknya.
Pohon peneduh macam angsana pasti jamak di kota lain. Yang membuat berbeda, di Surabaya pohon-pohon itu ditempeli bermacam jenis asplenium -seperti tanduk rusa, dll- dan juga berbagai jenis anggrek dendrobium. Karena cuaca yang panas, di atas tanaman tempel itu hampir pasti tergantung botol aqua yang dilubangi kecil di bagian dasarnya untuk meneteskan air.
Itu hanya sebagian kecil dari hal-hal menarik yang bisa kita temui di Surabaya. Lainnya ?... wow yo uakeh ! Gak percoyo ta, mangkane dulino nang Suroboyo dulur..!!!
***
'Studi Komparatif' berlaku juga di kota-kota lain. Tunggu tanggal mainnya untuk kubeberkan semuanya disini...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar