Selasa, 03 Januari 2012

Aku Selalu Cinta Tapi Kamu Tidak...

Menjalani hari-hari indah di awal tahun, aku belum dapat mengira-ngira apa yang bakal terjadi di depan. Kesulitan, cobaan, dan batu sandungan macam apa yang bakal kuhadapi. Dan sebagai imbalannya, kesenangan, kesuksesan, dan keberkahan sebesar apa yang menantiku.

Hari ketiga di tahun 2012. Aku mulai merasa mulas-mulas yang hebat saat MD menceritakan carut marut di salah satu bidang yang dia tangani. Antara gelisah karena terbayang berbagai kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi, dengan resah karena pada kenyataannya tidak ada yang bisa kami lakukan untuk mengatasi semua kesemerawutan itu.

Sebenarnya kondisi seperti ini sudah jadi makananku berkali-kali, karena bagaimanapun suamiku adalah wirausaha mandiri yang sepenuhnya mengandalkan kepiawaiannya di bidang keuangan. Di luar bidang itu, hanya sebagai 'diversifikasi usaha' saja.

Yang tidak kalah menyita pikiranku adalah anak-anak. Dinda yang juni nanti berusia sembilan tahun, mulai nampak sifat aslinya. Aku paling kewalahan kalau menghadapi sikapnya saat keinginannya tidak terpenuhi. Seperti yang baru saja terjadi; ia masuk kamarnya sambil menggeser pintu dengan keras, sampai aku terlonjak demi mendengar suara kaca yang menggelegar. Jleeggg !!!...kalau pintu kaca itu remuk gimana ?

Kalau sudah begini, biasanya aku bertahan untuk tidak merayu dan membujuk-bujuk agar ia menghentikan ngambeknya. Biar saja ia tahu bagaimana rasanya kalau aku memintanya melakukan sesuatu tapi ia tidak menghiraukan. 

Aku berkeyakinan, anak-anak juga harus dikenalkan pada rasa kecewa bila apa yang dimaui tidak bisa ia dapatkan.  Lebih dari itu, mereka juga harus belajar bertenggang rasa; kalau ingin permintaannya didengar dan dipenuhi maka ia juga harus mendengar dan memenuhi.

Dalam kasusku dengan Dinda -kasus ?, lagi ?-, selalu aku yang harus mengalah...kok jadi seperti syair lagu ya.. Bukan tidak rela, karena bagaimanapun Dinda adalah buah hatiku, tapi aku khawatir sifat keras kepala dan mau menang sendiri-nya akan menyulitkan dia kelak saat dewasa.

Kejadian Dinda ngambek padaku sudah berkali-kali, dan selalu berakhir dengan aku meluluskan permintaannya hanya karena tidak tahan didiamkan Dinda terlalu lama. Tapi akhirnya kusadari bahwa sikapku keliru. 

Terlalu memanjakan anak akan berakibat buruk, begitu yang sering kubaca. Maka kuputuskan untuk menguatkan hati menghadapi Dinda dengan segala rengekan dan rajukannya yang sebenarnya hampir menggoyahkan hatiku. Semua kulakukan untuk kebaikannya, mumpung aku dan suami masih ada di sisinya untuk mendampingi, mengingatkan, dan meluruskan kalau ia salah jalan.

Sudah hampir satu jam...Dinda belum juga keluar dari kamar. Nah, ini jurus terakhirku yang biasanya paling ampuh; berdiri di depan pintu kamarnya sambil bernyanyi, "Aku selalu cinta, tapi kamu tidak...."

***

Tidak ada komentar: