Rabu, 18 Januari 2012

Sudah Tidak Ada Pocong Lagi di Rumahku

Beberapa bulan yang lalu saat musim pocong melanda, di rumahku juga terjadi heboh-heboh yang menjangkiti seisi rumah, terutama dua ABG; Arum dan Dinda.

 Waktu itu mereka sedang semangat-semangatnya baca Pocongg Juga Pocongg, dengan ekspresi yang aneh, antara geli menahan tawa dan nyengir kuda -seperti apa coba?...aku juga bingung-.

 Dalam hitungan hari, buku yang tidak bagus-bagus amat tapi cukup menghibur itu, sudah berpindah-pindah tangan. Semuanya penasaran ingin membaca terutama aku, yang penggemar berat cerita horor.

 Dalam bayanganku, aku akan menikmati cerita seram dan mengerikan yang ditulis dalam bahasa gaul, bahasa anak muda jaman sekarang.Tidak seperti gaya bercerita Agatha Christie, penulis favoritku sejak SMP.

 Baru selesai membaca beberapa paragraf, aku langsung sadar kalau aku salah jurusan.
 "Ini sih bukan cerita horor...", kataku.
"Ya emang", kata Arum.

 "Ini sih cerita konyol...", kataku lagi.
"Lha iya", kata Dinda.

 "Tapi lumayan, buat nambah wawasan", aku membuka halaman berikutnya.
"Wawasan tentang pocong ? Mama pingin paham soal pocong, ta ?", tanya Dinda.

 "Bokaaannn...tapi tentang ABG penggemar pocong", kataku menyindir Dinda. Si penakut yang selalu merasa ada pocong mengintip ke dalam kamarnya.

 Beberapa bulan kemudian, waktu buku ini difilmkan dan diputar di bioskop, Arum dan Dinda langsung minta nonton. "Hadoooh... film ginian ditonton. Gak ada yang laen, apa ?", tanya MD.

Akhirnya, siang itu kami berempat pergi ke bioskop sepulang les, tapi di sana kami berpencar. Arum-Dinda masuk studio 4, sedangkan aku dan MD masuk studio 2, nonton film lain.

Beberapa waktu kemudian [kok 'beberapa' lagi sih...] di toko buku bermunculan novel sejenis dengan judul yang tidak jauh-jauh dari pocong. Semuanya mengandung unsur pocong. Ini para penulis apa sih maksudnya, agak bingung juga aku.

Tapi untungnya demam pocong di rumahku sudah berlalu. Buktinya, Arum-Dinda cuek saja waktu aku berinisiatif membeli buku cerita yang berembel-embel pocongg. Mereka tidak ada keinginan untuk membaca,  cuma melirik sepintas. Selanjutnya, mamanya yang melalap habis beberapa buku itu dalam sehari. Ck...ck...ck...



Tidak ada komentar: