Suatu siang, dalam perjalanan panjang dan melelahkan menuju Surabaya, aku terlibat pembicaraan seru dengan suamiku, MD. Biasanya kita ngobrol yang ringan-ringan saja untuk mengusir jenuh di perjalanan. Tapi siang itu, entah bagaimana mulanya, tiba-tiba pembicaraan kami sudah sampai pada soal yang serius. Tentang berjodoh atau tidaknya MD dengan para kolega bisnisnya.
Sebagai wirausaha, MD memang bertangan dingin dan good lucky. Berbagai tawaran kerjasama, baik skala regional maupun nasional, tak henti-henti menghampiri sampai membuatnya kewalahan. Sebagian di limpahkan pada rekan sesama konsultan, sebagian bersharing dengan tetap memakai bendera MD tapi yang mengerjakan orang lain, dan sebagian lagi diterjuni sendiri dengan melibatkan timnya.
Ada seorang kolega lama yang seluruh perusahaannya, baik milik ayahnya, kakaknya, dan miliknya sendiri, dihandle MD sejak hulu hingga hilir. Dan ini sudah berlangsung puluhan tahun, sejak MD masih kuliah dan berstatus magang di perusahaan itu.
Karena sudah kenal sejak lama, hubungan MD dan si kolega ini menjadi agak rancu. Merembet ke sisi psikologis, gitu lho. Padahal menurutku, sekecil apapun hubungan di luar urusan kerja, itu sangat mencemarkan profesionalitas kita. Akibatnya nilai integritas kita di mata klien menjadi rendah.
Sekedar me-review, beberapa kali aku melihat MD kecewa pada kelanjutan kerjasama dengan si kolega ini, karena berbagai sebab. Tapi kapanpun dia datang pada MD dengan berbagai permintaan yang rumit, hampir selalu MD bisa memenuhinya, dan ini mengakibatkan ketergantungan yang tinggi si kolega pada MD.
Karena capek melihat MD selalu terbanting keras setelah melambung begitu tinggi, aku menyarankan untuk menyudahi saja hubungan dengan kolega lama ini. Bukan sama sekali putus, tapi dibatasi hanya pada core bisnis saja, tidak merembet ke urusan lain di luar MoU.
Pada hematku -dan melalui berbagai telaah...uih !- MD dan kolega ini tidak berjodoh. Titik. Jadi, meskipun dia telpon-telpon mengajak kerjasama ini itu, minta sharing ini itu, sebaiknya ditolak saja. Daripada terus menerus makan hati... Kalau memang tidak jodoh ya terima saja dengan lapang dada. Toh masih banyak pihak lain yang menawarkan kerjasama dengan prospek tidak kalah menggiurkan.
Baru beberapa menit kami mengakhiri topik itu dengan kesimpulan MD akan lebih selektif menerima tawaran kolega lama ini, eh...tiba-tiba telpon berdering. Dari siapa ?... Ya si kolega yang baru saja kami rasani itu !...Panjang umur...
Sambil berbicara serius di telpon, tangan MD tidak henti-henti mencubit tengkukku. Itu tandanya dia sedang sangat ingin tertawa keras saking gelinya. "Ya, Pak...Oke, Pak...datanya ada sama saya semua kok...nanti saya e-mail...gak masalah, Pak...bisa kok....Oke, kita ketemu week end aja ya, Pak..".
Dhueeenggg !!!
"Gimana nih, Ma...kamu bilang gak jodoh, lha ini proyek segede gajah, apa dilupakan saja ?", tanya MD geli. Tadi kan aku yang tidak setuju MD gandeng lagi sama kolega ini.
"Terseraaaah....silahkan mengurus proyek di Gatot Subroto, mama ada proyek sendiri di Tanah Abang. ..", kataku pasrah.
Yeelaaa.... Yang namanya rejeki, biar kita cari setengah mati dan kita kejar sampai ke ujung bumi, kalau bukan jatah kita ya tidak terpegang. Sebaliknya, kalau memang itu bagian kita, biar pun kita tidak terlalu berharap, ia akan datang sendiri dari arah yang tidak di duga-duga. Yang penting jangan pernah berhenti berusaha, biarpun jodoh atau tidak jodoh... -he..he..he..jadi malu...-
***
Danke fur Mr. Stf Bst, Mr. Mtt Bst, und Mr. And Bst
Tidak ada komentar:
Posting Komentar