Sabtu, 28 Januari 2012

Mengenang Lie, Teman Dari Masa Lalu

Dulu, duluuu sekali, aku pernah mengenal seorang cowok bermata sipit dan berkulit kuning, pada sebuah pertandingan persahabatan antara SMPku melawan SMP swasta tempatnya bersekolah. Waktu itu aku memperkuat tim basket putri, dan Lie -nama cowok itu- menjadi tim inti putra dari sekolahnya.

Secara fisik dia tidak terlalu menonjol dan istimewa dibanding teman-temannya yang lain, yang rata-rata berpostur di atas seratus tujuh puluh senti. Yang membuatnya tampak beda adalah tangannya yang kidal, tetapi sangat tepat tiap kali memasukkan bola ke dalam ring. Bidikan bolanya hampir tidak pernah meleset.

Selama tiga sesi pertandingan yang sangat seru, aku menyimpulkan bahwa Lie diidolakan oleh hampir semua supporter cewek dari timnya. Bahkan beberapa temanku pun ikut bersorak spontan kalau Lie berhasil melakukan shooting dengan indah. Pendek kata, dia menjadi bintang lapangan sore itu.

Nah, pada saat tim putri bertanding -dan aku tidak diturunkan :( - secara tidak sengaja aku berpapasan dengannya di sudut halaman, saat aku membeli minuman dingin dan menikmatinya pelan-pelan, seorang diri.

"Dari SMP dua sembilan ya ?", tanyanya ramah.

Pertanyaan gombal, batinku kesal. Sudah tahu, nanya. "Bukan. SMP songo likur", jawabku asal. Males meladeni, wong tidak kenal ini.

"Ha..ha..ha...", tawanya meledak. Alamak...ketawanya enak sekali didengar. Wajahnya mirip-mirip bintang Korea yang sekarang lagi ngetop itu tuh, siapa ya namanya.

"Kamu Nandang, kan ? Lupa ya, kita pernah ketemu di Tugu Pahlawan, waktu ada acara melukis massal", katanya lagi.  Tawanya masih tersisa, sementara matanya menatapku lekat.

Hah ?? kok dia bisa tahu namaku ? Melukis massal di Tugu Pahlawan ? Aku berusaha mengingat-ingat kejadian sekitar dua tahun sebelumnya.

Sambil tetap memegang botol minuman dingin dan meminumnya langsung dari botolnya, memoriku berputar-putar sampai akhirnya berhenti pada satu titik. Ah, ya, aku ingat sekarang. Lie adalah cowok yang melukis tepat di belakangku, di bentangan kain puluhan meter yang dihamparkan di sepanjang jalan mengelilingi Tugu Pahlawan.

---

Waktu itu ada perayaan apa, aku lupa, yang jelas tiap sekolah se-Surabaya mengirimkan tiga wakil untuk melukis bersama di atas kain putih tadi.  Aku dan dua teman lain mewakili sekolahku, begitu juga dengan Lie dan dua temannya yang mewakili sebuah SMP swasta favorit di kotaku.

Saat itu aku tengah kebingungan karena tasku yang berisi seperangkat alat lukis terbawa oleh guru pendamping, yang ngeluyur entah kemana. Waktu itu kan belum jamannya hape, jadi ya susah sekali mencari seseorang diantara kerumunan sekian ribu manusia.

Rupanya Lie memperhatikan keresahanku sejak tadi, dan berbaik hati meminjamkan sebagian peralatan lukisnya  padaku, lengkap dengan sepaket cat minyak yang sama sekali belum terpakai.

"Terima kasih ya, sudah dipinjami kuas sama catnya. Kalau tidak, aku melukis pakai tangan dong...bisa memecahkan rekor nih", kataku cengengesan sambil agak gombal-gombal dikit.
Grogi pek, berhadapan dengan cowok cakep.

Dari situ aku tahu namanya, dan ia pun tahu namaku plus sekolahku. Sudah, itu saja. Karena sepulang dari acara itu aku langsung lupa pada kejadian pinjam meminjam alat lukis, dan lupa pada Lie.

---


"Woi !, aku di sini !", teriak Lie sambil tangannya dikibas-kibaskan di depan mataku.

Ya ampun, mukaku memerah. Jadi dari tadi aku melamun ?
"Aku masih ingat, kok. Lie, kan ?, apa kabar ?", kuulurkan tangan yang tiba-tiba jadi gemetar.
Aku merasa canggung dan sangat malu, rasanya seperti adegan di sinetron deh.

Bla..bla..bla...
Tiba-tiba aku menemukan diriku sudah duduk di tepi lapangan, beralas sepatu kets, dengan Lie di sampingku melakukan hal yang sama, dan kami ngobrol seperti layaknya dua sahabat yang tiap hari bertemu.

Sampai disini ingatanku memudar. Nama Lie terlupakan, karena begitu banyak nama-nama lain yang kemudian bermunculan. Teman-teman baru dari berbagai kegiatan yang aku ikuti.

***

Bertahun kemudian, saat aku sudah menjadi mahasiswi, ada seorang teman kuliah yang menatap wajahku lekat sambil berkata, "Ndang, kamu punya tahi lalat di hidung, dagu, dan dahi dalam garis segitiga. Tipe wanita pembawa hoky, kata orang Cina".

What ?? ...Ooh... ini rupanya yang membuat beberapa orang yang kukenal, yang bermata sipit dan berkulit kuning, sering menatapku sampai membuat aku jengah dan malu. Termasuk Lie, nama yang tiba-tiba muncul lagi saat 'tatap menatap' ini disebut.

Ah, Lie...dimanakah kamu sekarang ?

***

Sssttt...sebagian dari kisah ini adalah nyata. Sisanya, setengah nyata setengah ngawur. Di bagian mana ngawurnya ? Biarlah hanya aku, Lie, dan Tuhan saja yang tahu.

---





Tidak ada komentar: