Setelah Ramadhan berjalan sekian hari, seperti ada yang hilang dari rutinitas makan sahurku; suara petasan. Tahun-tahun sebelumnya, makan sahur dengan mata masih setengah mengantuk, ditemani acara tivi yang gak bagus-bagus amat, terasa sekali nikmatnya karena telingaku masih menangkap suara petasan bersahutan di kejauhan.
Karena posisi rumahku yang menghadap dua jalur tol dan dua jalan raya, suara petasan yang menggema menjadi semacam oase, selingan diantara bising lalu lintas. Apalagi aku punya kebiasaan membuka semua pintu dan jendela saat makan sahur, meskipun masih pagi buta.
Semakin tahun, aku merasa suara petasan semakin berkurang intensitasnya. Kalau beberapa tahun lalu masih terdengar bunyi petasan saat makan sahur dan menjelang shalat tarawih, tahun berikutnya hanya saat makan sahur saja, lalu saat menjelang shalat tarawih saja, lalu sekarang sama sekali tidak terdengar.
Aku jelas merasa sangat kehilangan *berkaca-kaca*...karena bagiku; bukan Ramadhan namanya kalau tanpa suara petasan.
---
Dulu, waktu aku masih kanak-kanak dan belum paham betul arti Ramadhan, aku menandai bulan istimewa ini sebagai bulan yang mengesankan, berbeda dari bulan-bulan lainnya. Ada acara jalan pagi setelah makan sahur, shalat tarawih yang diakhiri tabuhan beduk bertalu-talu --aku dan teman-teman kecilku suka berjoget jejingkrakan mengikuti irama bedug--, dan yang paling asyik adalah bersepeda setelah shalat subuh.
Karena tinggal di kampung, aku jadi punya banyak teman dan kami selalu melakukan apapun beramai-ramai. Setelah makan sahur, sambil menunggu adzan subuh, biasanya kami jalan-jalan pagi. Tujuannya hampir selalu tanah kosong dibelakang masjid yang berbatasan langsung dengan kali Brantas.
Ini adalah lokasi favorit kami, karena disitu tumbuh dua pohon mangga yang sangat besar. Saking besarnya, batangnya hanya bisa dipeluk oleh tangan dua orang dewasa. Kedua pohon mangga ini selalu berbuah bergantian. Buahnya sangat lebat, ranum, dan manis. Oleh pemiliknya buah-buah itu tidak pernah dipetik.
Nah, disinilah asyiknya. Dalam suasana gelap gulita, hanya sedikit cahaya remang-remang dari rumah-rumah diseberang sungai, kami menunggu dengan sabar buah-buah mangga itu berjatuhan. Lalu kami akan ramai-ramai berebut siapa yang paling cepat mengambilnya dari semak-semak.
Kalau terdengar suara, "bhuk !" maka kami segera berlari kearah sumber suara sambil tertawa berderai. Tidak jarang kami mengakhiri perburuan subuh itu dengan hasil yang memuaskan, plus nafas ngos-ngosan dan baju kuyup oleh keringat. Tapi yang lebih sering sih kami pulang dengan tangan hampa, alias tidak menemukan mangga sebijipun.
Saat bapak dan ibuk tahu 'kegiatanku' yang satu ini, mereka hanya wanti-wanti padaku untuk tidak ikut makan mangga hasil buruan, "Biar untuk teman-temanmu saja, kamu sudah terlalu banyak makan buah. Emang mau jadi kalong ?". hehehe...
Oh ya, aku juga suka main petasan. Namanya mercon bantingan, karena cara membunyikannya dengan dibanting, atau dilemparkan ke dinding. Bentuknya bulat putih, hampir sebesar pentol bakso gitu deh... Biasanya aku belinya nitip sama teman cowok yang tinggal di belakang rumah. Nitipnya juga sembunyi-sembunyi, karena kalau ketahuan ibuk aku bisa kena cubit di paha --cubitan ini rasanya bikin aku nyaris pingsan dan bekasnya biru gelap--.
Sepanjang ingatanku, selama sebulan penuh Ramadhan kala itu, suara petasan nyaris tidak pernah berhenti. Dan buatku, suara ini begitu merdu dan menyentuh hati. Aku masih ingat aroma bubuk mesiu setelah petasan dibunyikan, lalu serpihan kertas bekas ledakan petasan yang memenuhi hampir sepanjang jalan di kampungku.
Semuanya seperti baru terjadi kemarin. Begitu membekas di benakku, begitu lekat di ingatanku. Aku jadi rindu almarhum bapak, rindu pada rumah sederhana kami yang hangat, rindu pada teman-teman masa kecilku di kampung, dan rindu pada suasana Ramadhan yang syahdu.
Ramadhan tanpa petasan, seperti pelangi yang kehilangan warna. Dan, hatikupun gerimis...
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar