Bulan baik, dengan penuh syukur, aku merasa segala sesuatu berjalan menuju ke arah yang baik. Semuanya, terutama urusan domestik yang berhubungan dengan anak-anak, suami, orang tua, mertua, keluarga besar, dan yang tidak ketinggalan para asisten.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, memasuki bulan Ramadhan aku sudah harus bersiap menghadapi berbagai gempuran --are you serious?..yes, i am--. Speed review aja ya; bersitegang sedikit dengan ibuk soal saluran pembuangan yang mampet dan luber kemana-mana. Menjengkelkan sekali karena lagi-lagi aku tidak bisa membendung air mata kesedihan --gombaaaal..--. Versi ibuk; akulah biang keladi dari semua kekacauan ini. Enam ekor indukan kelinci anggoraku membuat lubang sampai menembus bak kontrol belakang. Hiks..hiks..ibuk ampunilah anakmu yang manis ini...:(
Efek dari 'tragedi saluran pembuangan' ini sampai juga ke mertua. Beliau cuma bilang ke MD,"Tutut harus lebih sabar. Kalau butuh tempat curhat, ibuk mau kok dicurhati". Ah, ibuk dan bapak mertua memang sayang banget sama aku, persis seperti anaknya...hehehe...
Soal anak-anak, seperti biasa; memusingkan, mengaduk emosi, tapi menggelikan juga. Arum terkaget-kaget dengan kegiatan ekstra padat dari sekolahnya. Aku iba melihat ia harus pontang-panting membagi waktu antara sekolah dan les musik yang tetap harus dijalaninya.
Sampai pada suatu hari ia merengek, "Papa, aku bolos ya. Sehariii aja..", katanya memelas. MD menjawab enteng, "Boleh, kalau temanmu yang lain pada bolos juga". Duh, nak...ini belum ada apa-apanya dan kau nyaris menyerah. Kau akan menghadapi berlipat-lipat lebih berat dari ini suatu saat nanti. Papa-mama hanya berharap kau menempa diri lebih keras dan lebih bersungguh-sungguh sejak sekarang.
Dinda, tahun ini mencatat prestasi di mata kami; puasanya penuh sejak hari pertama. Meskipun untuk itu aku harus menemaninya tiduran di depan tivi sepanjang sore sampai menjelang berbuka, sambil terus membujuknya untuk bertahan. Ibuk mertua dan Bik Sam, tukang masak kami, selalu manyajikan menu-menu kesukaan Dinda, demi membuat Dinda bersemangat makan sahur.
Seolah tidak mau ketinggalan menguji aku; tiga asisten yang berbicara dalam bahasa yang tidak aku pahami, berselisih paham dan saling mendiamkan satu sama lain. Suasana di ruang belakang jadi tidak nyaman, terasa sekali ada perang dingin sedang terjadi.
Dengan santai dan sedikit masa bodoh, aku berbicara dengan mereka satu persatu. Aku bilang bahwa sikap mereka membuat suasana rumah jadi tidak nyaman. Setelah tidak berhasil mengorek masalah yang sebenarnya, aku hanya berpesan bahwa mereka akan pulang lebaran bertiga, dan kembali ke Surabaya juga bertiga. Alhamdulillah mereka menyanggupi.
Pada bulan ini juga, MD mulai merintis unit usaha kami yang baru. Sebetulnya tidak benar-benar baru, karena jauh sebelumnya kami sudah pernah cukup serius menekuni bidang ini. Saat itu kami sudah menginveskan tidak sedikit waktu, tenaga, dan biaya. Mungkin karena timingnya tidak tepat, atau belum saatnya terjadi, sehingga usaha kami itu tidak berjalan optimal. Untuk yang sekarang, aku merasa boleh berharap banyak. Semoga...
O ya, satu lagi...hiks,..Grand Feroza kesayanganku akhirnya berpindah tangan tepat pada 1 Agustus kemarin. Menurut MD, aku tidak pantas lagi naik mobil gagah perkasa seperti itu, dan sebagai gantinya sebuah mobil keluarga model terbaru dikirimkan ke rumah beberapa hari sebelum mobil lamaku terjual.
Feroza warna silver metalik ini sudah ada setahun sebelum Arum lahir, dan selama itu pula aku sangat dekat dengannya. Hiks...separuh jiwaku pergi :(
---
Ramadhan tahun ini sungguh luar biasa. Ada begitu banyak air mata, ujian yang tidak kusangka sanggup menyelesaikannya, kegembiraan dari hal-hal kecil yang tidak kusadari sebelumnya, berkah dan karunia tiada putus, silaturahim yang tersambung kembali, dan kemampuan menolong orang lain jauh lebih besar dari sebelumnya. Alhamdulillah...
Dalam banyak hal, aku berusaha untuk terus bertumbuh selagi aku diberi waktu untuk melakukannya. Kalau sebelumnya tingkat emosiku di level 9, sekarang berangsur-angsur turun mencapai level 5. Tidak impulsif dan meledak-ledak, juga tidak reaktif berlebihan lagi.
Waktu mengubah segalanya. Waktu jugalah yang akan menentukan segalanya. Tapi, mulai hari ini aku bertekad untuk terus berubah menjadi lebih baik. Bermetamorfosa dari seekor ulat buruk rupa menjadi kupu-kupu yang cantik...
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar