Rabu, 08 Agustus 2012
Aku dan Buku
Iseng membongkar-bongkar rak buku di sudut rumah yang paling tidak pernah terjamah, coba tebak apa yang kutemukan ?
Novel-novelku yang belum terbaca, karena terlalu tebal, karena belum mood lihat covernya, karena lupa kalau pernah beli judul ini. Pffuuhh...ternyata jumlahnya banyak sekali. Lebih dari sepuluh judul dengan tebal rata-rata diatas enam ratus halaman.
Aku bengong. Ternyata ada harta karun tersembunyi di sini ya?...gak kepikiran...hehehe...
Ada novel Salman Rushdie yang kontroversial, ada Gold Edition Mahabharata, ada kisah klasik kaisar perempuan dari China, ada novel terjemahan dari tahun 880 masehi, ada balada tentang anak-anak Afghanistan, dan beberapa novel romantis yang kelihatan sangat menarik dari judulnya.
Kok bisa bacaan sebagus ini terlewat dari aku ya? Apakah aku sudah sedemikian sibuk sampai tidak punya waktu lagi untuk memuaskan hobiku membaca?
---
Sejak kecil aku sudah akrab dengan buku, majalah, dan novel anak-anak. Kalau aku ulang tahun, hampir pasti hadiah dari bapak-ibuk adalah pergi ke Sari Agung --toko buku terkenal jaman itu-- dan memborong buku bacaan sebanyak yang aku mau. Semua buku-buku itu kusimpan rapi. Kalau bukan karena heboh pindah rumah dan banyak barang-barang kami yang terabaikan, mungkin sampai sekarang buku-buku itu masih ada.
Waktu era Gramedia, aku semakin menggila..hehe.. Pergi ke toko buku sudah jadi senjata bapak untuk mengatasi keenggananku pergi ke dokter setiap hari, selama enam bulan penuh. Kalau setiap sore bapak bersedia membelikan dua judul, coba hitung berapa banyak koleksiku selama enam bulan. Asyik kan ?
Ada beberapa buku yang sampai sekarang kusimpan, sejak SMP, hadiah dari bapak dengan misi khusus di dalamnya. Aku sedang seru-serunya menikmati masa remaja, bapak menghadiahkan novel dengan setting kehidupan anak-anak SMP, dan aku tahu aku harus mengambil pelajaran dari cerita dalam buku itu.
Lalu waktu aku sudah SMA, kejadian yang sama terulang. Bapak menghadiahkan sebuah buku, novel percintaan remaja khas anak-anak SMA, dan aku langsung tahu apa maksud pemberian ini. Ah bapak, orang yang paling mengerti dan menyayangi aku, selalu tidak tega menegur kalau aku melakukan kesalahan. Caranya menyindir melalui buku, ampuh membuat aku sangat menjaga pergaulan dan perilaku hingga detik ini.
---
Kegemaran membaca ini menurun juga ke Arum-Dinda. Tidak heran kalau setiap sudut rumah kami penuh dengan majalah, koran, buku-buku, ensiklopedi, dan berbagai macam bacaan. Semua ada pemiliknya. Karena masing-masing dari kami punya selera berbeda dalam membaca.
Membaca juga menjadi caraku mengisi waktu di manapun berada; saat bengong menunggui Arum-Dinda les, menunggu MD selesai meeting, menunggu antrian di tempat praktek dokter, menunggu boarding di bandara, pokoknya di mana saja deh. Menunggu jadi tidak terasa membosankan kalau ditemani buku.
---
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar