Selasa, 14 Agustus 2012

Menghitung Nikmat

Selama ini aku belum pernah meluangkan waktu khusus untuk menghitung berapa banyak nikmat yang sudah diberikan Tuhanku padaku. Bersyukur, selalu. Tapi mengidentifikasi dan menyadari nikmat apa saja yang sudah aku rasakan, sama sekali belum pernah. Bahkan tidak pernah terpikir sebelumnya.

Subuh tadi, di sela-sela menyelesaikan pekerjaan rumah karena para asisten sudah mudik, terbersit dalam benakku betapa nikmatnya saat kita sehat. Kupandangi kedua belah tanganku. Lengkap dan kuat. Lihat; piring kotor yang menggunung, dapur dan ruang keluarga yang berantakan, halaman yang penuh daun-daun kering, dan bunga-bunga yang kehausan minta disiram, semuanya beres dikerjakan oleh tanganku yang hebat ini.

Itu baru tangan. Padahal dengan kondisi yang sangat stabil dan sehat, hampir semua anggota badanku berfungsi normal. Bagaimana jadinya andai kakiku tidak bisa digerakkan. Apa yang bisa aku lakukan kalau kedua mataku tidak berfungsi. Betapa sengsaranya aku jika paru-paruku tidak bisa mengembang dan aku gagal bernafas. Hiii...tidak terbayangkan.

---

Akhir-akhir ini aku kerap terlibat obrolan ringan dengan teman-teman dekat, sharing tentang keluarga masing-masing. Topik favoritku. Bukan untuk tujuan membanding-bandingkan, tapi semata ingin berbagi solusi untuk masalah-masalah yang kami sendiri sulit mengatasinya. Dari sini aku menyimpulkan bahwa; semua kenikmatan yang diberikan Allah pada kita, tidak ada artinya kalau kita tidak pandai bersyukur.

Anak-anak yang sehat, selalu gembira, hormat dan patuh pada orang tua, adalah nikmat. Suami yang penyayang, selalu ada saat aku membutuhkan, meskipun ia menjaga aku lebih ketat dari satpam tapi selalu berbicara lemah lembut, adalah nikmat. Kesehatanku sampai detik ini, adalah nikmat. Lalu apalagi ? rasanya aku tidak sanggup menghitung saking banyaknya... Alhamdulillah...

---




Tidak ada komentar: