Rabu, 14 Desember 2011

Kayuh Biduk Dengan Iman, Rengkuh Samudra Dengan Ilmu...

--Tergerak untuk menulis setelah terlibat pembicaraan seru dengan seorang teman lama. Ceritamu, keluh kesahmu, semoga semakin mendewasakan. Satu hal yang harus kau tahu; Pernikahan yang indah dan abadi adalah hasil perjuangan dua hati. Bukan salah satu--

***

Kayuh biduk dengan iman, rengkuh samudra dengan ilmu.
Barisan kata di atas aku baca belasan tahun lalu, dalam sebuah buku saku Risalah Nikah yang kuperoleh ketika menghadiri pernikahan seorang teman. Siapa penulisnya, aku sudah lupa, terlebih isinya.

Aku hanya ingat intinya, bahwa apapun yang kita lakukan dalam kehidupan berumah tangga, harus selalu berlandaskan pada kepercayaan yang kita yakini. Dan setiap langkah kita menggapai impian harus diiringi dengan kesadaran, bahwa langkah itu membawa kebaikan untuk diri sendiri dan orang lain.

Bagaimana dengan pernikahanku ? Apa yang terjadi dalam perjalanan kehidupan antara aku dan suami selama 16 tahun ini?  *membayangkan suami yang sedang jauh...kangen*

Saat ini aku dan MD sungguh bersyukur sudah sampai pada tahap 'saling membutuhkan dan saling merindukan' yang akut. Aku tidak bisa terlalu lama jauh darinya, karena itu akan membuat otakku beku, tidak bisa berpikir jernih. Aku selalu merindukan kehadirannya di sisiku. Terlebih lagi, MD itu sudah lebih dari sekedar suami buatku. Dia itu ibaratnya separuh nafasku. Tanpa dia aku tidak tahu apa jadinya diriku.

Bukan bermaksud GR, tapi aku melihat MD juga merasakan hal yang sama padaku. Betapa di balik kehebatannya di luar, dia sangat tergantung padaku. Tidak satupun keputusan-keputusan besar yang dia ambil, tanpa melibatkan aku dan mendengar pertimbanganku. Apalagi keputusan dan langkah-langkah kecil. Semua lahir dari kesepakatan kami berdua, baik itu menyangkut keluarga maupun pekerjaan.

Sebagai ibu rumah tangga penuh, aku seringkali  minder dan merasa tidak berarti. Karena semua kebutuhan keluarga kami, menjadi tanggung jawab penuh suamiku. Pagi saat suami keluar rumah untuk menjalankan aktifitasnya, aku merasa saat itulah aku berada di titik terendah; aku di rumah berkutat dengan urusan domestik, sementara suami di luar melihat 'pemandangan indah'.

What can I do ?
Jelek-jelek begini aku sarjana lho. Aku boleh saja tetap di rumah, tapi  tidak mau dong kalau aku menjadi 'bukan siapa-siapa'. He..he.. jadi curhat nih. Untungnya MD tanggap pada kegelisahanku, kerinduanku untuk beraktifitas lagi dan mengeksplore semua kemampuan yang aku miliki.

Berbekal restu suami, aku mulai sedikit demi sedikit merintis aktifitas di luar rumah. Bergiat pada berbagai kegiatan di sekolah anak-anakku, memulai bisnis kecil-kecilan, sesekali olah-raga, dan yang paling mengasyikkan adalah bertemu lagi dengan teman-teman lama untuk membicarakan berbagai hal -bukan bergosip lho..-.

Untuk semua yang aku lakukan itu, MD hanya mengajukan satu syarat; ingat tugas dan kewajiban. Artinya, sesibuk apapun aku di luar, ketika rumah dan keluarga memanggil maka itulah saatnya aku harus ada sepenuhnya untuk mereka; suami dan anak-anakku. Sepenting apapun keberadaanku untuk orang-orang di luar rumah, prioritasku tetap sama yaitu MD, Arum dan Dinda.

Satu lagi yang paling penting -MD wanti-wanti betul tentang ini- jangan pernah sedetikpun lupa diri, selalu bentengi diri dengan iman. Ingat bahwa apapun yang kita lakukan selalu akan berdampak, kalau melakukan hal positif dampaknya juga positif, dan begitu pula sebaliknya. Mungkin ini maksud dari kalimat diatas; kayuh biduk dengan iman.

Kalau dibilang aku melakukan semua aktifitas itu sekedar untuk mengisi waktu, tentu salah. Tidak banyak merubah kondisi finansial keluarga memang, tapi coba lihat bagaimana semuanya itu membawa pengaruh untukku. Pada sesi Parenting Skill di sekolah, aku mendapat banyak masukan dan wacana baru tentang cara cerdas menghadapi anak-anak. Lalu dalam bisnisku yang kata MD ancurr abess, aku belajar ilmu ekonomi secara live, menempa diri menjadi lebih struggle dan berpikir lebih realistis.

Pointnya adalah; kehidupan ini ibarat samudra maha luas yang harus kita arungi, mau-tidak mau, suka atau tidak suka. Bagaimana kita bisa selamat sampai dermaga kalau tanpa bantuan  peralatan, dan  pengetahuan tentang  cara menyiasati ganasnya badai dan gelombang ?
Peralatannya adalah iman, pengetahuannya adalah ilmu tentang hidup.

***
Tulisan kadaluwarsa, yang semoga tetap up to date.



2 komentar:

Anonim mengatakan...

mbak Nandang....sangat menyentuh perasaan yang terdalam....terima kasih atas pencerahannya.....

dwinandangpangestuti mengatakan...

Terima kasih kembali.
Saya tidak bermaksud menggurui siapapun. Ini hanya arsip pribadi yang semoga bisa diambil hikmahnya walau sedikit.
Saya tidak anti kritik lho...jadi kalau suatu saat tulisan saya merugikan dan tidak mendidik, saya mau kok dikoreksi.