Sabtu, 03 Desember 2011

I Love Myself Just The Way I Am....

Beberapa minggu lagi tahun 2011 berakhir. Perasaan kok cepat sekali ya, seperti baru kemarin kami menghabiskan malam pergantian tahun dengan pesta kembang api, dan sekarang malam pergantian tahun berikutnya sudah di depan mata. Jadi merinding waktu aku sadar, bahwa secepat itu pulalah usiaku mengalir. 

Masih jelas dalam ingatan saat pertama kali aku masuk sekolah pada usia 4 tahun. Lalu beberapa tahun kemudian memakai seragam SD, menjadi murid terkecil di kelas dan selalu jadi korban keusilan teman-teman.  Pulang sekolah sambil menangis, sudah tidak aneh lagi buat ibukku. Beliau cuma bilang, " Kalau besok masih pulang sambil menangis, lusa dan seterusnya tidak usah sekolah." Diultimatum begitu, sekuat tenaga aku putar otak mengatasi gangguan teman-teman, dan berhasil.   

Lalu berbagai peristiwa berkelebat silih-berganti dalam ingatanku. Sambung menyambung, runtut, dan berwarna-warni. Akhirnya... disinilah aku sekarang. Seorang ibu dari dua permata -sebenarnya tiga, kalau saja jagoan kami tidak keburu diambilNya- , istri dari wirausaha sukses yang tetap rendah hati, dan teman bagi siapapun  yang membutuhkan sepasang telinga untuk mendengar keluh-kesah.

Kadang terbersit juga betapa secara fisik aku sudah jauh berubah, meskipun secara mental aku merasa semakin baik dari hari ke hari. Lihat saja, bobot tubuhku sudah melonjak 25 kg dari waktu menikah 16 tahun lalu. Gurat-gurat usia yang terpahat di wajahku, adalah harga yang harus aku bayar untuk setiap kedewasaan dan kebijaksanaan yang aku punya. Begitu juga dengan helai-helai uban yang tumbuh tanpa henti di kepala, adalah ganjaran untuk setiap moment indah yang bertaburan di sepanjang usiaku.

Suatu ketika aku pernah menyampaikan keinginan pada MD untuk mereparasi total penampakanku saat ini -penampakan ?...emang hantu-. MD melarang keras. Keputusan yang sangat aku syukuri pada akhirnya. Jauh setelah pembicaraan kami itu, aku baru sadar bahwa sesuatu yang tampak indah di luar belum tentu sama indahnya juga dengan yang di dalam. 

MD menolak lipposuct alias sedot lemak untuk badanku yang melar. Sebagai gantinya dia mendatangkan alat fitness ke rumah, dan membeli CD kebugaran  dari berbagai versi. Waktu aku risau dengan semburat putih di rambutku, dengan enteng dia menganjurkan aku mengecat rambut dengan warna merah dan sesudahnya aku selalu harus melepas kerudung di dalam rumah agar ia dapat melihat 'rambut artis'.

Dari sentilan-sentilan kecil itu aku sadar bahwa seiring usia bertambah maka fisik kita juga akan berubah. Ini adalah hukum alam, yang kalau dipahami dan di terima dengan hati bersih akan terasa sangat indah. Sungguh tidak lucu, kukira, kalau aku bertambah matang secara emosi tapi tampangku tetap secantik Arum. Atau, aku sudah semapan ini tapi badan masih setipis ABG. Bisa-bisa suamiku dikira tidak bisa memberi makan aku dengan layak

Aku bersyukur tidak terlambat menyadari, bahwa apapun yang aku punya saat ini, bagaimanapun kondisiku saat ini, adalah yang terbaik untukku. Aku bersyukur terlahir normal dan sehat -terima kasih tanganku, kakiku, seluruh anggota tubuhku-. aku bersyukur tetap bisa beraktifitas normal, tetap sehat dan bugar meskipun wajah tidak semulus artis Hollywood -Angelina Jolie, kan cantik banget :)- dan tubuh tidak seramping dua puluh tahun lalu. Ahhh....aku sangat bersyukur dengan apa adanya diriku. I love myself just the way I am...

Tidak ada komentar: