Rabu, 21 Desember 2011

Lingkaran Cinta Antara Nenek, Aku, Dan Ibuk

Kupersembahkan tulisan ini untuk nenekku, dan ibukku...dengan penuh hormat dan cinta. Selamat hari ibu...

***


Aku adalah sulung dari tiga bersaudara, setelah kakak perempuanku meninggal sewaktu bayi. Dari pihak bapak dan ibuk, aku juga cucu pertama untuk kakek-nenekku. Kami adalah keluarga sangat besar, karena ibukku sulung dengan sembilan adik, sedangkan bapak sulung dengan dua belas adik.

Karena cucu sulung, aku menjadi kesayangan keluarga, terutama nenekku dari pihak ibu. Menurut cerita ibuk, nenek adalah anak tunggal yang telah menjadi yatim piatu sejak kanak-kanak. Berbagai harta peninggalan almarhum orang tuanya tidak sanggup mengusir rasa kesepian yang kerap mendera. Mungkin itu sebabnya nenek menjadi pribadi yang aneh di mata banyak orang. Pendiam, tertutup, dan paling tidak mau menunjukkan perasaan, baik rasa benci, apalagi rasa sayang.

Meskipun begitu, kesan yang kutangkap jauh berbeda. Kalau aku menginap di sana saat masih kecil dulu, hampir setiap malam aku tidur ditemani nenek. Tangan ringkihnya akan memijit-mijit kepalaku pelan, sambil bertanya ini itu kepadaku dengan suaranya yang rendah dan nyaris tanpa ekspresi.

Dalam usia itu aku belum paham, bahwa nenek sedang berusaha menunjukkan perasaan sayangnya padaku. Itu adalah satu-satunya moment beliau berkomunikasi, sebab pagi harinya nenek akan menjelma kembali ke dalam pribadinya yang sebenarnya. 

Rupanya tipe kepribadian seperti ini menurun pada ibuk. Yang lekat di benakku tentang ibuk adalah seorang wanita tidak banyak bicara tapi sangat tegar dan tangguh. Kalau sekarang ibuk menjelma menjadi wanita paling cerewet yang pernah kukenal, mungkin itu karena kami, anak-anaknya, terlampau sering mengecewakan.

Aku, ibuk, dan nenek punya persamaan  unik. Kami bertiga sama-sama 'cancer survivor', meskipun nenek harus menyerah lebih dulu. Beliau wafat saat aku kelas 1 SMA setelah bertahun-tahun berjuang melawan kanker ovarium, yang belakangan diturunkan juga pada ibuk dan tanteku. Sepuluh tahun lalu, tanteku menyerah karena kanker serviks. Sedangkan ibuk, dengan ketegaran luar biasa, berhasil melawan kanker ovarium dan sehat wal afiat hingga detik ini.

Ibukku juga sama kakunya dengan nenek. Ibuk sulit menunjukkan perasaan sayang pada siapapun, seolah menyatakan 'aku sayang kamu' itu suatu dosa besar. Ekspresi tegas dan marah yang sering ditunjukkan, belakangan baru aku sadari sebagai cara beliau menyayangi dan memberi perhatian. Itu sebabnya aku dan dua adikku lebih dekat pada bapak, yang lembut, penyayang, dan mudah tersentuh.

Pada dua putriku, ibuk justru lebih bisa berbicara manis dan penuh pengertian. Mungkin memang seperti yang orang bilang, bahwa seorang nenek lebih sayang pada cucunya daripada anaknya. Arum-Dinda tampak lebih akrab dengan ibuk, dibandingkan aku sendiri dulu pada saat seusia mereka. Ibuk mengkhawatirkan Arum-Dinda lebih daripada mengkhawatirkan aku ketika aku mengalami hal yang sama puluhan tahun lalu.

Setelah hampir tiga puluh sembilan tahun, aku mulai dapat memahami betapa sebenarnya ibuk sangat mencintai dan menyayangiku. Aku mulai tersentuh dengan pesan-pesan beliau yang sekarang tidak lagi disampaikan dalam nada tegas. 

Kalau aku mohon doa karena sedang menghadapi banyak masalah, beliau akan bilang; "Kamu pikir apa yang ibuk lakukan setiap malam ? siapa yang ada dalam hati ibuk, dan apa yang paling ibuk inginkan sebelum ibuk meninggal ?" Sambil bilang begini biasanya air mata ibuk  mengalir, tapi tetap tidak ada kata 'ibuk sayang kamu, nak' yang sangat aku impikan. Ibuk punya cara sendiri untuk menyampaikan perasaannya.

***

Dari tadi itu, dari cerita yang muter-muter itu, aku sebenarnya hanya ingin bilang; terima kasih, buk. Semua marahmu, omelanmu, dan sikap tegasmu, adalah ungkapan sayang paling tulus yang pernah kuterima. Buk, aku sayang pada ibuk.

***

Tidak ada komentar: