Tadi pagi dapat tugas dari MD untuk mengantar Arum-Dinda ke sekolah, karena MD harus membawa bapak mertua ke pengobatan alternatif pukul 5 habis subuh. Karena berhasil 'ready to go' lebih awal dari biasa, aku lebih santai; naik motor menikmati udara pagi.
Sekolah anakku yang terletak di sebuah kawasan cukup elite, sudah bisa di tebak jadi langganan macet tiap pagi. Untungnya kami naik motor, jadi bisa menyusup di sela-sela deretan ratusan mobil yang semuanya ingin berhenti tepat di depan pintu gerbang sekolah. Setelah kedua anakku masuk, aku menepikan motor dan memarkirnya di pojok dekat pos satpam sekolah, lalu duduk memandangi semua kesibukan yang kelihatan menarik di mataku.
Diantara begitu banyak orang berlalu-lalang, tampak seorang bapak sepuh yang dari pakaiannya aku menduga ia seorang peminta-minta. Bapak ini tubuhnya ringkih, dengan tangan dan kaki berbalut daging tipis sehingga tulang-tulangnya menonjol. Samar-samar aku ingat, bapak tua ini adalah pengemis yang biasa mangkal di jalan tembus sebelah kantor Jawa Pos Karah Agung, duduk bersandar di dinding dengan mata terpejam dan tangan menengadah.
Beberapa waktu yang lalu, tiap kali pulang dari pasar, aku sengaja memutar ke jalan tembus itu untuk sekedar berbagi sebungkus nasi, air mineral, dan sebutir jeruk untuk pak tua ini. Atau di lain kesempatan aku melihat ada orang lain yang juga memberikan sebuah bungkusan dan mengangsurkan beberapa helai uang ribuan ke tangannya.
Suatu ketika aku dan Mbak Imel sengaja membawakan untuknya sebuah bingkisan, mewakili ibu-ibu Komite Sekolah . Dari kejauhan tampak pak tua sibuk meletakkan tangannya ke dekat telinga, seperti orang sedang menelpon.
"Si Bapak lagi nelpon siapa ya ?", tanyaku penasaran.
"Anaknya kali, atau istrinya", kata Mbak Imel. Temanku satu ini top banget positif thinking-nya.
"Serius amat. Paling dia mesen-mesen ke istrinya; hati-hati di rumah, jaga diri baik-baik, jangan lupa masak sayur kesukaanku, jangan lupa bikin kopi kalau aku pulang nanti sore. Paling gitu ya", aku menebak-nebak.
"Emang istrinya kayak sampeyan, yang mesti harus dipesenin ini-itu...", jawab Mbak Imel sadis.
Pak tua buru-buru mengakhiri pembicaraan yang tampaknya asyik, begitu kami berdiri di depannya. Aku bengong dan kehilangan kata-kata. Dari cara bicaranya, dari isi pembicaraannya -yang sempat aku tangkap beberapa potong- sama sekali tidak 'match' dengan penampilan dan 'profesi' yang sedang ia jalani. Yang paling menyita perhatianku adalah hapenya. Tampak masih baru, mengkilap, dan...lho itu kan Black**** !!
"Alamak, hapenya keren banget. Qwerty bo'...ha..ha..ha..", Mbak Imel terbahak-bahak. Tanpa sadar aku memandang hape sederhana yang ada di genggaman tanganku. Jauh banget sama punya si bapak tua. Jadi ikut tertawa juga, karena aku yang merekomendasikan bapak tua ini untuk menerima bingkisan Baksos dari sekolah. Ada-ada saja !
Dalam perjalanan pulang aku hanya bisa bergumam, "Aku enggak bakal pakai BB yang kayak gitu. Ada yang ngembarin sih..".
Komentar Mbak Imel lebih tajam lagi, " Bapak itu lebih butuh duit buat beli pulsa daripada buat beli makanan, kayaknya".
Whatever will be...yang penting niat kami berbagi ikhlas dan tulus. Sisanya, terserah deh...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar