Jumat, 09 Desember 2011

Curhatan Dari Para Sahabatku

Pernahkah terlintas dalam pikiran kita, betapa sepi hidup ini tanpa teman-teman dan sahabat ? Aku tidak pernah membayangkannya, sampai aku mengalami banyak kejadian tak terduga dalam beberapa minggu terakhir. Bukan dengan sahabat dalam arti sesungguhnya, karena pada kenyataannya aku hanya mengenal orang-orang ini sepintas lalu. Tapi aku tidak menduga mereka mengartikan 'lebih'.

Suatu siang aku mampir ke warung rujak cingur kesukaan MD. Sudah beberapa bulan ini warung itu tutup tanpa aku tahu apa sebabnya. Begitu melihat aku, si ibu penjual rujak langsung menyambut, 
"Mbak...kok lama gak mampir kesini. Saya kangen. Saya kepingin cerita-cerita banyak lho...Saya kan habis sakit, kena stroke".
Weh ?? Baru ini dikangenin penjual rujak :)

"Kok bisa sampai stroke, gimana ceritanya, Buk ?" tanyaku antusias.
Lalu dari mulut si ibu penjual rujak meluncurlah cerita seru tentang asal muasal serangan strokenya. Mulai dari resahnya si ibu karena putri sulungnya tidak kunjung mendapatkan jodoh, padahal semua adiknya sudah menikah. Sampai ending yang bahagia karena akhirnya putrinya menemukan juga tambatan hati yang sangat pantas menurut si ibu. Dan berakhirlah riwayat serangan stroke itu.

Aku ikut lega mendengarnya. Sambil menyerahkan dua bungkus rujak cingur pesananku, si ibu berkata sambil tersenyum,
"Akhir Desember kawinan anak saya dirayakan mertuanya besar-besaran. Nanti mbaknya kesini saya tunjukkan fotonya, ya..".
Aku hanya bisa membalas senyumnya dengan tulus, karena si ibu hanya mengenalku sebagai  'mbak yang rumahnya dekat Unmer'  :)

Ada lagi seorang ibu tukang permak jeans yang mangkal di depan Indomaret. Aku sering menggunakan jasanya untuk sekedar memasang badge di kerudung Arum-Dinda, menjahit celana pendek MD yang sering sobek, atau menisik jeansku yang compang-camping di sana-sini karena aktifitasku. Pernah aku tidak datang padanya selama beberapa bulan. Ketika aku muncul sambutannya sungguh di luar dugaan. Begitu urusanku selesai, dia terang-terangan mencegah aku pergi karena masih ingin cerita-cerita.

"Mbak, sampeyan inget gak orang yang saya ceritakan dulu itu ? Teman suami saya yang mandor pembangunan Masjid Agung itu lho..."  bla...bla...bla...
Lalu dia mulai bercerita tentang suaminya dan pengkhianatan temannya yang -konon- sangat melukai hati suaminya, dan membuat si suami 'mutung', tidak mau lagi bekerja di tempat lama. Akibatnya dia harus bekerja ekstra keras untuk menutupi biaya hidup yang selama ini dipikul berdua dengan sang suami. 

"Tapi sekarang saya sudah lega mbak. Gusti Allah tidak sareh. Setiap perbuatan, baik atau buruk, pasti ada balasannya. Iya toh, mbak..." katanya bijak.
Lagi-lagi aku tertegun, betapa ia begitu percaya menceritakan 'rahasia dapur' keluarganya padaku. Aku tidak banyak berkomentar, karena aku sadar ibu ini tidak butuh saran dan masukan. Ia hanya butuh seseorang dengan sepasang telinga yang sudi mendengarkan, dan Alhamdulillah aku bisa membantunya.
Aku tidak tahu siapa nama ibu ini, dan kukira ia pun hanya mengenalku sebagai 'mbak yang naik mobil putih'.

Sebenarnya masih banyak 'sahabat-sahabatku' yang lain. Ada bapak penjual sate ayam di pertigaan , ada bapak pemilik stand bunga di dekat rel kereta api, ada ibu penjual nasi jagung di pasar, ada juga ibu penjual bebek goreng di lapangan Karah, dan masih banyak lagi. Mereka semua tidak tahu namaku -karena memang tidak pernah bertanya-, mereka juga tidak tahu siapa aku dan di mana aku tinggal. Kupikir itu lebih baik, karena dengan begitu kami bisa berteman dengan tulus. Dan yang paling membahagiakan aku, aku melihat kelegaan yang nyata setelah mereka curhat padaku, orang yang sebenarnya tidak mereka kenal.

2 komentar:

Anonim mengatakan...

mbak Nandang....anda orang yang sangat baik,tulus dan ikhlas dalam membantu sesama...sangat jarang orang seperti anda....tetap istiqomah ya mbak....salam buat keluarga....

dwinandangpangestuti mengatakan...

Terima kasih. Saya juga dalam rangka curhat lho ini. Sebab saya merasa seringkali kepala penuh dengan berbagai masalah orang lain, tanpa saya tahu harus menumpahkannya pada siapa.
Semoga tidak bosan membaca blog saya ya...