Selasa, 31 Januari 2012

Dialog Antara Nandang dan Seorang Guru Sufi


Seorang guru sufi mendatangi Nandang -muridnya- ketika belakangan ini dilihatnya wajah sang murid sering tampak murung.

....
Guru sufi : Kenapa kau selalu murung, nak ? Bukankah banyak hal yang indah di dunia ini ? Kemana perginya wajah bersyukurmu ?

Nandang : Guru, beberapa waktu terakhir ini hidup saya penuh masalah. Sulit bagi saya untuk tersenyum. Masalah datang seperti tiada habis-habisnya.
[si murid menjawab dengan mata berkaca-kaca. Rasa sesak di dalam dadanya semakin menyiksa]

Guru sufi [menjawab sambil terkekeh-kekeh] : Nak, ambillah segelas air dan dua genggam garam. Bawa kemari. Biar kuperbaiki suasana hatimu...

....
Si murid beranjak pelan tanpa semangat. Dia berpikir, sang guru mau membuat ramuan jamu apaan ? Kenapa bahannya dua genggam garam ? Iih...terbayang gimana rasanya segelas air dicampur dengan dua genggam garam.
....

Guru sufi : Nah, sekarang masukkan segenggam garam ke dalam segelas air itu. Setelah itu coba kau minum airnya sedikit.
[si murid melakukannya. Wajahnya kini meringis karena meminum air asin]

Guru sufi : Bagaimana rasanya ?

Nandang : Asin banget, guru. Perut saya jadi mual. Hueek...

Guru sufi terkekeh-kekeh : Sekarang kau ikut aku. Kita ke danau...

....
Guru sufi membawa muridnya -yang meskipun berwajah murung tapi tetap manis itu- ke sebuah danau 'entahdimana'.
....

Guru sufi : Sekarang, tebarkan segenggam garam yang tersisa tadi.
[si murid menebarkan segenggam garam ke danau, tanpa bicara. Rasa asin di mulutnya masih belum hilang, malah semakin terasa mencekat lidah]

Guru sufi : Coba kau minum air danau ini. Bagaimana rasanya ?
[dengan menangkupkan kedua tangan, si murid mengambil air danau, lalu meneguknya perlahan]

Nandang : Segaaar... Terasa segar, guru. Rasa asin di mulut saya juga hilang.
[tanpa sadar si murid tersenyum, setelah tadi meringis merasakan asin garam]

Guru sufi : Terasakah rasa segenggam garam yang kau tebarkan tadi ?
[si murid menggeleng. Sekali lagi ia mengambil air dengan tangannya, lalu meneguk penuh dahaga]

Guru sufi : Nak, segala masalah dalam hidup ini seperti segenggam garam, tidak kurang tidak lebih. Hanya segenggam garam. 
Banyaknya masalah dan penderitaan yang kau alami sepanjang kehidupanmu itu, sudah ditentukan oleh Allah, sesuai untuk dirimu. 
Jumlahnya tetap, segitu-segitu saja, tidak berkurang dan tidak bertambah. Setiap manusia yang lahir ke dunia ini mengalaminya. Tidak ada satu manusia pun yang bebas dari penderitaan, meskipun ia seorang nabi. 

[si murid mendengarkan dengan takzim. Kepalanya tertunduk dalam, hatinya berkecamuk, dan matanya sudah menampakkan tanda-tanda banjir bandang]

Guru sufi : Tapi, nak, rasa asin dari penderitaan yang kita alami, sangat tergantung dari besarnya hati yang menampungnya.
Jadi, supaya kau tidak terus-menerus merasa terpuruk dan menderita, berhentilah menjadi gelas. Ubahlah kalbu dalam dadamu itu menjadi seluas danau. 
Ok, nak...senyummu terlalu berharga untuk disimpan sendiri. Orang-orang disekelilingmu pasti akan ikut gembira bila kau tersenyum lagi.

[perlahan si murid mengangkat kepala, mencoba tersenyum, meskipun tanda-tanda banjir di matanya belum berkurang. Sang guru, yang tak lain adalah suaminya sendiri, kembali terkekeh sambil menjitak kepala si murid]

***



Terima kasih untuk Ibuk, Papa, Arum-Dinda, Kevo-Kano-Nadine-Imee-Ireen, para ipar, dan seorang teman yang jauh. Semua cerita, keluh kesah, dukungan, canda-tawa, dan gurauan kita, membuat hidupku berarti.

---
               

Sabtu, 28 Januari 2012

Mengenang Lie, Teman Dari Masa Lalu

Dulu, duluuu sekali, aku pernah mengenal seorang cowok bermata sipit dan berkulit kuning, pada sebuah pertandingan persahabatan antara SMPku melawan SMP swasta tempatnya bersekolah. Waktu itu aku memperkuat tim basket putri, dan Lie -nama cowok itu- menjadi tim inti putra dari sekolahnya.

Secara fisik dia tidak terlalu menonjol dan istimewa dibanding teman-temannya yang lain, yang rata-rata berpostur di atas seratus tujuh puluh senti. Yang membuatnya tampak beda adalah tangannya yang kidal, tetapi sangat tepat tiap kali memasukkan bola ke dalam ring. Bidikan bolanya hampir tidak pernah meleset.

Selama tiga sesi pertandingan yang sangat seru, aku menyimpulkan bahwa Lie diidolakan oleh hampir semua supporter cewek dari timnya. Bahkan beberapa temanku pun ikut bersorak spontan kalau Lie berhasil melakukan shooting dengan indah. Pendek kata, dia menjadi bintang lapangan sore itu.

Nah, pada saat tim putri bertanding -dan aku tidak diturunkan :( - secara tidak sengaja aku berpapasan dengannya di sudut halaman, saat aku membeli minuman dingin dan menikmatinya pelan-pelan, seorang diri.

"Dari SMP dua sembilan ya ?", tanyanya ramah.

Pertanyaan gombal, batinku kesal. Sudah tahu, nanya. "Bukan. SMP songo likur", jawabku asal. Males meladeni, wong tidak kenal ini.

"Ha..ha..ha...", tawanya meledak. Alamak...ketawanya enak sekali didengar. Wajahnya mirip-mirip bintang Korea yang sekarang lagi ngetop itu tuh, siapa ya namanya.

"Kamu Nandang, kan ? Lupa ya, kita pernah ketemu di Tugu Pahlawan, waktu ada acara melukis massal", katanya lagi.  Tawanya masih tersisa, sementara matanya menatapku lekat.

Hah ?? kok dia bisa tahu namaku ? Melukis massal di Tugu Pahlawan ? Aku berusaha mengingat-ingat kejadian sekitar dua tahun sebelumnya.

Sambil tetap memegang botol minuman dingin dan meminumnya langsung dari botolnya, memoriku berputar-putar sampai akhirnya berhenti pada satu titik. Ah, ya, aku ingat sekarang. Lie adalah cowok yang melukis tepat di belakangku, di bentangan kain puluhan meter yang dihamparkan di sepanjang jalan mengelilingi Tugu Pahlawan.

---

Waktu itu ada perayaan apa, aku lupa, yang jelas tiap sekolah se-Surabaya mengirimkan tiga wakil untuk melukis bersama di atas kain putih tadi.  Aku dan dua teman lain mewakili sekolahku, begitu juga dengan Lie dan dua temannya yang mewakili sebuah SMP swasta favorit di kotaku.

Saat itu aku tengah kebingungan karena tasku yang berisi seperangkat alat lukis terbawa oleh guru pendamping, yang ngeluyur entah kemana. Waktu itu kan belum jamannya hape, jadi ya susah sekali mencari seseorang diantara kerumunan sekian ribu manusia.

Rupanya Lie memperhatikan keresahanku sejak tadi, dan berbaik hati meminjamkan sebagian peralatan lukisnya  padaku, lengkap dengan sepaket cat minyak yang sama sekali belum terpakai.

"Terima kasih ya, sudah dipinjami kuas sama catnya. Kalau tidak, aku melukis pakai tangan dong...bisa memecahkan rekor nih", kataku cengengesan sambil agak gombal-gombal dikit.
Grogi pek, berhadapan dengan cowok cakep.

Dari situ aku tahu namanya, dan ia pun tahu namaku plus sekolahku. Sudah, itu saja. Karena sepulang dari acara itu aku langsung lupa pada kejadian pinjam meminjam alat lukis, dan lupa pada Lie.

---


"Woi !, aku di sini !", teriak Lie sambil tangannya dikibas-kibaskan di depan mataku.

Ya ampun, mukaku memerah. Jadi dari tadi aku melamun ?
"Aku masih ingat, kok. Lie, kan ?, apa kabar ?", kuulurkan tangan yang tiba-tiba jadi gemetar.
Aku merasa canggung dan sangat malu, rasanya seperti adegan di sinetron deh.

Bla..bla..bla...
Tiba-tiba aku menemukan diriku sudah duduk di tepi lapangan, beralas sepatu kets, dengan Lie di sampingku melakukan hal yang sama, dan kami ngobrol seperti layaknya dua sahabat yang tiap hari bertemu.

Sampai disini ingatanku memudar. Nama Lie terlupakan, karena begitu banyak nama-nama lain yang kemudian bermunculan. Teman-teman baru dari berbagai kegiatan yang aku ikuti.

***

Bertahun kemudian, saat aku sudah menjadi mahasiswi, ada seorang teman kuliah yang menatap wajahku lekat sambil berkata, "Ndang, kamu punya tahi lalat di hidung, dagu, dan dahi dalam garis segitiga. Tipe wanita pembawa hoky, kata orang Cina".

What ?? ...Ooh... ini rupanya yang membuat beberapa orang yang kukenal, yang bermata sipit dan berkulit kuning, sering menatapku sampai membuat aku jengah dan malu. Termasuk Lie, nama yang tiba-tiba muncul lagi saat 'tatap menatap' ini disebut.

Ah, Lie...dimanakah kamu sekarang ?

***

Sssttt...sebagian dari kisah ini adalah nyata. Sisanya, setengah nyata setengah ngawur. Di bagian mana ngawurnya ? Biarlah hanya aku, Lie, dan Tuhan saja yang tahu.

---





Selasa, 24 Januari 2012

Kisah Tentang Arum, Gadis Kecilku Yang Sudah Tidak Kecil Lagi

Putri Arimbi Arumdhany, adalah putri sulungku yang lahir di tahun kedua pernikahanku dengan MD, dua puluh hari sebelum wisuda sarjanaku yang tertunda setahun.

Menatap Arum -begitu pamggilannya- saat ini, ingatanku melayang pada betapa beratnya dulu masa kehamilanku, saat ia ada di dalam perutku dan kubawa kemanapun aku pergi. Ketika itu aku sedang mengerjakan skripsi yang sempat mundur dua semester, dengan kondisi kesehatan yang naik turun.

Dengan penuh perjuangan dan dukungan semua orang yang ada di sekelilingku, suami, keluarga, dan teman-teman kuliah, akhirnya aku berhasil maju sidang skripsi dalam kondisi hamil delapan bulan. Terbayang kan, bagaimana performku saat sidang ?

Tiga dosen penguji yang paling kusegani saat kuliah, tanpa ampun mencecarku dengan berbagai pertanyaan. Beliau-beliau ini seperti tidak terpengaruh dengan kondisiku yang mati-matian bertahan duduk tegak sambil tetap konsentrasi menjawab pertanyaan, sementara keringat dingin terus mengucur karena menahan nyeri di perut.

--Ah, nak, kalau saja kau tahu, betapa segala yang mama lakukan ini adalah untuk kebaikan kita berdua. Karena setiap mama mendapat pertanyaan; beneran kuat nih, mengerjakan skripsi dalam kondisi hamil ?,  selalu mama jawab; insyaallah kuat, kan dikerjakan dua orang.--

Sekarang, Arum sudah akan berusia lima belas tahun pada bulan Maret nanti, dan ini menjadi masa-masa genting dalam kehidupannya. Bagaimanapun, keberhasilan menjalani dan melalui masa remaja akan sangat menentukan kesuksesan kita di masa depan. Ini yang selalu aku tekankan pada Arum.

Mencoba sebanyak mungkin kegiatan, bergaul dengan sebanyak mungkin tipe orang, berteman dengan seluas mungkin kalangan, adalah modal penting untuk menapak masa depan. Karena dunia begitu luas dan indah, dan kita tidak pernah tahu apa yang ada di luar sana.

--Dunia ini adalah medan pertempuran, nak. Antara yang baik dan yang buruk, antara yang benar dan yang salah, antara yang hitam dan yang putih. Kau harus memilih dan itu berarti bertempur. Jadi, menangkan pertempuranmu ! Buatlah kami semua bangga padamu. Jangan pernah gentar dan kecil hati, karena kau mewarisi darah petarung dari mama, dan jiwa kesatria dari papa.--

***







Jumat, 20 Januari 2012

Jodoh ? atau Tidak Jodoh ?

Suatu siang, dalam perjalanan panjang dan melelahkan menuju Surabaya, aku terlibat pembicaraan seru dengan suamiku, MD. Biasanya kita ngobrol yang ringan-ringan saja untuk mengusir jenuh di perjalanan. Tapi siang itu, entah bagaimana mulanya, tiba-tiba pembicaraan kami sudah sampai pada soal yang serius. Tentang berjodoh atau tidaknya MD dengan para kolega bisnisnya.

Sebagai wirausaha, MD memang bertangan dingin dan good lucky. Berbagai tawaran kerjasama, baik skala regional maupun nasional, tak henti-henti menghampiri sampai membuatnya kewalahan. Sebagian di limpahkan pada rekan sesama konsultan, sebagian bersharing dengan tetap memakai bendera MD tapi yang mengerjakan orang lain, dan sebagian lagi diterjuni sendiri dengan melibatkan timnya.

Ada seorang kolega lama yang seluruh perusahaannya, baik milik ayahnya, kakaknya, dan miliknya sendiri, dihandle MD sejak hulu hingga hilir. Dan ini sudah berlangsung puluhan tahun, sejak MD masih kuliah dan berstatus magang di perusahaan itu.

Karena sudah kenal sejak lama, hubungan MD dan si kolega ini menjadi agak rancu. Merembet ke sisi psikologis, gitu lho. Padahal menurutku, sekecil apapun hubungan di luar urusan kerja, itu sangat mencemarkan profesionalitas kita. Akibatnya nilai integritas kita di mata klien menjadi rendah.

Sekedar me-review, beberapa kali aku melihat MD kecewa pada kelanjutan kerjasama dengan si kolega ini, karena berbagai sebab. Tapi kapanpun dia datang pada MD dengan berbagai permintaan yang rumit, hampir selalu MD bisa memenuhinya, dan ini mengakibatkan  ketergantungan yang tinggi si kolega pada MD.

Karena capek melihat MD selalu terbanting keras setelah melambung begitu tinggi, aku menyarankan untuk menyudahi saja hubungan dengan kolega lama ini. Bukan sama sekali putus, tapi dibatasi hanya pada core bisnis saja, tidak merembet ke urusan lain di luar MoU.

Pada hematku -dan melalui berbagai telaah...uih !- MD dan kolega ini tidak berjodoh. Titik. Jadi, meskipun dia telpon-telpon mengajak kerjasama ini itu, minta sharing ini itu, sebaiknya ditolak saja. Daripada terus menerus makan hati... Kalau memang tidak jodoh ya terima saja dengan lapang dada. Toh masih banyak pihak lain yang menawarkan kerjasama dengan prospek tidak kalah menggiurkan.

Baru beberapa menit kami mengakhiri topik itu dengan kesimpulan MD akan lebih selektif menerima tawaran kolega lama ini, eh...tiba-tiba telpon berdering. Dari siapa ?... Ya si kolega yang baru saja kami rasani itu !...Panjang umur...

Sambil berbicara serius di telpon, tangan MD tidak henti-henti mencubit tengkukku. Itu tandanya dia sedang sangat ingin tertawa keras saking gelinya. "Ya, Pak...Oke, Pak...datanya ada sama saya semua kok...nanti saya e-mail...gak masalah, Pak...bisa kok....Oke, kita ketemu week end aja ya, Pak..".

Dhueeenggg !!!
"Gimana nih, Ma...kamu bilang gak jodoh, lha ini proyek segede gajah, apa dilupakan saja ?", tanya MD geli. Tadi kan aku yang tidak setuju MD gandeng lagi sama kolega ini.
"Terseraaaah....silahkan mengurus proyek di Gatot Subroto, mama ada proyek sendiri di Tanah Abang. ..", kataku pasrah.

Yeelaaa.... Yang namanya rejeki, biar kita cari setengah mati dan kita kejar sampai ke ujung bumi, kalau bukan jatah kita ya tidak terpegang. Sebaliknya, kalau memang itu bagian kita, biar pun kita tidak terlalu berharap, ia akan datang sendiri dari arah yang tidak di duga-duga. Yang penting jangan pernah berhenti berusaha, biarpun jodoh atau tidak jodoh... -he..he..he..jadi malu...-

***

Danke fur Mr. Stf Bst, Mr. Mtt Bst, und Mr. And Bst

Kutipan # 6

It is better to have an enemy
who honestly says they hate you,
than to have a friend
who's putting you down secretly


***

Rabu, 18 Januari 2012

Apa Bedanya Mama dengan Satpam ?


"Kalau satpam menjaga keamanan, kalau mama menjaga hatiku", jawab Dinda. "Gombaaaaallll...", teriak mama. Muless. Gini akibatnya kalau kebanyakan nonton tivi.


Sudah Tidak Ada Pocong Lagi di Rumahku

Beberapa bulan yang lalu saat musim pocong melanda, di rumahku juga terjadi heboh-heboh yang menjangkiti seisi rumah, terutama dua ABG; Arum dan Dinda.

 Waktu itu mereka sedang semangat-semangatnya baca Pocongg Juga Pocongg, dengan ekspresi yang aneh, antara geli menahan tawa dan nyengir kuda -seperti apa coba?...aku juga bingung-.

 Dalam hitungan hari, buku yang tidak bagus-bagus amat tapi cukup menghibur itu, sudah berpindah-pindah tangan. Semuanya penasaran ingin membaca terutama aku, yang penggemar berat cerita horor.

 Dalam bayanganku, aku akan menikmati cerita seram dan mengerikan yang ditulis dalam bahasa gaul, bahasa anak muda jaman sekarang.Tidak seperti gaya bercerita Agatha Christie, penulis favoritku sejak SMP.

 Baru selesai membaca beberapa paragraf, aku langsung sadar kalau aku salah jurusan.
 "Ini sih bukan cerita horor...", kataku.
"Ya emang", kata Arum.

 "Ini sih cerita konyol...", kataku lagi.
"Lha iya", kata Dinda.

 "Tapi lumayan, buat nambah wawasan", aku membuka halaman berikutnya.
"Wawasan tentang pocong ? Mama pingin paham soal pocong, ta ?", tanya Dinda.

 "Bokaaannn...tapi tentang ABG penggemar pocong", kataku menyindir Dinda. Si penakut yang selalu merasa ada pocong mengintip ke dalam kamarnya.

 Beberapa bulan kemudian, waktu buku ini difilmkan dan diputar di bioskop, Arum dan Dinda langsung minta nonton. "Hadoooh... film ginian ditonton. Gak ada yang laen, apa ?", tanya MD.

Akhirnya, siang itu kami berempat pergi ke bioskop sepulang les, tapi di sana kami berpencar. Arum-Dinda masuk studio 4, sedangkan aku dan MD masuk studio 2, nonton film lain.

Beberapa waktu kemudian [kok 'beberapa' lagi sih...] di toko buku bermunculan novel sejenis dengan judul yang tidak jauh-jauh dari pocong. Semuanya mengandung unsur pocong. Ini para penulis apa sih maksudnya, agak bingung juga aku.

Tapi untungnya demam pocong di rumahku sudah berlalu. Buktinya, Arum-Dinda cuek saja waktu aku berinisiatif membeli buku cerita yang berembel-embel pocongg. Mereka tidak ada keinginan untuk membaca,  cuma melirik sepintas. Selanjutnya, mamanya yang melalap habis beberapa buku itu dalam sehari. Ck...ck...ck...