Minggu, 22 April 2012

Tipe Suami Pilihanku...


Beberapa hari yang lalu kami sekeluarga menghadiri pernikahan seorang kerabat. Karena jarang bertemu kecuali saat lebaran, maka acara resepsi itu menjadi semacam reuni yang seru. Ternyata banyak sekali kejadian yang terlewatkan olehku, saking jarangnya aku punya kesempatan ngobrol panjang lebar dengan keluarga besar. Termasuk cerita-cerita seputar kedua pengantin baru ini.

Dalam perjalanan pulang, tanpa bisa kutahan lagi, aku langsung mengeluarkan uneg-uneg yang kupendam dengan susah payah selama berlangsungnya acara tadi.

"Menurutku, Si Boy bukan tipe laki-laki yang tepat untuk dijadikan suami. Terlalu ganteng, terlalu ramah,  tapi kurang meyakinkan. Aku bisa mati berdiri kalau punya suami seperti itu. Flamboyan...", kataku dan langsung disambut MD dengan tertawa ngakak.

"Untuk sekedar teman dugem sih oke. Tampangnya sangat 'menjual'. Tapi kalau untuk suami, aku lebih memilih yang bertampang biasa-biasa saja tapi teguh, dan yang penting visioner", sambungku  serius. Ini soal prinsip, bukan sesuatu yang remeh, apalagi dianggap main-main.

Karena di mobil ada juga adikku dan anak-anaknya, maka pembicaraan ini menjadi semakin seru.

"Lha kamu dulu cari suami gimana lho, Ma ?", tanya MD masih dengan tertawa.

"Ya itu tadi Pa...visioner, hardworker, bibit-bebet-bobot...soal tampang itu nomer sepuluh. Cari suami itu ibaratnya memilih menu makanan untuk seumur hidup. Jangan tergoda oleh penampilan yang menggiurkan dan memikat mata, seperti junk food, tapi berpotensi merusak kesehatan dan berdampak buruk pada kehidupan kita. Sebisa mungkin pilihlah makanan sehat, meskipun tampak tidak terlalu menggugah selera, tetapi sejatinya itu adalah makanan yang menyehatkan tubuh dan membuat kita panjang umur, begitu Pa...", kataku panjang lebar.

Adikku dan MD tambah keras tertawa. Arum serius mendengarkan, sementara Dinda dan dua keponakanku asyik bercerita dengan suara yang tidak kalah keras.

Karena terpancing, akhirnya adikku ikut nimbrung. "Enak aja ngomong gitu...lha kalau tidak ada cinta untuk 'makanan sehat' gimana ? Asmara kan gak kenal logika". 

"Ya itulah...mungkin yang aku alami hanya satu dari seribu. Aku mendapatkan makanan sehat sekaligus cinta. Wis...mantap !", kataku sambil melirik MD. Besok kalau tidak ada gerojogan dana ke rekeningku awas dia !...hua..ha..ha..ha..

***


Tidak ada komentar: