Kamis, 05 April 2012

Kemana Arah Pandanganmu ?


Beberapa hari yang lalu aku mengikuti Hijab Class di butik Mbak Ifa. Itu lho, belajar memakai jilbab kreasi yang pake tile-tile, korsase bunga, berbagai warna shawl, pita-pita, dan asessories. Lumayan banyak gaya yang diajarkan. Tapi begitu keluar ruangan aku langsung lupa, apa yang tadi diajarkan ya ?..he..he..he..

Maklum, yang berlebihan kan bukan aku banget. Memakai jilbab cantik dengan berbagai macam gaya dan ornamen, juga bukan styleku. Jadi aku ikut acara ini tentu saja dengan agenda yang lain; nyambung lagi dengan komunitas butikers, menambah kolega, up date trend fashion, dan yang terpenting adalah 'ganti suasana'. Soal jilbab, aku tetap pada pakemku, jilbab paris polos dengan bros kecil bentuk bunga. Beres deh...

Tapi sebenarnya bukan itu yang ingin aku ceritakan. 

Begini, aku mendapat pemahaman baru tentang 'yang tampak di depan mata' dan 'yang tersembunyi di dalam hati'. Penasaran ?...sabar, aku coba bercerita dari sudut yang netral.

---

Kalau ada yang bilang; jangan  selalu melihat ke atas, aku tidak setuju. Begitu juga saran bahwa sebaiknya kita selalu melihat ke bawah, aku semakin tidak setuju.

siapapun boleh memakai saran itu untuk diri mereka sendiri, untuk kehidupan mereka sendiri, tapi tidak untuk aku. Karena kalau kita hanya terpaku melihat ke bawah saja kita tidak pernah maju. Tidak tertantang untuk berjuang keras dan mengejar impian. 

Melihat ke atas perlu juga, dan bahkan penting. Agar kita terpacu untuk berbuat yang terbaik secara optimal, memacu semangat mewujudkan apa yang kita angankan. Jadi tidak sekedar ngiler aja lihat orang pake mobil bagus. Sirik lihat perempuan pake dress cantik, tapi tidak ada usaha untuk meraih yang seperti itu. Sama juga bo'ong.

Mewujudkan mimpi-mimpi dan meraih harapan membutuhkan semangat baja. Bagaimana bisa punya semangat kalau yang dilihat hanya 'capaian segitu-gitu aja'. Kita jadi berpikir; "Ah nggak usah capek-capek kerja lembur deh, yang penting sudah ada persediaan sebulan ke depan. Tuh, masih banyak yang untuk makan besok saja masih kelabakan".

Nah, yang model begini nggak bagus, menurutku. Selalu melihat ke bawah,  alih-alih bersyukur, yang ada adalah sikap nerimo, pasrah, terus ujung-ujungnya jadi kurang giat berusaha...haduuh...capek deh ! Hari gini yang loyo dan melempem, minggir !

Ups, sorry...aku kan sudah bilang; prinsipku cuma buat aku seorang. Bukan untuk yang lain. Jadi kalau ada yang tidak setuju dan keberatan, maaf maaf aja nih, aku tidak akan menanggapi.

Oke...singkatnya begini.
Melihat ke atas itu perlu, agar kita punya semangat. 
Melihat ke bawah itu tidak selalu bagus, membuat kita malas berusaha.
lalu sebaiknya bagaimana ?

Kalau aku sih lebih memilih untuk melihat lurus ke depan. Dalam pandangan lurus ini, aku masih leluasa untuk melihat keatas dan terlecut untuk meraih dunia. Aku juga dengan mudah melongok ke bawah, untuk mengingatkan diri bahwa setinggi apapun aku terbang, kakiku harus tetap menginjak bumi.

Dalam pandangan lurus pula, aku punya banyak kesempatan untuk memproyeksikan masa depan. Melihat berbagai kesempatan, peluang, sekaligus ujian dan cobaan. Karena semua kesempatan itu aku jadi semakin bersyukur, semakin bersemangat. sekaligus semakin tidak lupa diri.
Lagian, kalau mendongak terus atau menunduk terus, kan capek...he..he..he..

---


Tidak ada komentar: