Rabu, 11 Januari 2012

Mengenangmu Dengan Indah


Tadi pagi, sedang asyiknya aku berkebun, sebuah panggilan telepon memaksaku menghentikan kegiatan. Dari seorang teman yang terakhir kujumpai dua bulan lalu, di sebuah klinik bersalin tempat dia melahirkan putri ketiganya yang imut dan cantik.

Dalam hati aku mengira-ngira cerita macam apa yang ingin disampaikannya. Pukul 08.00. Itu artinya aku punya waktu kurang lebih satu jam untuk mengobrol di telepon, sebelum aku melanjutkan aktifitas berikutnya.

"Halo, mbak. Curhat pagi-pagi boleh ya ? sebelum keduluan yang lain", katanya sambil tertawa. Oh, kabar baik rupanya, batinku. Aku berharap curhat yang disampaikan juga yang indah-indah.

"Boleh. Aku masih ingat kok cerita yang terakhir. Ini ada hubungannya dengan itu, kan ?" jawabku santai. Dengan nafas masih ngos-ngosan dan baju kuyup oleh keringat, kupaksa membuka memori di kepala. Cerita dari ibu muda yang cantik ini sangat mengharukan, sekaligus indah.

***

... Demi Tuhan, aku sudah memantapkan hati menjalani dan menghabiskan sisa hidupku hanya untuk suami dan anak-anak. Semua yang pernah terjadi padaku di masa lalu adalah bagian dari hidupku yang tidak mungkin kuhapus, meski tidak hendak kubuka lagi. Tapi rupanya hati tidak bisa berbohong, dan itu sangat menyiksa...

***

Mbak Elda -begitu aku memanggilnya, karena nama aslinya yang berbau feodal panjang sekali-, adalah seorang istri dengan tiga putra putri, sekaligus pemilik sebuah lembaga bimbingan belajar yang sedang berkembang pesat. Kami menjadi akrab setelah sering terlibat bersama dalam kegiatan di komite sekolah.

Dalam banyak kesempatan, Mbak Elda kerap tiba-tiba muncul di depan gerbang rumahku tanpa mau masuk ke dalam. Wajahnya basah oleh air mata, dan nafasnya tersengal-sengal menahan tangis.

"Mbak, aku mau muntah !", katanya tanpa basa basi.
"Silahkan. Tapi sebaiknya di dalam saja, yuk. Malu, dilihat orang lewat", kataku membujuk. Muntah itu maksudnya mau mengeluarkan uneg-uneg, istilah dari Mbak Elda yang akhirnya dipakai oleh semua temanku kalau menelepon.

Nah, pagi ini dia menelpon dengan tertawa-tawa, berarti ceritanya tidak 'mengandung ribet' seperti yang sudah-sudah. "Jadi gini lho, Mbak Nandang...", katanya perlahan. Dari nada suaranya aku merasa dia bicara sambil tersenyum.

Singkat cerita, Mbak Elda merasa gundah karena beberapa malam berturut-turut memimpikan mantan tunangannya yang tinggal di kota berjauhan. Tidak sedikitpun dia ingin menyambung komunikasi, karena buat Mbak Elda segalanya sudah selesai dan semuanya adalah masa lalu. Tapi beberapa kali memimpikan seseorang yang pernah sangat dekat, tak urung membuat hatinya menjadi hangat. Terbayang kembali kenangan indah dan manis yang pernah dilalui bersama -mungkin ini yang membuat nada suaranya menjadi riang :)-

"Tapi masih ada cinta, kan mbak ?", aku bertanya sedikit mendesak.
"Sepertinya begitu...aku tidak yakin. Hanya saja aku merasa dia sedang mengalami sesuatu", jawabnya pelan. "Menurut Mbak Nandang, aku harus gimana ?

O o...cinta lagi, cinta lagi.
"Ditelpon aja. Say hello, tanya kabar, basa basi dikit...nanti kan nyambung sendiri ke pokok masalah", kataku. Agak bimbang juga, saranku ini benar apa salah ya ?.

"No ! I don't want !...eventhough I miss him so much", jawabnya keras.

Lho, gimana sih ?
Kalau aku -kalau...cuma kalau...bukan sungguhan !- perasaan cinta itu tidak perlu ditutupi, tidak perlu dikubur atau dipadamkan. Jauh lebih bijaksana jika kita bisa mengendalikan dan berdamai dengan hati kita.

Mencintai itu bukan dosa. Hanya saja kita perlu tahu rambu-rambunya dan bertekad untuk mematuhi rambu-rambu itu. Kayak film Titanic itu lho...

Bahwa ada seseorang dari masa lalu yang sampai kini tetap menghuni sebuah sudut di hati kita, itu tidak apa-apa. Nikmati saja, dan syukuri. Tidak perlu diingkari atau disangkal, karena perasaan cinta yang sudah lewat akan menjadikan hati kita kaya, hidup, dan hangat. Indah bukan ?

***

Mbak Elda menyudahi teleponnya hari itu dengan tenang, tetap tersenyum, dan aku yakin dia sudah menyiapkan sebuah rencana untuk menghadapi ini semua. Suami dan anak-anak adalah proritas utama, dan jalan terbaik menuju surga -katanya...- Tapi kenangan masa lalu yang indah, membuat kita bahagia dan semakin kaya, tanpa menodai kesucian cinta kita hari ini dan yang akan datang.

***

( Terima kasih sudah diijinkan membagi cerita ini, ya Mbak...)






Rabu, 04 Januari 2012

Somewhere Over The Rainbow



Rasanya tidak bosan-bosan mendengarkan lagu ini, biarpun diputar berulangkali atau dinyanyikan dalam berbagai versi. Terlebih pada sore, gelap mendung dan basah seperti ini, mendengarkan lagu yang terputar sayup-sayup membuat hatiku hangat. Merasa rindu, entah pada siapa. Merasa bahagia, entah karena apa. Merasa damai, tidak jelas sebabnya. Pokoknya serba indah deh...:)))

***

Aku Lagi ? Kenapa Aku ?....Puas...Puas...

Begitu mungkin kalau kesabaran sudah nyaris mencapai ubun-ubun. Teriakan seperti itu mungkin yang akan keluar dari mulutku, kalau saja aku tidak cukup kuat menahan diri.

Apa pasal ? aku sedang jengkel sekali pada diri sendiri, karena naskah yang sudah kuselesaikan dua halaman penuh seperti lenyap tak berbekas. Ini gara-gara aku numpang ngetik di laptop Arum, dan karena gaptek -atau apalah sebabnya- tulisanku mendadak hilang begitu terpencet satu tombol. Cling !! dan akupun melongo.

"Ya sudah, nulis lagi aja Ma", kata Arum enteng
" Ini kan spontan, tidak pakai konsep. Gimana bisa nulis lagi wong idenya langsung buyar", aku menahan jengkel.

Selalu seperti ini. Beberapa hari kemarin aku termangu melamun. Kok hidupku sepertinya berjalan terlalu lempeng ya. Segala sesuatunya terasa begitu mudah. Bukan tanpa cobaan, tapi semua cobaan itu seolah datang sekaligus dengan jalan keluarnya. Jadi terasa mudah banget menghadapinya.

Lalu benakku mulai bertanya-tanya. Tuhan masih sayang aku enggak sih ? kok aku hanya diberi nikmat tanpa diuji, di beri bonus melulu. Mana bonusnya tambah lama tambah besar lagi, Alhamdulillah.

Hati kecilku berdoa tanpa sadar, "Ya Rabb, berilah hamba ujian dan cobaan. Yang berat juga boleh, asal Engkau selalu dekat disisi hamba untuk bersandar. Karena dengan ujian dan cobaan itu, hamba ingin naik kelas jauh lebih tinggi dari yang sekarang".

Nah, rupanya doaku ini terkabul. Sedikit demi sedikit masalah mulai muncul -alangkah indahnya...:)) Dimulai dari yang sepele, ya raibnya draft tulisanku itu tadi. Terus berangsur-angsur berbagai masalah mulai teridentifikasi, mengaduk-aduk emosi, membuat kepala nyut-nyutan, tidak enak makan, dan yang pasti insomnia.

Doa terus kupanjatkan, "Ya Rabb, jangan tinggalkan aku ya. Semua ujianMu, cobaan dariMu, selalu membuat aku semakin dekat denganMu".

***

Tuhan benar-benar mengabulkan permintaanku, karena sekarang ujian datang tidak sekaligus dengan jalan keluarnya. Tapi naluriku jelas mengatakan, aku hanya butuh sebongkah hati yang tegar dan kesabaran tiada batas, untuk bisa bertahan dan keluar dari ujian dengan selamat.

***

Selasa, 03 Januari 2012

Aku Selalu Cinta Tapi Kamu Tidak...

Menjalani hari-hari indah di awal tahun, aku belum dapat mengira-ngira apa yang bakal terjadi di depan. Kesulitan, cobaan, dan batu sandungan macam apa yang bakal kuhadapi. Dan sebagai imbalannya, kesenangan, kesuksesan, dan keberkahan sebesar apa yang menantiku.

Hari ketiga di tahun 2012. Aku mulai merasa mulas-mulas yang hebat saat MD menceritakan carut marut di salah satu bidang yang dia tangani. Antara gelisah karena terbayang berbagai kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi, dengan resah karena pada kenyataannya tidak ada yang bisa kami lakukan untuk mengatasi semua kesemerawutan itu.

Sebenarnya kondisi seperti ini sudah jadi makananku berkali-kali, karena bagaimanapun suamiku adalah wirausaha mandiri yang sepenuhnya mengandalkan kepiawaiannya di bidang keuangan. Di luar bidang itu, hanya sebagai 'diversifikasi usaha' saja.

Yang tidak kalah menyita pikiranku adalah anak-anak. Dinda yang juni nanti berusia sembilan tahun, mulai nampak sifat aslinya. Aku paling kewalahan kalau menghadapi sikapnya saat keinginannya tidak terpenuhi. Seperti yang baru saja terjadi; ia masuk kamarnya sambil menggeser pintu dengan keras, sampai aku terlonjak demi mendengar suara kaca yang menggelegar. Jleeggg !!!...kalau pintu kaca itu remuk gimana ?

Kalau sudah begini, biasanya aku bertahan untuk tidak merayu dan membujuk-bujuk agar ia menghentikan ngambeknya. Biar saja ia tahu bagaimana rasanya kalau aku memintanya melakukan sesuatu tapi ia tidak menghiraukan. 

Aku berkeyakinan, anak-anak juga harus dikenalkan pada rasa kecewa bila apa yang dimaui tidak bisa ia dapatkan.  Lebih dari itu, mereka juga harus belajar bertenggang rasa; kalau ingin permintaannya didengar dan dipenuhi maka ia juga harus mendengar dan memenuhi.

Dalam kasusku dengan Dinda -kasus ?, lagi ?-, selalu aku yang harus mengalah...kok jadi seperti syair lagu ya.. Bukan tidak rela, karena bagaimanapun Dinda adalah buah hatiku, tapi aku khawatir sifat keras kepala dan mau menang sendiri-nya akan menyulitkan dia kelak saat dewasa.

Kejadian Dinda ngambek padaku sudah berkali-kali, dan selalu berakhir dengan aku meluluskan permintaannya hanya karena tidak tahan didiamkan Dinda terlalu lama. Tapi akhirnya kusadari bahwa sikapku keliru. 

Terlalu memanjakan anak akan berakibat buruk, begitu yang sering kubaca. Maka kuputuskan untuk menguatkan hati menghadapi Dinda dengan segala rengekan dan rajukannya yang sebenarnya hampir menggoyahkan hatiku. Semua kulakukan untuk kebaikannya, mumpung aku dan suami masih ada di sisinya untuk mendampingi, mengingatkan, dan meluruskan kalau ia salah jalan.

Sudah hampir satu jam...Dinda belum juga keluar dari kamar. Nah, ini jurus terakhirku yang biasanya paling ampuh; berdiri di depan pintu kamarnya sambil bernyanyi, "Aku selalu cinta, tapi kamu tidak...."

***

Kamis, 29 Desember 2011

KepadaMu... ( sebuah catatan hati di penghujung tahun )

KepadaMu...
kuhadapkan mukaku, penuh seribu satu haru
yang tak bisa kuurai satu persatu

kutengadahkan tanganku, penuh selaksa debu
yang tak bisa kubasuh dengan seluruh

kutundukkan hatiku, penuh gelora nafsu
yang tak mampu kuhela dari gemuruh

KepadaMu...
kukembalikan semua yang ada padaku 
biar Kau saja yang  menilai, lalu
kalau masih aku diberi waktu
kuharap itu adalah 
jalanMu...

***

Beberapa hari menjelang detik-detik pergantian tahun selalu menjadi moment istimewa buatku. Yang paling sering kulakukan adalah melamun panjang, memutar memori mundur jauh kebelakang, sambil berusaha merasakan lagi setiap kenangan yang pernah singgah dalam perjalanan hari-hariku. 

Tahun 2011 ini, adalah tahun terheboh yang pernah kurasakan -sepertinya setiap tahun selalu heboh :)-. Dimulai dari hiruk pikuk urusan pekerjaan, keluarga besar yang tidak henti-henti minta perhatian, anak-anak yang semakin pintar mengaduk-aduk emosiku, MD yang lagi puber kedua dan jadi romantis plus posesif banget, orang tua dan mertua sama-sama ingin didengarkan, dan teman-teman yang selalu membuat aku betah dan mau di telpon atau SMS berlama-lama. Semuanya, sungguh, membuat hari-hariku sepanjang tahun ini menjadi begitu berwarna.

Tapi ada juga daftar kegagalan lumayan panjang yang sempat aku catat, dan menjadi hutang di tahun depan. Antara lain; keinginanku untuk serius berlatih renang, dan memperbaiki tilawahku yang jauh dibawah Arum -bacaan qiro'ah Arum bagus banget-.

Nah, ini dia daftar rencana kegiatan yang semoga bisa terwujud di tahun 2012 -please, Pa...boleh ya Mama sibuk dikit- :
1. Les renang -lagi- dengan target satu gaya tiap tiga bulan. Jadi setahun lulus empat gaya, kupu-kupu, punggung, bebas, dan katak. Beberapa gaya sudah bisa tapi karena jarang berlatih jadi kurang mahir.
2. Ambil kursus tilawah. Kemarin sudah apply-apply di beberapa tempat, tapi selalu gagal karena kesibukan mendampingi suami ke luar kota.
3. Mendisiplinkan diri olah raga. Maklum, umur merambat senja, perlu lebih aware pada kesehatan dan penampilan. Rutin yoga lagi, aerobik lagi, latihan cardio lagi, dan yang paling penting jogging bareng MD setiap habis subuh.
4. Mendampingi Arum menjalani Unas 'dengan selamat dan sukses'.
5. Mem'push' suami untuk lebih serius menjalani program diet.
6. Dll

Semoga semua rencana bisa terwujud dan berjalan sesuai harapan. Akhir 2012 nanti, segalanya akan terjawab. Apakah aku cukup punya nyali dan kemauan untuk mewujudkan keinginan, atau semuanya hanya tinggal sebaris tulisan tidak berarti. Mari kita lihat...

***

Kamis, 22 Desember 2011

Kaleidoskop 2011 ala Mama

Januari 2011
Papa sedang sibuk-sibuknya mempersiapkan pembukaan kebun kelapa sawit di Kalbar. Tambang fosfat sudah tidak diurusi lagi. Karena berbagai kendala, proyek sawit berjalan sangat lambat bahkan nyaris gagal. Arum-Dinda serius berlatih musik, dengan pengawasan mama sebagai satpam yang galak.

Februari 2011
Lagi-lagi Papa menemukan kesibukan baru, menjadi bendahara untuk sebuah asosiasi importir tingkat nasional. Rapat marathon tiap malam sampai dini hari. Beberapa kali terbang ke Pontianak mengurus kebun kelapa sawit. Mama ultah,  dapat hadiah cium dan peluk hangat dari seisi rumah .

Maret 2011
Arum ultah ke 14. Hadiahnya kamera Canon tipe terbaru, yang biasa dipakai para fotografer profesional. Saat itu juga dia memantapkan tekad bahwa ingin menimba ilmu sinematografi di  luar. Papa mendukung penuh -mama langsung mewek, membayangkan sepinya rumah tanpa si cantik-.

April 2011
Kesibukan Papa di asosiasi semakin padat. Pekerjaan rutin menumpuk. Klien baru terus berdatangan. Mama terbengong-bengong, karena seisi rumah pada sibuk masing-masing. Teman-teman SMP mama mengadakan reuni di rumah.

Mei 2011
Dinda semakin pesat kemajuannya dalam bermusik. Tanpa ragu dia bilang mau belajar musik klasik di Austria -negerinya Mozart- dan sekali lagi Papa mendukung. Mama tambah pilu...si centil mau keluar dari rumah juga ? lha terus mama sama siapa ? Mama menyibukkan diri nguntit Papa kemanapun pergi, mengurus bisnis sekalian jalan-jalan.

Juni 2011
Bude Ning pindah dari Pontianak ke Cirebon. Yangkung Rasyid dan Yangti Sri mulai berwacana tinggal di Surabaya. Papa langsung menyingsingkan lengan, "Rumah harus di renovasi total ". Sekeluarga terbang ke Pontianak untuk mempersiapkan kepindahan. Mampir Jakarta untuk merayakan ultah Dinda ke 8 di Kidzania.

Juli 2011
Papa ultah., acaranya  makan bersama dengan lebih dari dua puluh tukang yang merenovasi rumah. Dapat hadiah jam tangan mewah dari kolega, dan 'bom penuh cinta' dari mama. Negosiasi jadwal les untuk Arum dan Dinda -sekarang saatnya injak pedal gas, nak-

Agustus 2011
Persiapan safari panjang dengan membawa rombongan dari Pontianak. Mama ditunjuk sebagai EOnya...ya ngurus hotel, tiket, makan, destinasi wisata, sampai menemani ngobrol.Wis pokoknya cuapek pol. Rumah disulap jadi hotel deh, meskipun para bibik sudah pada pulang lebaran. Mama merangkap jadi bibik juga, sampai akhirnya KO dengan sukses...-tragis..-

September 2011
Ada kabar Tante Kiki pindah ke Malang bulan depan. Kepindahan Yangkung-Yangti ke rumah Jambangan Baru dipercepat, jadi renovasi juga dipercepat. Para tukang mulai bergeser masuk rumah dan naik ke lantai dua. Arum-Dinda mulai surut semangatnya latihan musik. Satpamnya semakin sering uring-uringan sambil sibuk mengelap debu tebal diatas drum dan piano.

Oktober 2011
Studio musik selesai dibuat, jadi tidak ada alasan lagi malas latihan . Menambah asisten baru untuk mengurus Yangkung-Yangti. Ternyata masalahnya banyak dan ruwet, sampai mama memutuskan bahwa asisten baru harus segera diganti. Pada saat bersamaan, asisten yang 'dihibahkan' pada Tante Kiki, sedang menghadapi masalah. Mama ikut kena getahnya...duh, sedihnya

November 2011
Papa menemukan kesibukan baru yang semakin menyita waktu; tambak udang dan tambang kalsium. Arum konsentrasi penuh mempersiapkan Unas, sedangkan Dinda sibuk menulis blog. Yangti mulai mengirim beberapa peti barang antik yang dihibahkan pada mama. Mulai berburu tiket liburan tahun baru ke Bali, sekalian mau nengok apartement yang di sewa  hampir delapan tahun lalu dan habis sewanya dua tahun lagi.

Desember 2011
Renovasi selesai, asisten baru sudah siap, dan Yangkung-Yangti resmi masuk ke rumah Jambangan Baru. Liburan tahun baru ke Bali batal, karena harus mengawal Yangkung-Yangti ke Cirebon. Ya sudah, tahun baru di Bandung saja. Sampai dapat kabar bahwa Arum-Dinda harus ikut konser tanggal 30 Desember dan 5 Januari. Yaa...tahun barunya di Surabaya deh.

***


Hari-hari di bulan Desember belum berakhir. Artinya masih akan ada banyak kejadian lagi ....

***

Rabu, 21 Desember 2011

Lingkaran Cinta Antara Nenek, Aku, Dan Ibuk

Kupersembahkan tulisan ini untuk nenekku, dan ibukku...dengan penuh hormat dan cinta. Selamat hari ibu...

***


Aku adalah sulung dari tiga bersaudara, setelah kakak perempuanku meninggal sewaktu bayi. Dari pihak bapak dan ibuk, aku juga cucu pertama untuk kakek-nenekku. Kami adalah keluarga sangat besar, karena ibukku sulung dengan sembilan adik, sedangkan bapak sulung dengan dua belas adik.

Karena cucu sulung, aku menjadi kesayangan keluarga, terutama nenekku dari pihak ibu. Menurut cerita ibuk, nenek adalah anak tunggal yang telah menjadi yatim piatu sejak kanak-kanak. Berbagai harta peninggalan almarhum orang tuanya tidak sanggup mengusir rasa kesepian yang kerap mendera. Mungkin itu sebabnya nenek menjadi pribadi yang aneh di mata banyak orang. Pendiam, tertutup, dan paling tidak mau menunjukkan perasaan, baik rasa benci, apalagi rasa sayang.

Meskipun begitu, kesan yang kutangkap jauh berbeda. Kalau aku menginap di sana saat masih kecil dulu, hampir setiap malam aku tidur ditemani nenek. Tangan ringkihnya akan memijit-mijit kepalaku pelan, sambil bertanya ini itu kepadaku dengan suaranya yang rendah dan nyaris tanpa ekspresi.

Dalam usia itu aku belum paham, bahwa nenek sedang berusaha menunjukkan perasaan sayangnya padaku. Itu adalah satu-satunya moment beliau berkomunikasi, sebab pagi harinya nenek akan menjelma kembali ke dalam pribadinya yang sebenarnya. 

Rupanya tipe kepribadian seperti ini menurun pada ibuk. Yang lekat di benakku tentang ibuk adalah seorang wanita tidak banyak bicara tapi sangat tegar dan tangguh. Kalau sekarang ibuk menjelma menjadi wanita paling cerewet yang pernah kukenal, mungkin itu karena kami, anak-anaknya, terlampau sering mengecewakan.

Aku, ibuk, dan nenek punya persamaan  unik. Kami bertiga sama-sama 'cancer survivor', meskipun nenek harus menyerah lebih dulu. Beliau wafat saat aku kelas 1 SMA setelah bertahun-tahun berjuang melawan kanker ovarium, yang belakangan diturunkan juga pada ibuk dan tanteku. Sepuluh tahun lalu, tanteku menyerah karena kanker serviks. Sedangkan ibuk, dengan ketegaran luar biasa, berhasil melawan kanker ovarium dan sehat wal afiat hingga detik ini.

Ibukku juga sama kakunya dengan nenek. Ibuk sulit menunjukkan perasaan sayang pada siapapun, seolah menyatakan 'aku sayang kamu' itu suatu dosa besar. Ekspresi tegas dan marah yang sering ditunjukkan, belakangan baru aku sadari sebagai cara beliau menyayangi dan memberi perhatian. Itu sebabnya aku dan dua adikku lebih dekat pada bapak, yang lembut, penyayang, dan mudah tersentuh.

Pada dua putriku, ibuk justru lebih bisa berbicara manis dan penuh pengertian. Mungkin memang seperti yang orang bilang, bahwa seorang nenek lebih sayang pada cucunya daripada anaknya. Arum-Dinda tampak lebih akrab dengan ibuk, dibandingkan aku sendiri dulu pada saat seusia mereka. Ibuk mengkhawatirkan Arum-Dinda lebih daripada mengkhawatirkan aku ketika aku mengalami hal yang sama puluhan tahun lalu.

Setelah hampir tiga puluh sembilan tahun, aku mulai dapat memahami betapa sebenarnya ibuk sangat mencintai dan menyayangiku. Aku mulai tersentuh dengan pesan-pesan beliau yang sekarang tidak lagi disampaikan dalam nada tegas. 

Kalau aku mohon doa karena sedang menghadapi banyak masalah, beliau akan bilang; "Kamu pikir apa yang ibuk lakukan setiap malam ? siapa yang ada dalam hati ibuk, dan apa yang paling ibuk inginkan sebelum ibuk meninggal ?" Sambil bilang begini biasanya air mata ibuk  mengalir, tapi tetap tidak ada kata 'ibuk sayang kamu, nak' yang sangat aku impikan. Ibuk punya cara sendiri untuk menyampaikan perasaannya.

***

Dari tadi itu, dari cerita yang muter-muter itu, aku sebenarnya hanya ingin bilang; terima kasih, buk. Semua marahmu, omelanmu, dan sikap tegasmu, adalah ungkapan sayang paling tulus yang pernah kuterima. Buk, aku sayang pada ibuk.

***