Rabu, 23 November 2011

The Twilight Bias Gender...Benarkah ?

Aku dan MD adalah penggemar film remaja The Twilight. Awalnya terjadi secara tidak sengaja. Waktu itu rumah sepi selama beberapa hari karena Arum-Dinda ikut paket wisata anak ke luar kota. Karena bengong gak tahu harus ngapain, akhirnya kami 'berpetualang' dari satu mall ke mall lain untuk mengisi waktu. Kebetulan Eclipse -sekuel ketiga dari The Twilight- main di salah satu bioskop, dan MD berhasil mendapat tiket dengan posisi yang pas menurut aku (karena kalau terlalu kedepan atau kebelakang aku ogah, mending lihat di rumah).

Sebelum film di putar aku sempat melihat ke sekililing tribun, dan ternyata isinya hampir semuanya remaja. Wuih, berasa masih SMA. Jadi ingat dulu aku juga senang nonton, sama MD juga, tapi sekarang lebih enak...kan lebih bebas mau ngapain-ngapain (memangnya mau ngapain? :))

Inti ceritanya adalah seorang gadis yang jadi rebutan dua pria, yang satu vampir dan satunya lagi serigala. Nah disinilah serunya. Penonton laki-laki hampir selalu terdengar mendengus kesal sambil sekali-sekali nggerundel pas tiba adegan si gadis tampak bingung menjatuhkan pilihan. Sampai-sampai sekurity studio yang nebeng nonton mengomel keras, " Dasar perempuan ! sama yang ini mau, sama yang itu mau...Huh !".

Tak urung aku terkikik geli mendapati kenyataan betapa laki-laki mau enaknya sendiri. Kalau ada perempuan yang 'mendapat angin' untuk bisa menggenggam dua laki-laki sekaligus -meskipun cuma dalam film- mereka akan sangat tidak rela dan tidak terima. Coba saja seandainya situasi dibalik; si laki-laki yang dengan leluasa menggenggam dua perempuan sekaligus, apakah mereka akan seribut ini ?

Dari pengalaman nonton sekuel ketiga, aku menjadi tertarik untuk 'mempelajari' film ini lebih jauh. MD dengan senang hati mencarikan semua serinya dari yang pertama The Twilight, New Moon, dan Eclipse. Yang sekarang sedang happening di XXI adalah episode 1 dari sekuel keempat yaitu Breaking Dawn. Aku juga sedang mempertimbangkan untuk membaca novelnya, sekaligus melihat latar belakang penulisnya. Karena seringkali atmosfir pribadi penulis mempengaruhi hasil tulisannya. 

Oh ya...yang pertama bilang bias gender itu MD lho, padahal ini istilah sosiologis banget. Aku sendiri menilai fenomena kecenderungan poliandri adalah salah satu dampak kemajuan jaman. Artinya terjadi perubahan pola berpikir, pergeseran nilai dan norma dalam masyarakat, dan semua itu perlahan tapi pasti ikut merubah individu dalam masyarakat secara signifikan. Ruwet.... memang bukan untuk dipikir kok, hanya jadi wacana saja sekaligus pengingat laki-laki bahwa 'apapun bisa terjadi'. Jadi; waspadalah !...waspadalah !... 
* Jangan percaya, Pa...ini analisis ngawur...:)))

Senin, 21 November 2011

Kutipan # 3

A flower falls eventhough we love it,
and a weed grows eventhough we do not love it.

( Dogen Zenji )


PS: So, kita mau jadi yang mana ? kalau aku mau jadi biji saja. Biarpun kecil, mungkin juga tidak secantik bunga, tapi biji membawa harapan dan menjanjikan kehidupan yang lebih indah untuk mahluk hidup lain.

Jumat, 18 November 2011

Penyakitku Yang Memalukan

Sebenarnya sudah lama aku menyadari bahwa aku punya penyakit akut dan kronis. Meskipun tidak mematikan dan sama sekali tidak menular, tidak urung penyakit ini merepotkan aku, dan mungkin orang-orang disekelilingku juga. Penyakit yang tidak jelas penyebab dan gejalanya ini sudah berusaha aku hilangkan. Tentu saja dengan bantuan dan support terus-menerus dari MD dan anak-anak.

'Penyakit tanpa nama' ini terakhir kambuh waktu aku berdua MD belanja keperluan parcel lebaran. Aku sangat tidak teliti soal angka dan abai pada hal-hal detil. Ceritanya waktu itu kami memilih barang-barang yang didiskon, dan mengisi penuh troli sambil menghitung berapa kira-kira harga yang harus kami bayar di kasir. Nah disinilah penyakitku kambuh; aku sok teliti melihat struk belanja dan membandingkannya dengan harga yang tertera di rak ( hal yang tidak pernah kulakukan sebelumnya ). Lho kok beda ? Sirup, biskuit kaleng, sampai sarung semuanya beda...lebih mahal dari yang tertera di rak dan di brosur.

Karena penasaran aku bertanya pada supervisor yang kebetulan ada di sekitar kasir. Eh, dia tidak bisa jawab. Lalu dia minta bantuan supervisor lain, dan ternyata inipun tidak menyelesaikan masalah. Tambah naik pitamlah aku. Dengan geram aku cabuti semua label harga di rak untuk semua item barang yang kubeli. Terakhir yang turun sang manager on duty. Dengan dia aku sempat beradu argumen cukup sengit. Dia tidak bisa menjawab karena semua barang yang kubeli identik dengan barcode label harga yang kucabut dari rak, dan kutunjukkan padanya sebagai bukti. Ternyata aku sudah membayar dengan harga yang lebih mahal.

Masalah belum selesai...sang manager pamit kebelakang untuk menanyakan hal ini entah pada siapa. Pada saat genting seperti ini barulah MD iseng-iseng menghitung dengan hape. Dan.....dhueng !!! Aku baru sadar kalau semua barang yang kubayar sudah didiskon, dan bahkan murah banget jatuhnya. Perutku langsung mules. Dengan gerakan cepat kulambaikan tangan pada kamera CCTV dan segera kabur dari situ. MD mengikuti dibelakangku sambil tidak henti terbahak..

Kata MD, aku kena sindrom 'out of focus' alias tidak teliti dan cenderung ceroboh. Unfortunately, kalau lagi kambuh aku sering jadi bahan tertawaan anak-anakku. Belum lagi kejadian-kejadian dudul yang lain, yang bahkan mengingatnya aku sendiri pun jadi tertawa. 

Tentang ini kadang-kadang aku prihatin  pada diriku sendiri. Sampai kapan ya penyakit ini kerasan menempel kemanapun aku pergi ?

Kutipan # 2

setiap manusia di dunia 
pasti punya kesalahan
tapi hanya yang pemberani 
yang mau mengakui,
setiap manusia di dunia 
pasti pernah sakit hati
hanya yang berjiwa satria 
yang mau memaafkan....

( song by Sherina )

Senin, 14 November 2011

Chado Pagi Di Rumahku

 Chado adalah upacara minum teh gaya Jepang. Awalnya acara minum teh berkembang di China. Lalu pada akhir abad ke 15 upacara ini diadopsi oleh Bhiksu Zen di Jepang. Karena itu Chado mengandung prinsip dasar Zen yaitu 'wa' artinya keserasian antara sesama manusia dan antara manusia dengan alam, 'kei' artinya rasa hormat, 'sei' artinya kemurahan atau jiwa yang bersih, dan 'jaku' artinya ketenangan pikiran.

Singkatnya; dengan membuat dan menikmati teh kita bisa menyatu dengan alam dan menikmati ketenangan. Benarkah begitu ? Mari kita lihat yang terjadi di meja makan di rumahku setiap pagi.

Seperti biasa, para asisten rumah tanggaku selalu menyiapkan sepoci besar teh melati yang diseduh dengan sedikit gula.Derajat kemanisannya mungkin hanya 5 atau 6 briks, atau orang Jawa bilang mondo-mondo.
Karena kalau terlalu manis sedikit saja Mas Dony langsung protes. Bikin dia tambah gendut lah, bikin dia kena diabetes lah...pokoknya banyak pesan yang diultimatumkan ke ART agar besoknya tidak mengulang kesalahan fatal lagi. Minuman ini harus sudah terhidang di meja makan paling lambat pukul 04.15 pagi, tidak peduli jam berapapun subuhnya.

Kalau aku perhatikan 3 orang penikmat teh ini ( MD, Arum, Dinda )  punya selera berbeda-beda. Mas Dony selalu menambahkan air jeruk nipis dalam cangkirnya. Ambil jeruk sendiri di kulkas, belah jadi dua, dan langsung diperas ke dalam cangkir. Dinda penggemar berat milk tea. Tapi melihat kesibukan papanya dengan si jeruk nipis, dia jadi ikut-ikutan. Arum, si soliter, adalah penikmat teh melati yang fanatik. Tanpa tambahan apapun, kecuali setangkup roti tawar plus meises coklat kegemarannya.

Chado di pantry belakang ini harus dilakukan seawal dan secepat mungkin, karena kami mengejar waktu sholat subuh. Biasanya aku yang paling lama, karena aku bukan menikmati teh melati, tapi asyik menyeruput white coffe favoritku. Tambahannya adalah sandwich crackers rasa keju yang yummy banget. 

Moment chado ini penting , karena biasanya kami berempat saling menceritakan kejadian kemarin dan rencana kegiatan hari ini, ya waktu minum teh ini. Bukan seperti kebiasaan banyak keluarga lain yang menjadikan waktu dinner sebagai moment berkumpul. Arum dan Dinda sekolah full day. Setiap hari pulang ke rumah jam 17.00 dan satu setengah jam kemudian sudah harus siap menunggu kedatangan guru lesnya masing-masing. Jadi kesempatan berlama-lama ngobrol denganku dan papanya ya pas chado, lanjut ke waktu sarapan sebelum berangkat sekolah.


Kutipan # 1

If you wanna make the world a better place,
take a look at yourself and make a change
( Michael Jackson )

Minggu, 13 November 2011

Aerides Odorata Akhirnya Berbunga Juga...

Anggrekku berbunga lagi..!! Yang ini menjadi istimewa karena sudah kupelihara sejak empat tahun lalu. Aku mendapatkannya dari lereng Gunung Lawu, beberapa rumpun yang semuanya Alhamdulillah hidup subur. Namanya Aerides Odorata, kecil-kecil dan harum semerbak. Aku memang lebih suka anggrek spesies, atau yang sering disebut anggrek hutan. Karena jenis ini relatif sulit dibungakan, bunganya pun biasanya kecil-kecil, warnanya tidak terlalu ngejreng, tapi aromanya...hmmm jangan di tanya. Haruuuum sekali. Mungkin ini mewakili tipikal kepribadianku yach; sederhana, tidak neko-neko, tulus hati,
 tapiii...sangat menawan *glodak !!*