Mmm...ceritanya, sebulan yang lalu aku dan MD mengantar Arum foto di Siskohat untuk keperluan berangkat haji. Pada saat menunggu giliran di panggil, aku sempat ngobrol dengan seorang ibu muda , yang anaknya sekolah di TK tempat Arum dulu sekolah.
Omong punya omong, ternyata kondisi sekolah yang lumayan bergengsi itu -ya jelas, sekolah ini milik ormas terbesar di negeri ini- tidak terlalu banyak mengalami kemajuan sejak aku 'meninggalkannya' hampir sembilan tahun yang lalu.
Secara fisik pembangunan memang tidak pernah berhenti. Fasilitasnya lengkap, kolam renangnya tambah modern, lab komputer sangat canggih, dan lingkungan sekolah rapi dan teduh. Hanya saja -ini versi ibu muda tadi lho..- SDM guru-gurunya kurang memuaskan.
Mungkin penilaiannya subyektif karena parameter yang kami pakai tidak jelas. Tapi yang pasti, dari kacamata kami, para orang tua yang setiap hari nongkrong menunggu anaknya, ada hal-hal krusial yang tidak dimiliki para guru di sekolah ini.
Aku jadi ingat masa-masa setiap hari aku menghabiskan waktu menunggu Arum sekolah, dan karenanya ada banyak kejadian di komplek sekolah itu yang selalu aku lihat dengan mata kepala sendiri. Mungkin tidak etis kalau aku ungkapkan semuanya secara rinci, karena toh kejadiannya sudah lewat bertahun yang lalu. Hanya yang menjadi catatan, karena kualitas tenaga pengajarnya inilah alasan utamaku memindahkan Arum ke sekolah lain meskipun biaya di sekolah yang baru masyaallah...termahal di kota ini.
Lalu ?
Tanpa bermaksud mengurangi rasa hormat pada bapak-ibu pendidik, aku hanya ingin menyampaikan bahwa profesi yang mulia ini akan semakin tinggi nilainya bila dilakukan dengan hati tulus dan jiwa besar. Kepercayaan orang tua untuk menyerahkan pendidikan anaknya pada sekolah, selayaknya dianggap sebagai amanah yang harus ditunaikan sebaik-baiknya.
Anak yang bandel, nakal, malas, itu biasa. Karena itu dia disekolahkan, untuk dididik, diajar, diberi pemahaman, dan ditumbuhkan sisi manusianya. Di rumah, orang tua menanamkan nilai-nilai dan norma sosial yang memungkinkan untuk si anak bertumbuh menjadi manusia yang utuh.
Kalau para guru, yang notabene adalah orang yang tahu bagaimana mengajar dan mendidik yang baik, menjalankan fungsinya hanya semata-mata sebagai 'kerja' dan bukan sebagai 'panggilan hati', maka dapat dibayangkan seperti apa cara mereka mengajar dan mendidik.
Lebih jauh lagi, dapat dibayangkan seperti apa anak-anak hasil dari pendidikan oleh guru-guru model begini.
Memprihatinkan ya....
***
Setiap dari kita adalah guru, untuk diri sendiri dan orang lain. Maka didiklah dan ajarlah anak-anak dengan hati, seperti juga kita menginginkan orang lain memperlakukan kita dengan hati.
***
Untuk bapak-ibu guruku, terima kasih telah membentuk aku dan mengantarkanku mencapai sukses.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar