Senin, 20 Februari 2012

Hanya Ilusi... ( Paling Tidak Untuk Saat Ini..)



...aiyaiyaa...lagu ini aku suka sejak pertama release puluhan tahun lalu, dan sekarang mendengarnya lagi membuatku langsung membayangkan adegan apa yang cocok, dialognya seperti apa, take picture-nya gimana, angelphoto-nya seperti apa, dan gimana script-nya  :))

***

Setahun belakangan ini aku kembali rajin 'melanglang buana' ke berbagai mall yang ada bioskopnya. Kedua, tentu saja untuk menikmati kesukaan yang sudah begitu lama kutinggalkan -nonton, maksudnya- , pertama; menemani putri sulungku yang sedang keranjingan nonton film-film indie untuk mendukung hasratnya menjadi sineas.

Karena seringkali film yang kami tonton tidak cocok untuk anak-anak, maka aku berbagi tugas dengan MD.  Kalau aku dan Arum masuk studio, pada saat yang bersamaan MD dan Dinda akan masuk ke toko alat musik atau toko buku, atau nongkrong makan froyo, di mall yang sama.

Pilihan Arum selalu film-film 'beda' yang sepi peminat, tidak booming secara popularitas, agak berat dicerna, dan sedikit 'syuur..'. Karena berbagai kategori itu, tidak heran kalau di dalam gedung bioskop paling banter hanya terisi penonton sejumlah jari tangan. Kadang lebih sedikit, tapi baru sepertiga main sudah ada beberapa pasangan yang 'walk out'. Tadinya kukira ke kamar kecil, eh...ternyata tidak balik lagi.

Lalu, apa yang kami lakukan sepanjang pemutaran film itu ? Asyik diskusi, tentu saja. Arum selalu punya pendapat tentang bagaimana sebaiknya film itu disetting, bagaimana film itu tampak tidak bermutu karena keganjilan di sana-sini yang luput dari perhatian sutradara, bagaimana seharusnya penghayatan aktor dan aktrisnya, dan masih banyak lagi kritik cerdas yang dilontarkannya.

Aku sendiri lebih fokus ke 'rasa' film itu secara keseluruhan. Maksudnya gini; kalau melihat sebuah adegan, benakku langsung membayangkan backsound-nya, dialog yang diucapkan, bahasa tubuh yang mewakili, termasuk kostum yang mendukung, dan yang lebih parah; ekspresi audiens yang akan menikmati film ini. Kalau sudah begini, hampir pasti khayalanku terbang melayang-layang....:P

"Gimana tadi filmnya ?", tanya MD
Lalu meluncurlah laporan 'hasil investigasi' dariku secara lengkap, ditambah versi Arum sedikit-sedikit -Arum lebih anteng daripada mama,soalnya-.
"Mmm..gitu,ya. Nah tulis aja resensinya, Ma...kritik Mama bagus tuh...Atau, sekalian saja kita bikin film sendiri kapan-kapan", kata MD kumat isengnya. Dia selalu tahu kapan waktu yang tepat untuk melempar umpan padaku, dan langsung kucaplok. Dasar !

"Boleh juga usul Papa. Denger ya, Arum sutradaranya, Dinda bikin ilustrasi musiknya, Mama tulis naskahnya, dan Papa jadi produsernya. Klop, kan ?", girang juga aku berhasil menemukan 'ide gila' yang masuk akal.

Hoa..ha..ha..ha... Sekarang mungkin itu hanya sekedar omong kosong yang ngelantur, sekedar ilusi, khayalan semu, dan agak-agak 'o ya ??'. Tapi bukan mustahil kalau suatu saat menjadi kenyataan. Wong, di dunia ini apa saja bisa terjadi kalau Tuhan menghendaki, kok.
Ya kan, Paaaa ?... :))




Tidak ada komentar: