Rabu, 01 Februari 2012

Sebuah Kontemplasi [episode 1]


Pagi tadi, sambil meraut pensil untuk Dinda, iseng aku pindahkan chanel tivi ke saluran infotainment. Ada berita meninggalnya komedian Ade Namnung yang beberapa waktu lalu sempat dirawat di Surabaya. Keluarga dan teman-teman almarhum  memberikan testimoni yang menyejukkan; Ade adalah pribadi yang menyenangkan, dan mereka semua merasa begitu kehilangan.

Seketika aku membayangkan diriku sendiri. Seandainya aku di panggil menghadapNya kelak, bagaimana ya kira-kira  kesan orang-orang di sekelilingku tentang aku ?

Apakah mereka merasa kehilangan ? Apakah selama ini aku sudah menjadi istri, mama, anak, kakak, tante, saudara ipar, atau keponakan yang baik ?

Atau justru mereka diam-diam bersyukur bahwa akhirnya suasana menjadi tenang dan damai setelah kepergianku ?...-mengetik sambil berlinang air mata-

***




---
Ibuk, Tutut mohon maaf, apabila selama ini selalu membuat ibuk mengelus dada, menghela nafas, dan menahan perasaan, karena ulah yang tidak terkontrol, lisan yang tidak terjaga, keputusan yang ceroboh, dan sederet kesalahan yang tanpa sengaja Tutut lakukan.
Buk, semua yang saat ini Tutut capai adalah berkat doa-doa ibuk, sujud malam yang tiada putus untuk kebaikan Tutut sekeluarga.
Ijinkan Tutut mohon pada ibuk; keridhaan dan restu ibuk, agar jalan kehidupan yang Tutut tempuh senantiasa lapang dan mudah.
---

---
Pa, Mama minta maaf ya, kalau selama mendampingi papa ada hal-hal kurang berkenan yang tanpa sengaja mama lakukan. Seluruh jiwa raga, hidup dan mati mama, telah mama persembahkan untuk papa. Apapun keadaan mama, bagaimanapun baik buruknya mama, semoga papa ikhlas menerima.
---

---
Arum, Dinda, mama sadar sampai saat ini belum berhasil menjadi ibu yang sempurna. Omelan mama sering membuat kalian gerah, meskipun itu untuk kebaikan kalian sendiri. Kalau mama disiplin dan keras, itu bukan karena benci, tapi sebaliknya, karena mama teramat mencintai kalian.
---

---
Andai aku diberi kesempatan, aku ingin mengatakan pada siapapun yang aku kenal dan mengenalku, bahwa hidupku menjadi begini indah karena mereka.

Dukaku menjadi tawar karena ada begitu banyak orang yang lebih berduka daripada aku, perihku menjadi reda karena ada begitu banyak orang yang menanggung derita lebih perih daripada aku, dan nikmatku begitu manis karena ada begitu banyak orang yang belum seberuntung aku.

Untuk semua ini aku bersyukur, dan bertekad  menjalani sisa usiaku sebaik mungkin. Karena aku tidak pernah tahu, kapan pemilik ruh-ku menghendakiku kembali padaNya. Bisa sebulan lagi, seminggu lagi, sehari lagi, atau bahkan semenit lagi...

---





Tidak ada komentar: