Minggu, 27 November 2011

Satu Suro, Bubur Campur, dan Jazz Traffic Festival

Sejak hari Jum'at kemarin ada beberapa SMS masuk, mengucapkan selamat tahun baru Hijriyah. Karena hari itu ada SMS lain yang lebih menyita perhatian, lebih mendesak di baca, dan lebih menarik disimak, maka SMS 1 Suro jadi agak terabaikan. Sabtu sore setelah semua masalah  reda dan suasana tenang kembali, aku mulai membalas satu persatu ucapan tahun baru yang -jujur..- aku tidak ngeh sebelumnya. Ini mungkin bahasa halus untuk 'tidak peduli'...:)

Dini hari jam 3 tadi, antara sadar dan tidak, MD mengigau, " Ma, sekarang satu suro ya...pantesan badanku panas semua. Aduh, kerisku ilang, Ma..." Aku langsung ngakak. Sudah, bangun...bangun...ini ngelindur apa sengaja mau ngisengin aku sih ? 

Ternyata nuansa 1 Suro sampai juga ke dapur. Pagi-pagi asistenku sudah mengingatkan, " Bu, sekarang kan satu suro, biasanya orang-orang di kampung saya bikin bubur campur. Itu tuh yang pake taburan kacang, abon sama telur dadar. Kita bikin ya, Bu..". Aku bengong. Tumben...biasanya hari minggu semua aktifitas di dapur kan off, karena memang jatahnya para asisten libur. Lha ini minta bikin bubur suro segala.

Sebenarnya menurutku, makna tahun baru itu ya tidak jauh-jauh dari perbaikan diri. Istilah kerennya adalah muhasabah, introspeksi. Apa-apa yang sudah kita perbuat di tahun yang lewat, yang sekiranya bernilai merah, beraroma negatif dan berpotensi merugikan orang lain, sebaiknya segera dihilangkan. Dan segala yang mendatangkan kebaikan, membahagiakan mahluk hidup lain, mendekatkan pada harum surga, sebaiknya segera dilakukan mulai sekarang, mulai detik ini dan mulai dari yang paling kecil.


Lanjut....
Ceritanya, hari itu kami berempat menghabiskan minggu spesial sesuai rencana yang sudah kami susun sejak minggu sebelumnya. Nonton Jazz Traffic, Dinda main di Fun World, aku mencari beberapa barang kebutuhanku, dan MD mengikuti kemanapun kami bergerak sambil membidikkan kameranya. Belum lagi selesai makan, SMS masuk dari rumah. Asisten baru pamit mau pindah kerja, jaga konter pulsa berdua pacarnya. Alamak...rencana pulang malam terpaksa buyar. Aku dan MD bagi tugas. MD mengawal Arum nonton Jazz ( sampai pulang jam 1 malam ), aku menemani Dinda main di Fun World lalu pulang berdua naik taksi. Prioritas pertama adalah mengurus asisten yang memang berulah sejak sebulan lalu.

Malamnya, sambil menunggu MD dan Arum pulang, aku merenung dan melamun. Panjang dan jauh. Betapa selama setahun terakhir cobaan silih berganti datang, dalam berbagai bentuk dan warna. Seumpama orang sedang berjalan, perjalananku diwarnai onak-duri, berliku, berbatu dan berjurang. Kadang aku tersungkur, terjerembab, jatuh, tersandung dan terperosok. Tetapi di balik semua itu, yang paling aku syukuri adalah aku selalu masih diberi kekuatan untuk bangkit lagi. Dan setiap kali berhasil bangkit, aku menjadi lebih kuat dan lebih tabah dari sebelumnya.

Moment tahun baru kali ini, entah mengapa, menjadi bermakna karena aku seperti diingatkan oleh banyak kejadian di sekelilingku bahwa apapun bisa terjadi -bahkan yang paling pahit- seandainya aku lalai  dan tidak pandai mengendalikan diri. Bagaimanapun jalan yang harus kutempuh masih sangat panjang. Aku harus bisa bertahan menghadapi cobaan, dan bertahan terhadap godaan kenikmatan. Yang terakhir ini lebih sulit, mengekang hawa nafsu dan keinginan untuk selalu bersenang-senang itu bukan perkara mudah, kan :)) Tapi intinya, aku berjanji pada diri sendiri bahwa tahun depan harus lebih baik, lebih baik, dan lebih baik. Semoga...

Jumat, 25 November 2011

Pelajaran Dari Masa Lalu

Seorang teman mengirim SMS dengan berita yang menggetarkan hati. Mohon didoakan  agar mendapat kekuatan menghadapi serangan teror SMS dari mantan pujaan hatinya di masa lalu. Sepagi ini, otakku sudah diajak 'jogging', membayangkan apa sebenarnya yang pernah terjadi diantara mereka, menimbang-nimbang perlu tidaknya aku mendoakan dia -karena siapa tahu sebenarnya dia yang paling banyak andil salah-, dan berusaha menahan diri untuk tidak berkomentar terlalu banyak pada masalah pribadinya.

Sepanjang yang aku tahu, temanku ini orang yang sangat teguh memegang komitmen. Menyayangi dan menghargai pasangan, cinta pada keluarga, dan mendedikasikan hidup sepenuhnya untuk masa depan anak-anaknya. Kalau sekarang ia dihadapkan pada kenyataan bahwa ada seseorang dari masa lalu yang berniat 'menggugat' dan ingin merebut kembali memori yang pernah mereka jalin, menurutku itu hanya ujian untuk semua ketegaran dan keikhlasan yang ia jalani.

Masa lalu itu milik semua orang, yang -sayangnya- tidak bisa seenaknya kita hapus atau kita ubah jalan ceritanya. Menyesali masa lalu juga bukan tindakan bijaksana, karena bisa jadi kedewasaan kita hari ini adalah buah dari pengalaman pahit kita di masa lalu. Semua yang pernah terjadi di masa lalu, mungkin hanya bisa kita lipat rapih dalam ingatan, dan menyimpannya di sudut hati. Jangan pernah di buka lagi. Jangan pernah ingin di tengok-tengok lagi. Karena kita tidak pernah tahu seberapa kuat kita berhadapan dengan masa lalu.

Bagaimana dengan SMS yang bertubi-tubi ? Aku hanya bisa bilang; tidak usah dibalas, toh sudah sama-sama tahu bahwa sekarang situasinya berbeda. Sampaikan permintaan maaf untuk semua kesalahan yang mungkin terjadi di antara kalian. Setelah itu, STOP ! Kalau perlu menghilang saja dari kehidupan dia, ganti nomer hape, blokir akun fb, atau apa sajalah...yang penting semua jalur kontak diputus ! Itu kalau memang benar-benar ingin melepas masa lalu, dan fokus meraih masa depan.

Masalahnya temanku ini terlalu baik, mau saja meladeni hal-hal tidak penting meskipun itu sangat merugikan dirinya. Ujung-ujungnya kebingungan sendiri. Tidak sepenuhnya salah memang, karena siapa tahu 'perasaan lain' masih tetap ada meskipun semu. Bagaimanapun, tersambung lagi dengan mantan -mungkin- terasa mendebarkan hati. Tapi sebenarnya ini adalah awal dari bencana *maaf, sok tahu nih..* Sekarang tinggal bagaimana pintar-pintarnya kita menghindar agar bencana itu tidak terjadi. Nah, di titik ini aku memutuskan untuk mendoakan dia; semoga dia diberi kekuatan untuk tetap melangkah ke depan, terus kedepan, dan tidak tergoda untuk menoleh lagi kebelakang.

Rabu, 23 November 2011

Kutipan # 4

With love and patience,
nothing is impossible

( Daisaku Ikeda )




The Twilight Bias Gender...Benarkah ?

Aku dan MD adalah penggemar film remaja The Twilight. Awalnya terjadi secara tidak sengaja. Waktu itu rumah sepi selama beberapa hari karena Arum-Dinda ikut paket wisata anak ke luar kota. Karena bengong gak tahu harus ngapain, akhirnya kami 'berpetualang' dari satu mall ke mall lain untuk mengisi waktu. Kebetulan Eclipse -sekuel ketiga dari The Twilight- main di salah satu bioskop, dan MD berhasil mendapat tiket dengan posisi yang pas menurut aku (karena kalau terlalu kedepan atau kebelakang aku ogah, mending lihat di rumah).

Sebelum film di putar aku sempat melihat ke sekililing tribun, dan ternyata isinya hampir semuanya remaja. Wuih, berasa masih SMA. Jadi ingat dulu aku juga senang nonton, sama MD juga, tapi sekarang lebih enak...kan lebih bebas mau ngapain-ngapain (memangnya mau ngapain? :))

Inti ceritanya adalah seorang gadis yang jadi rebutan dua pria, yang satu vampir dan satunya lagi serigala. Nah disinilah serunya. Penonton laki-laki hampir selalu terdengar mendengus kesal sambil sekali-sekali nggerundel pas tiba adegan si gadis tampak bingung menjatuhkan pilihan. Sampai-sampai sekurity studio yang nebeng nonton mengomel keras, " Dasar perempuan ! sama yang ini mau, sama yang itu mau...Huh !".

Tak urung aku terkikik geli mendapati kenyataan betapa laki-laki mau enaknya sendiri. Kalau ada perempuan yang 'mendapat angin' untuk bisa menggenggam dua laki-laki sekaligus -meskipun cuma dalam film- mereka akan sangat tidak rela dan tidak terima. Coba saja seandainya situasi dibalik; si laki-laki yang dengan leluasa menggenggam dua perempuan sekaligus, apakah mereka akan seribut ini ?

Dari pengalaman nonton sekuel ketiga, aku menjadi tertarik untuk 'mempelajari' film ini lebih jauh. MD dengan senang hati mencarikan semua serinya dari yang pertama The Twilight, New Moon, dan Eclipse. Yang sekarang sedang happening di XXI adalah episode 1 dari sekuel keempat yaitu Breaking Dawn. Aku juga sedang mempertimbangkan untuk membaca novelnya, sekaligus melihat latar belakang penulisnya. Karena seringkali atmosfir pribadi penulis mempengaruhi hasil tulisannya. 

Oh ya...yang pertama bilang bias gender itu MD lho, padahal ini istilah sosiologis banget. Aku sendiri menilai fenomena kecenderungan poliandri adalah salah satu dampak kemajuan jaman. Artinya terjadi perubahan pola berpikir, pergeseran nilai dan norma dalam masyarakat, dan semua itu perlahan tapi pasti ikut merubah individu dalam masyarakat secara signifikan. Ruwet.... memang bukan untuk dipikir kok, hanya jadi wacana saja sekaligus pengingat laki-laki bahwa 'apapun bisa terjadi'. Jadi; waspadalah !...waspadalah !... 
* Jangan percaya, Pa...ini analisis ngawur...:)))

Senin, 21 November 2011

Kutipan # 3

A flower falls eventhough we love it,
and a weed grows eventhough we do not love it.

( Dogen Zenji )


PS: So, kita mau jadi yang mana ? kalau aku mau jadi biji saja. Biarpun kecil, mungkin juga tidak secantik bunga, tapi biji membawa harapan dan menjanjikan kehidupan yang lebih indah untuk mahluk hidup lain.

Jumat, 18 November 2011

Penyakitku Yang Memalukan

Sebenarnya sudah lama aku menyadari bahwa aku punya penyakit akut dan kronis. Meskipun tidak mematikan dan sama sekali tidak menular, tidak urung penyakit ini merepotkan aku, dan mungkin orang-orang disekelilingku juga. Penyakit yang tidak jelas penyebab dan gejalanya ini sudah berusaha aku hilangkan. Tentu saja dengan bantuan dan support terus-menerus dari MD dan anak-anak.

'Penyakit tanpa nama' ini terakhir kambuh waktu aku berdua MD belanja keperluan parcel lebaran. Aku sangat tidak teliti soal angka dan abai pada hal-hal detil. Ceritanya waktu itu kami memilih barang-barang yang didiskon, dan mengisi penuh troli sambil menghitung berapa kira-kira harga yang harus kami bayar di kasir. Nah disinilah penyakitku kambuh; aku sok teliti melihat struk belanja dan membandingkannya dengan harga yang tertera di rak ( hal yang tidak pernah kulakukan sebelumnya ). Lho kok beda ? Sirup, biskuit kaleng, sampai sarung semuanya beda...lebih mahal dari yang tertera di rak dan di brosur.

Karena penasaran aku bertanya pada supervisor yang kebetulan ada di sekitar kasir. Eh, dia tidak bisa jawab. Lalu dia minta bantuan supervisor lain, dan ternyata inipun tidak menyelesaikan masalah. Tambah naik pitamlah aku. Dengan geram aku cabuti semua label harga di rak untuk semua item barang yang kubeli. Terakhir yang turun sang manager on duty. Dengan dia aku sempat beradu argumen cukup sengit. Dia tidak bisa menjawab karena semua barang yang kubeli identik dengan barcode label harga yang kucabut dari rak, dan kutunjukkan padanya sebagai bukti. Ternyata aku sudah membayar dengan harga yang lebih mahal.

Masalah belum selesai...sang manager pamit kebelakang untuk menanyakan hal ini entah pada siapa. Pada saat genting seperti ini barulah MD iseng-iseng menghitung dengan hape. Dan.....dhueng !!! Aku baru sadar kalau semua barang yang kubayar sudah didiskon, dan bahkan murah banget jatuhnya. Perutku langsung mules. Dengan gerakan cepat kulambaikan tangan pada kamera CCTV dan segera kabur dari situ. MD mengikuti dibelakangku sambil tidak henti terbahak..

Kata MD, aku kena sindrom 'out of focus' alias tidak teliti dan cenderung ceroboh. Unfortunately, kalau lagi kambuh aku sering jadi bahan tertawaan anak-anakku. Belum lagi kejadian-kejadian dudul yang lain, yang bahkan mengingatnya aku sendiri pun jadi tertawa. 

Tentang ini kadang-kadang aku prihatin  pada diriku sendiri. Sampai kapan ya penyakit ini kerasan menempel kemanapun aku pergi ?

Kutipan # 2

setiap manusia di dunia 
pasti punya kesalahan
tapi hanya yang pemberani 
yang mau mengakui,
setiap manusia di dunia 
pasti pernah sakit hati
hanya yang berjiwa satria 
yang mau memaafkan....

( song by Sherina )