Kamis, 08 Desember 2011

Pak Tua Berhape Qwerty

Tadi pagi dapat tugas dari MD untuk mengantar Arum-Dinda ke sekolah, karena MD harus membawa bapak mertua ke pengobatan alternatif pukul 5 habis subuh. Karena berhasil 'ready to go' lebih awal dari biasa, aku lebih santai; naik motor menikmati udara pagi.

Sekolah anakku yang terletak di sebuah kawasan cukup elite, sudah bisa di tebak jadi langganan macet tiap pagi. Untungnya kami naik motor, jadi bisa menyusup di sela-sela deretan ratusan mobil yang semuanya ingin berhenti tepat di depan pintu gerbang sekolah. Setelah kedua anakku masuk, aku menepikan motor dan memarkirnya di pojok dekat pos satpam sekolah, lalu duduk memandangi semua kesibukan yang kelihatan  menarik di mataku.

Diantara begitu banyak orang berlalu-lalang, tampak seorang bapak sepuh yang dari pakaiannya aku menduga ia seorang peminta-minta. Bapak ini tubuhnya ringkih, dengan tangan dan kaki berbalut daging tipis sehingga tulang-tulangnya menonjol. Samar-samar aku ingat, bapak tua ini adalah pengemis yang biasa mangkal di jalan tembus sebelah kantor Jawa Pos Karah Agung, duduk bersandar di dinding dengan mata terpejam dan tangan menengadah.

Beberapa waktu yang lalu, tiap kali pulang dari pasar, aku sengaja memutar ke jalan tembus itu untuk sekedar berbagi sebungkus nasi, air mineral, dan sebutir jeruk untuk pak tua ini. Atau di lain kesempatan aku melihat ada orang lain yang juga memberikan sebuah bungkusan dan mengangsurkan beberapa helai uang ribuan ke tangannya.

Suatu ketika aku dan Mbak Imel sengaja membawakan untuknya sebuah bingkisan, mewakili ibu-ibu Komite Sekolah . Dari kejauhan tampak pak tua sibuk meletakkan tangannya ke dekat telinga, seperti orang sedang menelpon. 
"Si Bapak lagi nelpon siapa ya ?", tanyaku penasaran.
"Anaknya kali, atau istrinya", kata Mbak Imel. Temanku satu ini top banget positif thinking-nya.
"Serius amat. Paling dia mesen-mesen ke istrinya; hati-hati di rumah, jaga diri baik-baik, jangan lupa masak sayur kesukaanku, jangan lupa bikin kopi kalau aku pulang nanti sore. Paling gitu ya", aku menebak-nebak.
"Emang istrinya kayak sampeyan, yang mesti harus dipesenin ini-itu...", jawab Mbak Imel sadis.

Pak tua buru-buru mengakhiri pembicaraan yang tampaknya asyik, begitu kami berdiri di depannya. Aku bengong dan kehilangan kata-kata. Dari cara bicaranya, dari isi pembicaraannya -yang sempat aku tangkap beberapa potong- sama sekali tidak 'match' dengan penampilan dan 'profesi' yang sedang ia jalani. Yang paling menyita perhatianku adalah hapenya. Tampak masih baru, mengkilap, dan...lho itu kan Black**** !! 

"Alamak, hapenya keren banget. Qwerty bo'...ha..ha..ha..", Mbak Imel terbahak-bahak. Tanpa sadar aku memandang hape sederhana yang ada di genggaman tanganku. Jauh banget sama punya si bapak tua. Jadi ikut tertawa juga, karena aku yang merekomendasikan bapak tua ini untuk menerima bingkisan Baksos dari sekolah. Ada-ada saja !

Dalam perjalanan pulang aku hanya bisa bergumam, "Aku enggak bakal pakai BB yang kayak gitu. Ada yang ngembarin sih..". 
Komentar Mbak Imel lebih tajam lagi, " Bapak itu lebih butuh duit buat beli pulsa daripada buat beli makanan, kayaknya". 
Whatever will be...yang penting niat kami berbagi  ikhlas dan tulus. Sisanya, terserah deh...



Kutipan # 5

When a person cries
and the first drop of tears
comes from the right eye, 
its mean happines.
But when the first roll
is from the left,
its pain...


*kemarin nangis keluar dari sebelah mana dulu ya ?...*

Senin, 05 Desember 2011

Mewek Lagheee...

Apa yang bisa dilakukan kalau hati sedang gundah ? Seperti ada sesuatu dalam dada yang menyesakkan, meremuk-redamkan dan mencabik  perasaan -bombastis..-. Kalau aku, tidak ada lain kecuali...mewek! Herannya tandon air mataku kok ya tidak pernah kering.

Aku sudah bertekad, tahun depan tidak boleh mewekan lagi. Meskipun itu artinya aku harus lebih menebalkan muka, membekukan perasaan, dan bahkan.....ck..ck..ck...kedengarannya jelek sekali ya. Apa tidak ada cara lain ? 

Padahal, menurutku, menangis itu penting untuk pelepasan beban psikologis. Karena setelah aktifitas yang menguras emosi itu kita akan kembali ke 'titik nol', plong, enteng. Aku sendiri sudah membuktikan :)) Kalau menghadapi sesuatu yang membuat aku 'terbanting' tanpa bisa kutahan pasti langsung keluar air mata, minimal menangis bombay tanpa suara.

Seperti sekarang, rasanya mau nangis tapi kok ya yang keluar malah tertawa. Point bagus ?...tunggu dulu. Nangisnya disimpan, dikumpulkan, dan diakumulasi, biar pas meletus efeknya terasa. Ah nggak sih...bercanda :)) Sesedih-sedihnya aku paling nangisnya cuma hitungan menit, untuk kemudian logikaku kembali hidup dan langsung tancap gas. Life must go on !... 


Sabtu, 03 Desember 2011

I Love Myself Just The Way I Am....

Beberapa minggu lagi tahun 2011 berakhir. Perasaan kok cepat sekali ya, seperti baru kemarin kami menghabiskan malam pergantian tahun dengan pesta kembang api, dan sekarang malam pergantian tahun berikutnya sudah di depan mata. Jadi merinding waktu aku sadar, bahwa secepat itu pulalah usiaku mengalir. 

Masih jelas dalam ingatan saat pertama kali aku masuk sekolah pada usia 4 tahun. Lalu beberapa tahun kemudian memakai seragam SD, menjadi murid terkecil di kelas dan selalu jadi korban keusilan teman-teman.  Pulang sekolah sambil menangis, sudah tidak aneh lagi buat ibukku. Beliau cuma bilang, " Kalau besok masih pulang sambil menangis, lusa dan seterusnya tidak usah sekolah." Diultimatum begitu, sekuat tenaga aku putar otak mengatasi gangguan teman-teman, dan berhasil.   

Lalu berbagai peristiwa berkelebat silih-berganti dalam ingatanku. Sambung menyambung, runtut, dan berwarna-warni. Akhirnya... disinilah aku sekarang. Seorang ibu dari dua permata -sebenarnya tiga, kalau saja jagoan kami tidak keburu diambilNya- , istri dari wirausaha sukses yang tetap rendah hati, dan teman bagi siapapun  yang membutuhkan sepasang telinga untuk mendengar keluh-kesah.

Kadang terbersit juga betapa secara fisik aku sudah jauh berubah, meskipun secara mental aku merasa semakin baik dari hari ke hari. Lihat saja, bobot tubuhku sudah melonjak 25 kg dari waktu menikah 16 tahun lalu. Gurat-gurat usia yang terpahat di wajahku, adalah harga yang harus aku bayar untuk setiap kedewasaan dan kebijaksanaan yang aku punya. Begitu juga dengan helai-helai uban yang tumbuh tanpa henti di kepala, adalah ganjaran untuk setiap moment indah yang bertaburan di sepanjang usiaku.

Suatu ketika aku pernah menyampaikan keinginan pada MD untuk mereparasi total penampakanku saat ini -penampakan ?...emang hantu-. MD melarang keras. Keputusan yang sangat aku syukuri pada akhirnya. Jauh setelah pembicaraan kami itu, aku baru sadar bahwa sesuatu yang tampak indah di luar belum tentu sama indahnya juga dengan yang di dalam. 

MD menolak lipposuct alias sedot lemak untuk badanku yang melar. Sebagai gantinya dia mendatangkan alat fitness ke rumah, dan membeli CD kebugaran  dari berbagai versi. Waktu aku risau dengan semburat putih di rambutku, dengan enteng dia menganjurkan aku mengecat rambut dengan warna merah dan sesudahnya aku selalu harus melepas kerudung di dalam rumah agar ia dapat melihat 'rambut artis'.

Dari sentilan-sentilan kecil itu aku sadar bahwa seiring usia bertambah maka fisik kita juga akan berubah. Ini adalah hukum alam, yang kalau dipahami dan di terima dengan hati bersih akan terasa sangat indah. Sungguh tidak lucu, kukira, kalau aku bertambah matang secara emosi tapi tampangku tetap secantik Arum. Atau, aku sudah semapan ini tapi badan masih setipis ABG. Bisa-bisa suamiku dikira tidak bisa memberi makan aku dengan layak

Aku bersyukur tidak terlambat menyadari, bahwa apapun yang aku punya saat ini, bagaimanapun kondisiku saat ini, adalah yang terbaik untukku. Aku bersyukur terlahir normal dan sehat -terima kasih tanganku, kakiku, seluruh anggota tubuhku-. aku bersyukur tetap bisa beraktifitas normal, tetap sehat dan bugar meskipun wajah tidak semulus artis Hollywood -Angelina Jolie, kan cantik banget :)- dan tubuh tidak seramping dua puluh tahun lalu. Ahhh....aku sangat bersyukur dengan apa adanya diriku. I love myself just the way I am...

Minggu, 27 November 2011

Satu Suro, Bubur Campur, dan Jazz Traffic Festival

Sejak hari Jum'at kemarin ada beberapa SMS masuk, mengucapkan selamat tahun baru Hijriyah. Karena hari itu ada SMS lain yang lebih menyita perhatian, lebih mendesak di baca, dan lebih menarik disimak, maka SMS 1 Suro jadi agak terabaikan. Sabtu sore setelah semua masalah  reda dan suasana tenang kembali, aku mulai membalas satu persatu ucapan tahun baru yang -jujur..- aku tidak ngeh sebelumnya. Ini mungkin bahasa halus untuk 'tidak peduli'...:)

Dini hari jam 3 tadi, antara sadar dan tidak, MD mengigau, " Ma, sekarang satu suro ya...pantesan badanku panas semua. Aduh, kerisku ilang, Ma..." Aku langsung ngakak. Sudah, bangun...bangun...ini ngelindur apa sengaja mau ngisengin aku sih ? 

Ternyata nuansa 1 Suro sampai juga ke dapur. Pagi-pagi asistenku sudah mengingatkan, " Bu, sekarang kan satu suro, biasanya orang-orang di kampung saya bikin bubur campur. Itu tuh yang pake taburan kacang, abon sama telur dadar. Kita bikin ya, Bu..". Aku bengong. Tumben...biasanya hari minggu semua aktifitas di dapur kan off, karena memang jatahnya para asisten libur. Lha ini minta bikin bubur suro segala.

Sebenarnya menurutku, makna tahun baru itu ya tidak jauh-jauh dari perbaikan diri. Istilah kerennya adalah muhasabah, introspeksi. Apa-apa yang sudah kita perbuat di tahun yang lewat, yang sekiranya bernilai merah, beraroma negatif dan berpotensi merugikan orang lain, sebaiknya segera dihilangkan. Dan segala yang mendatangkan kebaikan, membahagiakan mahluk hidup lain, mendekatkan pada harum surga, sebaiknya segera dilakukan mulai sekarang, mulai detik ini dan mulai dari yang paling kecil.


Lanjut....
Ceritanya, hari itu kami berempat menghabiskan minggu spesial sesuai rencana yang sudah kami susun sejak minggu sebelumnya. Nonton Jazz Traffic, Dinda main di Fun World, aku mencari beberapa barang kebutuhanku, dan MD mengikuti kemanapun kami bergerak sambil membidikkan kameranya. Belum lagi selesai makan, SMS masuk dari rumah. Asisten baru pamit mau pindah kerja, jaga konter pulsa berdua pacarnya. Alamak...rencana pulang malam terpaksa buyar. Aku dan MD bagi tugas. MD mengawal Arum nonton Jazz ( sampai pulang jam 1 malam ), aku menemani Dinda main di Fun World lalu pulang berdua naik taksi. Prioritas pertama adalah mengurus asisten yang memang berulah sejak sebulan lalu.

Malamnya, sambil menunggu MD dan Arum pulang, aku merenung dan melamun. Panjang dan jauh. Betapa selama setahun terakhir cobaan silih berganti datang, dalam berbagai bentuk dan warna. Seumpama orang sedang berjalan, perjalananku diwarnai onak-duri, berliku, berbatu dan berjurang. Kadang aku tersungkur, terjerembab, jatuh, tersandung dan terperosok. Tetapi di balik semua itu, yang paling aku syukuri adalah aku selalu masih diberi kekuatan untuk bangkit lagi. Dan setiap kali berhasil bangkit, aku menjadi lebih kuat dan lebih tabah dari sebelumnya.

Moment tahun baru kali ini, entah mengapa, menjadi bermakna karena aku seperti diingatkan oleh banyak kejadian di sekelilingku bahwa apapun bisa terjadi -bahkan yang paling pahit- seandainya aku lalai  dan tidak pandai mengendalikan diri. Bagaimanapun jalan yang harus kutempuh masih sangat panjang. Aku harus bisa bertahan menghadapi cobaan, dan bertahan terhadap godaan kenikmatan. Yang terakhir ini lebih sulit, mengekang hawa nafsu dan keinginan untuk selalu bersenang-senang itu bukan perkara mudah, kan :)) Tapi intinya, aku berjanji pada diri sendiri bahwa tahun depan harus lebih baik, lebih baik, dan lebih baik. Semoga...

Jumat, 25 November 2011

Pelajaran Dari Masa Lalu

Seorang teman mengirim SMS dengan berita yang menggetarkan hati. Mohon didoakan  agar mendapat kekuatan menghadapi serangan teror SMS dari mantan pujaan hatinya di masa lalu. Sepagi ini, otakku sudah diajak 'jogging', membayangkan apa sebenarnya yang pernah terjadi diantara mereka, menimbang-nimbang perlu tidaknya aku mendoakan dia -karena siapa tahu sebenarnya dia yang paling banyak andil salah-, dan berusaha menahan diri untuk tidak berkomentar terlalu banyak pada masalah pribadinya.

Sepanjang yang aku tahu, temanku ini orang yang sangat teguh memegang komitmen. Menyayangi dan menghargai pasangan, cinta pada keluarga, dan mendedikasikan hidup sepenuhnya untuk masa depan anak-anaknya. Kalau sekarang ia dihadapkan pada kenyataan bahwa ada seseorang dari masa lalu yang berniat 'menggugat' dan ingin merebut kembali memori yang pernah mereka jalin, menurutku itu hanya ujian untuk semua ketegaran dan keikhlasan yang ia jalani.

Masa lalu itu milik semua orang, yang -sayangnya- tidak bisa seenaknya kita hapus atau kita ubah jalan ceritanya. Menyesali masa lalu juga bukan tindakan bijaksana, karena bisa jadi kedewasaan kita hari ini adalah buah dari pengalaman pahit kita di masa lalu. Semua yang pernah terjadi di masa lalu, mungkin hanya bisa kita lipat rapih dalam ingatan, dan menyimpannya di sudut hati. Jangan pernah di buka lagi. Jangan pernah ingin di tengok-tengok lagi. Karena kita tidak pernah tahu seberapa kuat kita berhadapan dengan masa lalu.

Bagaimana dengan SMS yang bertubi-tubi ? Aku hanya bisa bilang; tidak usah dibalas, toh sudah sama-sama tahu bahwa sekarang situasinya berbeda. Sampaikan permintaan maaf untuk semua kesalahan yang mungkin terjadi di antara kalian. Setelah itu, STOP ! Kalau perlu menghilang saja dari kehidupan dia, ganti nomer hape, blokir akun fb, atau apa sajalah...yang penting semua jalur kontak diputus ! Itu kalau memang benar-benar ingin melepas masa lalu, dan fokus meraih masa depan.

Masalahnya temanku ini terlalu baik, mau saja meladeni hal-hal tidak penting meskipun itu sangat merugikan dirinya. Ujung-ujungnya kebingungan sendiri. Tidak sepenuhnya salah memang, karena siapa tahu 'perasaan lain' masih tetap ada meskipun semu. Bagaimanapun, tersambung lagi dengan mantan -mungkin- terasa mendebarkan hati. Tapi sebenarnya ini adalah awal dari bencana *maaf, sok tahu nih..* Sekarang tinggal bagaimana pintar-pintarnya kita menghindar agar bencana itu tidak terjadi. Nah, di titik ini aku memutuskan untuk mendoakan dia; semoga dia diberi kekuatan untuk tetap melangkah ke depan, terus kedepan, dan tidak tergoda untuk menoleh lagi kebelakang.

Rabu, 23 November 2011