Nah, tadi siang aku kembali dikejutkan oleh warning di hape, masa tenggangku hampir habis sementara pulsa masih 20ribuan lebih. Mau diapain ini pulsa ? Iseng kutelepon Mbak Elda, koncoplek yang semakin jarang bertemu karena kesibukan kami masing-masing.
Ada yang menarik dari pembicaraan kami kali ini. Tentang kenyataan bahwa aku merasa sudah sedemikian tinggi dan masih tetap berharap bisa mendaki lebih tinggi lagi. Aku bilang ke Mbak Elda, mungkin aku tidak akan kuat menahan terpaan angin kalau terus-menerus menuruti kata hati. Ibaratnya, semakin tinggi pohon semakin kencang pula angin yang menerpa.
Tapi apa jawaban Mbak Elda ?
Manusia wajib berikhtiar untuk mencapai derajat tertinggi dalam hidupnya. Setinggi mungkin, sejauh yang mampu ia lakukan. Sekencang apapun angin yang bertiup di atas sana, tidak ada artinya kalau kita berpegang kuat-kuat pada Illahi Rabbi. Menyandarkan seluruh hidup dan mati kita hanya padaNya, dengan menancapkan kuat-kuat akar iman dan taqwa pada segala ketentuanNya.
Jadi, semakin tinggi pohon semakin kencang pula angin yang menerpa bukanlah ancaman. Tidak perlu ragu untuk menempa diri meraih yang tertinggi, karena dengan berada di posisi yang tinggi akan banyak sekali yang bisa kita lakukan untuk sesama.
Kalau kita berkelimpahan materi, berarti sedekahnya bertambah, zakatnya meningkat, solidaritas pada sesama semakin tinggi. Ada banyak orang yang bisa mengambil manfaat dari keberadaan kita di dunia ini. Hal sebaliknya terjadi jika kita berada di posisi tidak terlalu tinggi, meskipun ukuran itu sangat relatif.
Subhanallah...mengapa selama ini tidak pernah terpikir olehku ya ? Yang ada adalah aku sibuk menyadarkan diri untuk tidak lalai dan lupa diri sambil setengah menahan langkah menapak terlalu tinggi, demi menghindari terpaan angin.
Terima kasih, Mbak Elda; obrolan kita siang ini sangat membekas di hati dan... di kupingku, karena panasnya hape saking lamanya nelpon...hahaha...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar