Beberapa bulan terakhir ini aku punya kesukaan baru; mengoleksi batik tulis dari berbagai daerah di Indonesia. Awalnya waktu menemani kolega berburu batik di sebuah sentra batik di Tuban, aku perhatikan ternyata motif-motifnya begitu menarik. Aku jadi ingat kalau beberapa bulan sebelumnya, aku pernah membeli sepotong batik tulis halus motif klasik di sebuah toko souvenir di Lasem - Rembang. Dari situ aku mulai keranjingan membeli batik tulis halus berbagai motif.
Karena sering ikut suami ke pabrik di Madura, aku jadi suka juga berburu batik tulis Madura. Keunggulan batik ini ada pada keanekaragaman motif dan keberaniannya mengaplikasikan warna. Motifnya kebanyakan binatang, seperti ayam bekisar, dan berbagai macam binatang laut.
Ada juga batik Cirebon. Aku memperolehnya dari sebuah pasar tradisional di pusat kota Cirebon, dan di sentra batik tulis Trusmi. Batik Cirebon warnanya lebih soft, motifnya cenderung kontemporer dan unik. Yang paling berkesan adalah Seri Cerita Bergambar. Kalau kain batik ini dibentangkan, akan nampak seperti komik. Gambarnya mengandung cerita. Sempat terpikir untuk membingkai saja, supaya bisa dinikmati keindahannya. Tapi kemudian aku sadar bahwa tindakan itu konyol sekali dan penuh kemubaziran. So, aku bawa ke tukang jahit dan membuatnya menjadi gaun.
Yang sekarang menjadi incaranku adalah batik Indramayu atau lebih dikenal dengan nama batik Dermayon. Sudah berancang-ancang meluncur ke Indramayu dalam waktu dekat, sebenarnya. Dari Indramayu sekalian mau mengubek-ubek Tasikmalaya, yang kabarnya punya batik khas juga. Tapi kendala kesibukan lagi-lagi membuyarkan semua rencana.
Surabaya, kotaku tercinta, punya batik tulis juga lho. Namanya Batik Mangrove, karena menggunakan pewarna alami yang terbuat dari bagian-bagian pohon mangrove. Misalnya warna coklat, diambil dari akar mangrove yang ditumbuk. Hijau, dari daun mangrove tua yang direbus. Dan merah, dari getah biji mangrove yang sudah rontok. Menarik kan ?... Tapi sayang aku belum punya sepotongpun batik jenis ini. Selain karena motifnya kurang 'berani' --yang ini murni soal selera-- yang jadi kendala adalah harganya...mahal banget...ha..ha..ha..
Kalau Batik Sidoarjo lain lagi. Aku belum ingin mengoleksinya karena belum menemukan motif yang sesuai seleraku. Menurutku, sepintas, motif batik Sidoarjo mirip-mirip dengan batik Madura. Padahal koleksi batik Madura punyaku lumayan lengkap. Ada batik Pamekasan, Bangkalan, dan Sumenep. Sekarang sedang menabung untuk membeli batik Madura Gentongan, yang harganya sekitar lima juta. Aku melihatnya di sebuah toko souvenir, dan batik itu luar biasa cantik. Dinamakan batik Gentongan karena proses pewarnaannya dengan cara diperam dalam gentong tanah liat selama empat bulan. Jadi warnanya tetap cemerlang meskipun disimpan puluhan bahkan ratusan tahun. Luar biasa...
Ini dia sebagian dari koleksiku. Belum terlalu banyak dan tidak semuanya batik tulis. Sebagian kecil adalah batik cap, yang tetap memakai lilin malam, tapi motifnya unik. Sehingga menurutku layak juga untuk dikoleksi.
Cantik-cantik kan... Ada lagi lho Batik Gresik. Yang ini aku naksir berat, waktu kemarin melihatnya di sebuah toko batik di salah satu mall. Motifnya khas Gresik, yaitu Pasar Bandeng dan Damar Kurung. Sayang sekali waktu itu aku sedang tidak membawa cukup uang, dan MD enggan meminjamkan credit card-nya untuk kugesek. Yaa...belum jodoh mungkin.
---











Tidak ada komentar:
Posting Komentar